Friday, 25 March 2016

TK di Australia: Calistung sejak dini dan ada PR setiap hari (!!)

 Judul bombastis biar yang baca penasaran (tapi ini beneran heu...)

Catatan sebelum baca post ini:
1. Di Australia, TK (Kindergarten atau Year 0) masuk/jadi satu dalam primary school. Jadi di sini (at least di state New South Wales) di primary school itu ada 7 tingkat yaitu Year 0 sampai Year 6. TKnya cuma setahun, setelah itu masuk kelas 1 / Year 1.
2. Batas usia masuk TK di New South Wales adalah 4.5 tahun. Ini termasuk paling awal dibanding state lain di Australia.
3. Keputusan kami memasukkan Hanif di saat usianya cukup muda untuk memulai primary school (ya 4.5 tahun itu tadi) adalah alasan biaya: kami merasa sudah cukup 3 tahun mengeluarkan dana  $100 setiap hari untuk childcare, tahun ini saatnya Hanif sekolah (bebas biaya karena kami mahasiswa PhD).

Kalau mau baca cerita lengkap ada di sini.

* * *

Sampai dengan awal tahun ini, aku mungkin termasuk orang yang percaya bahwa pelajaran di Indonesia itu lebih susah daripada di negara-negara lain macam Jepang atau Australia. Tentu saja ini juga setelah mendengar cerita-cerita orang-orang (biasanya dosen-dosen) yang baru kembali dari tugas studi di luar negeri, lalu mengeluh dengan pelajaran anak-anaknya di sekolah Indonesia. Dan tentu saja ditambah baca-baca share-sharean di Facebook yang cerita semacam "Di sini [isi nama negara maju] kami lebih peduli apakah anak-anak kami pandai mengantri dibanding apakah anak-anak kami pandai matematika.." dsb dsb...

Suamiku, sebaliknya, yakin bahwa target kompetensi sekolah di Australia dan Indonesia adalah sama, kalau bukan malah lebih berat. Yang beda adalah caranya, baik cara pengajaran, pembelajaran, dan pengujian.

Setelah mengalami jadi ortu anak sekolah dasar selama 2 bulan, sekarang aku sependapat dengan suamiku. Sejak awal aku sudah merasa seperti itu, saat di orientasi sekolah tahun lalu, dibagi brosur target literasi dan numerasi untuk anak TK, salah satu akhirnya adalah bisa membaca dan menulis kalimat, serta bisa menambah dan mengurang bilangan.

Menanamkan kegemaran membaca, bukan "hanya" belajar membaca

Untuk Hanif sendiri, aku pernah cerita di post ini tentang bagaimana sedikit-sedikit aku ngajarin Hanif baca (aku ga ngajari nulis, btw). Nah proses gurunya ngajarin di kelas gimana, aku ga bisa tahu detail, karena hanya mengandalkan cerita dari Hanif. Aku sih yakin setiap hari pasti ada sesi dibacakan buku cerita oleh gurunya. Setiap minggu ada sesi berkunjung ke perpus sekolah, di mana murid-murid akan dibacakan cerita oleh pustakawannya, dan tentu saja boleh pinjam buku. Oya, aku juga tahu kalau di kelas murid-murid sering diajak nyanyi lagu ABC dan lagu phonics (untuk memudahkan cara baca dalam bahasa Inggris), karena Hanif sering banget nyanyi lagi ini di rumah.

Para ortu sudah diberi info bahwa mulai minggu ke-6, akan ada "homework" alias PR setiap hari. PRnya apa? Baca buku. Buku apa? Kayak gini nih hehe...

"It is hot." "Sam is hot."
Eaaaaa, gampil banget kan? 


Iyaaaa jadi yang tahun lalu aku sempet horor gara-gara tau kalo masuk sekolah nanti bakal ada PR tiap hari, sekarang ga horor lagi. Karena PRnya "cuma" baca buku yang super duper pendek dan gampil, paling-paling 1-2 menit kelar lah itu buku . "PR membaca"nya bebas, boleh ortu bacain anak, boleh anak yang baca sendiri, boleh gantian, anything lah! Yang penting bukunya dibaca. Oya, ada buku khusus untuk mencatat kegiatan membaca hari itu. Untuk kelas kecil kayak Hanif, cukup menulis judul buku, kesan pesan () dalam tulisan dan gambar. Kayak gini tampilannya.

Buku untuk mencatat judul buku PR baca dan kesan pesannya.
Ga ada ketentuan sih siapa yang harus nulis kesan pesan. Tapi kadang Hanifnya pengen nulis n gambar sendiri, jadinya yah begitulah  *acak adut*.


Tiap minggu gurunya juga bakal tulis komentar di buku ini. Janjinya sih bakal ada award-award gitu. Jadi dapat award kalo udah baca 25 buku, 50 buku, dst.. Belum tahu awardnya apa (paling-paling stiker dan semacamnya yes ). Sampai dengan hari ini Hanif udah baca 17 buku PR harian. 17 buku itu buku PR harian lho ya (yang pendek-pendek itu tadi). Itu ga termasuk buku-buku cerita yang kita bacain di waktu lain (sebelum tidur / waktu nyantai).

Untuk tulis, Hanif udah diajarin tulis-tulis. Dia sempet bilang istilah "uppercase" dan "lowercase", lalu "full stop", dll, oh jadi udah diajarin teori-teori menulis gitu ya. Untuk menulis ini sekarang Hanif megang pensilnya masih belum bener. Kemarin aku ngobrol ama gurunya, katanya ya diperbaiki sambil jalan.

Untuk berhitung, yang aku tau Hanif pernah nyanyi-nyanyi lagu angka-angka 1 sampai 100. Lalu pernah nyanyi lagu berhitung mundur. Terus akhir-akhir ini suka main tambah-tambahan dan kurang-kurangan pake jarinya. Oke lah jadi ya gitu-gitu yang diajarin di kelas. Sama nyanyi lagu bentuk-bentuk bidang datar. Aku ga sengaja merhatikan, ternyata semua yang diajarkan itu diprint dan ditempel gurunya di map PRnya:



 Nah, gimana, setuju kan? Di sini pelajaran juga sama kayak di Indonesia. Cuma ya itu... caranya beda..

Aku lupa pernah baca di mana gitu ya, ada yang heran kenapa minat baca anak-anak (dan orang-orang) Indonesia rendah? Padahal sudah diajarkan baca sejak dini. Nah kalo kata suamiku itu tadi, caranya... Tapi akhir-akhir ini kayaknya (at least di FBku hahaha) kayaknya orang-orang sudah mulai menanamkan semangat gemar membaca sejak dini, Sempet liat beberapa kali share-sharean perpustakaan-perpustakaan di Indonesia. Bagus lah, semoga sukses..

Jadi syukurlah, pengalaman sempat menyekolahkan anak di sini ini adalah pengalaman yang sangat berharga. Sayang cuma sebentar, tapi semoga banyak pelajaran yang bisa didapat. Temen-temen yang berkesempatan merasakan pengalaman bersekolah di sini yang lebih lama, bahkan membentuk gerakan sekolah menyenangkan untuk menularkan hal positif ini ke Indonesia. Semoga berhasil, semoga anak-anak di Indonesia bisa merasakan pengalaman belajar sebagai sesuatu yang menyenangkan..

Note. Kalau tertarik pengen intip kurikulum sekolah Australia, sepertinya ada di sini (aku juga ga pernah buka ini sebelumnya wkwkwk...).





4 comments:

  1. Yeah, Rina is hot too! heuh..beda konteks-nya ya :D hahaha..gagal fokus! anyway, thank you for sharing silabus-nya NSW ya, Jeung. jadi bikin gw penasaran untuk baca lebih lengkap kurikulum Australia secara keseluruhan (ketemu neh PDF-nya), yang tentunya berbeda dengan yang di-share di post atas...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah I know right!? hahaha..
      Was thinking of inserting striked-through text such as "Ewan McG is hot" or something like that...xD
      And yes I just realise you're now dealing with this syllabus thing! Would love to hear things from you..

      Delete
  2. Hi Vita,

    Seneng banget baca cerita tentang Hanif dan pengalaman keluaga di sana. Di Indonesia anakku sekolah di swasta dan ga jauh beda programnya sama di sana, kelas 1 sd lebih ke pendidikan karakter dan pondasi dasar agama.

    Betah banget bw di blognya, ceritanya seru dan mengalir.

    Warm regards,
    Zia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Zia!
      Iya kmrn juga sempet baca2 sedikit cerita tentang Vito (bener ya namanya :p). Aku skr lagi seneng baca2 cerita tentang pengalaman sekolah awal2 di Indonesia, untuk perbandingan dan persiapan :)

      Delete