Friday, 18 December 2015

Masa Itu



Hari ini akhirnya aku dan Irfan mengalami satu tahap yang mungkin sudah dilalui orangtua lain: menjemput anak di hari terakhirnya "sekolah". Setelah tiga tahun menghabiskan sebagian besar waktunya di Tigger's, hari ini adalah hari terakhirnya, karena tahun depan dia akan masuk TK.

Sejak beberapa hari yang lalu kami sudah beberapa kali bicara dan mengingatkan Hanif bahwa minggu ini adalah minggu terakhir dia pergi ke Tig's, Meskipun begitu, tetap ada perasaan aneh, terharu, dan hampir tidak percaya di pagi dan sore ini saat kami mengantar dan menjemputnya. 

Pagi ini saat kami mengantar dia menyusuri tanjakan (ramp) dari tempat parkir menuju centre, aku ingat hampir tiga tahun yang lalu, di bulan Februari - Maret, masa-masa awal Hanif masuk childcare, dia duduk di stroller dan aku mendorong menaiki tanjakan ini. Setelah masa orientasi seminggu (ditemani aku), di hari pertama dan kedua dia sangat antusias. Tidak ada masalah saat kami tinggal. Tapi di hari-hari selanjutnya, Hanif mulai nangis, tidak mau berpisah. Kata orang-orang, honeymoon period telah usai. Aku masih ingat, di minggu selanjutnya, ketika stroller sudah hampir diparkir dan kami siap-siap masuk, dia mulai nangis. Yang sebelumnya nangisnya setelah masuk ke dalam, jadinya nangis saat masih di luar centre. Di usianya yang masih 1.5 tahun itu, dia menangis sambil berkata "Bubu.. Bubu..", mungkin berharap ibunya tidak pergi meninggalkannya bersama anak-anak dan orang-orang asing dengan bahasa yang tidak dia pahami.


Dua minggu pertama ibu director menenangkan kami dan menjelaskan bahwa periode ini bisa berlangsung sampai sebulan. Setelah sebulan lewat dan Hanif masih terus menangis, bahkan di tengah hari di centre, kami pun berdiskusi untuk membahas strategi yang perlu dilakukan, karena ini tidak biasa. Salah satunya, kami perlu mencoba mengurangi durasi Hanif ditinggalkan di childcare. Walaupun Tigger's buka mulai jam 8.15 sampai jam 6, kami disarankan meninggalkan Hanif selama 4 jam saja dulu selama seminggu, yaitu jam 10 sampai jam 2 siang atau sampai dia bangun tidur siang. Setelah itu, berangsur-angsur durasi ini ditambah. 

Aku masih ingat, hal itu cukup membuat kami stress. Saat itu kami masih berjuang (dan gagal) mendapatkan diskon pembayaran, sehingga setiap hari kami harus membayar full sekitar 100$ setiap hari. Dengan biaya semahal itu, kami diminta menitipkan Hanif hanya 4 jam saja? Aku curhat ke teman dan malah mendapat pertanyaan, "Lha neng kantor enthuk opo mung kerjo petang jam?" (Lha di kantor dapat apa hanya kerja empat jam). Owalah, sebagai mahasiswa PhD anyaran aku semakin stress, tapi saat itu aku mikir, lha masak aku mengorbankan anak.. Ini bukan coba-coba, kami khawatir dampaknya besar kalau kami paksakan dia ditinggal full time. Dan selama 2 bulan itu, kami meninggalkan dia dengan durasi yang semakin lama semakin panjang. Selain itu, kami juga menyampaikan ide, meminta gurunya mengambil foto Hanif selama dia dititipkan, sekaligus bersama teman-temannya dan guru-gurunya. Kami cetak foto-foto itu dan setiap ada kesempatan kami tunjukkan foto-foto itu ke Hanif sambil bercerita tentang asyiknya bermain di childcare. 

Selama tiga tahun ini, yang aku ingat lainnya adalah di awal tahun ini. Hanif sering mogok diajak berangkat ke childcare, kadang sampai nangis. Gurunya sih cuma bilang "Yah sama seperti kita, kadang jenuh juga kan dengan kerjaan, kadang males nggak pengen ngantor.." :D hehe.. Strategi yang mirip kita terapkan, yaitu mencetak foto-foto Hanif selama ditinggal di childcare, bahkan narasi dari gurunya juga kita cetak. Dia suka dan sering minta dibacakan seperti buku cerita. 

Menjelang akhir tahun ini, dia suka sekali menggambar. Aku bahkan sudah pengen bikin post khusus tentang hobi baru Hanif ini, tapi nggak sempat-sempat sampai udah basi, hiks.. Dia kadang-kadang masih suka mogok berangkat ke childcare, tapi kalau diingatkan "nanti di childcare bisa nggambar lho.." dia langsung semangat berangkat. 

Hari ini kok kebetulan kita jemputnya agak belakangan (seperti biasanya sih.. Tapi berhubung hari ini hari terakhir, kita rencana jemput awal, tapi rencana tinggallah rencana... ). Hanif dapat satu tas hitam berisi folder dia (rekaman kegiatan dan perkembangan dia selama di childcare) dan... buku cerita! Aku nggak tau apakah anak-anak lain juga dapat buku cerita. Di dalam ada tulisan guru-gurunya, aku belum baca karena takut terharu, hahaha... Aku cukup terharu waktu kita jalan keluar lorong Tigger's seperti biasanya.. So it is real.. The last day walking through the foyer.. Aku coba ingat-ingat dan membandingkan jaman aku dulu ngajar musik. Aku ingat di hari-hari terakhir aku ngajar sebelum resign kita-kita juga terharu. Ya selama 6 tahun ya.. walaupun ketemunya cuma seminggu sekali, sejam, tapi 6 tahun itu bikin ikatan kita cukup kuat dan dekat. Aku sempet dikasih surprise kue ultah juga pas hari itu. Apalagi di Tigger's ini... hiks hiks... 3 tahun (temen-temen Hanif ada yang 4-5 tahun malahan). Tiga tahun, hampir setiap hari, dan setiap harinya 8 jam loh.. Duh terharu aku. 

Hari terakhir di Tigger's ini juga mengingatkan kita, nantinya akan ada juga hari saat kita harus pindah dari Sydney dan pulang kembali ke Indonesia.. Itu semakin bikin hari ini lebih emosional deh.

Oke, libur panjang di depan mata (libur sekolah lebih panjang daripada libur childcare, bok). Ya Allah berkahilah kami semua, semoga sukses untuk semuanya.

5 comments:

  1. Aku kok melu nahan napas mbacane Vit. Fiuuh. Semoga dilancarkan yaaaa ke depane.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah beneran Dan, sulit digambarkan rasanya.. Ini ga pindah2 loh childcarenya selama 3 thn. Ntar kamu juga gitu be e kalo anakmu dah "lulus" dari daycarenya

      Delete
  2. hanif ya ampuuun iku fotone imut banget! I love you hanif meski hanif mgkn ga inget lagi sama tanteu tykeuw!

    ReplyDelete