Tuesday, 24 November 2015

Rezeki hadir dari mana saja, dalam bentuk apa saja

Ternyata aku sudah berniat ingin tulis ini sejak tahun 2014, lalu tempo hari sempat janji sama Ryan tapi belum kesampaian sampai sekarang. Inti tulisan yang sebagai pengingat untuk diriku sendiri, syukur-syukur kalau bisa bermanfaat untuk yang lain yang baca.

Berawal dari cerita di tahun 2013, saat aku mulai kuliah S3 bersama Irfan yang sudah setahun menempuh S3, bersama Hanif yang masih 1.5 tahun. Sejak berniat untuk ikut kuliah bareng (demi ngumpul, karena ga mau LDR :P) kami udah rencana nitipkan Hanif di childcare. Kami udah tau kalo biaya childcare sangat mahal (jaman segitu $90an per hari, yes sekali lagi, aku ga salah tulis angka yes.. :P ) dan harus mengandalkan diskon (yang namanya Childcare Benefit / Rabat, CCB / CCR). Kami juga udah tau kalo mahasiswa asing yang berhak mendapatkan diskon itu adalah yang beasiswanya dari pemerintah Australia. Karena Irfan udah terlanjur studi dengan beasiswa pemerintah Indo, aku juga sempat berencana apply beasiswa kampus/Ausaid, tapi akhirnya ga jadi karena...suatu alasan yang nanti diceritakan di post lain :P . Singkat cerita, akhirnya aku pun berangkat studi dengan beasiswa yang sama seperti bapak Irfan. Inipun setelah tanya sana sini dan ternyata ada lima orang teman dengan beasiswa Indonesia yang bisa dapat CCB ini. Kata mereka, ada perkecualian dalam peraturan CCB ini, sehingga mereka pun berhak dapat berdasarkan peraturan ini.

Sampai di sini, setelah (syukurlah) akhirnya Hanif bisa masuk childcare, kami pun apply CCB ini... dan... ditolak!! Kami masih pede untuk mengajukan appeal (banding), karena dari 5 orang yang tadi aku ceritakan, 2 orang di antaranya ditolak di pengajuan pertama dan sukses di appeal pertama. Ternyata di appeal pertama ini pun kami...gagal lagi! Keputusannya tetap: kami tidak berhak mendapatkan diskon. Padahal, kami sudah mengajukan appeal dengan alasan yang kurang lebih mirip seperti 2 orang yang tadi: Karena permasalah biaya (istilahnya financial hardship). Beasiswa aku dan Irfan masing-masing $1750 per bulan. Untuk childcare 4 hari (4 hari aja loh.. karena kita ga kuat bayar 5 hari) = $90 x 4 hari = $360 per minggu = $ 1440 per bulan untuk 4 minggu atau $1800 per bulan untuk 5 minggu (ini seingatku loh.. Seingatku di atas $90 deh dulu T_T, tapi aku lupa persisnya). Sehingga kasarannya, kami bertiga harus hidup dengan beasiswa untuk 1 orang saja karena hanya itu yang tersisa setelah dipotong childcare. Sebagai gambaran, tempat tinggal ndutyke yang cuma seuprit tapi namanya The Grand itu sewanya $350 per week (akyu juga ga salah nulis loh ini... per week ya... bukan per month :3 T_T ). Jadi..ya...silakan dikalikan sendiri ya.. T_T


Saat appeal kedua itu, sang "hakim" bilang kepada kami, permasalahan biaya ini sebenarnya adalah sesuatu yang sudah bisa direncanakan, jadi tidak masuk kategori financial hardship. Kasarannya, kalo lo ga mau kena permasalahan biaya, ngapain suami istri dua2 sekolah di ostrali? mending sekolah di indo aja.. atau datangkan kek orang tua lo utk ngurus anak lo..
T_T
Tapi kami menyampaikan, kepindahan kami ke Ostrali ini juga karena sudah ada pengalaman at least 5 orang (menurutku banyak loh ini...hiks..) dengan beasiswa dan kondisi keuangan persis seperti kami, mereka semua dinyatakan berhak dapat CCB ini.. yang oleh ibu "hakim" dijawab "mungkin saat itu petugasnya tidak mengerti."

Aku sempat agak lama berada di fasa "gak terima" dan "ngerasa ini gak adil". Kenapa yang lain dapat dan kami nggak? Ketika pelan-pelan mulai nyadar, dan mulai ingat ayat-ayat yang sering dishare orang-orang, "Allah does not burden a soul beyond its capacity". Dan aku pun berusaha melihat sisi positif permasalahan kami. Mungkin keluarga kita memang dianggap Allah "lebih mampu" mengatasi permasalahan biaya ini daripada keluarga 5 orang yang tadi? Mungkin memang "kapasitas" / "jatah" rezeki dalam bentuk uang memang segitu, tapi ada kompensasi dalam bentuk yang lain?

Pelan-pelan aku mulai bisa menerima. Walaupun bukan sekali dua kali kami harus mengambil tabungan di Indonesia untuk menambal kekurangan uang. Dan memang:

Saat satu pintu tertutup, pintu lain terbuka.
Sebelumnya, saat kami mengajukan appeal kedua, kami minta surat dukungan dari pembimbing kami masing-masing. Boss ku (alias pembimbingku, hehe..) akhirnya tau permasalahan ini yang aku nggak pernah cerita sebelumnya. "Nanti kalau sudah ada hasil appealnya seperti apa, kasih tau saya ya." katanya. "Kalau sukses, bagus. Kalau gagal, mungkin saya bisa membantu sedikit meringankan beban keuanganmu." Alhamdulillah.. Janjinya sedikit meringankan pikiran saat itu. Ketika akhirnya aku bilang kalau appealnya gagal, dia menepati janjinya, bilang kalau dia bisa kasih sedikit support lewat skema top up scholarship, tapi baru bisa mulai tahun 2014. Akhirnya mulai tahun 2014 aku dapat sekitar 1/3 biaya childcare. 

Hikmahnya, aku jadi ngerasa hutang budi ama beliau wkwkwk... Dan aku lebih ngotot dalam bekerja / studi. Aku juga terpacu menunjukkan performa yang memuaskan supaya di tahun 2015 pak boss gak segen ngasih support scholarship lagi. (Syukurlah di tahun 2015 pak boss setuju ngasih support lagi, padahal biaya childcarenya naik lho.. gila pokoknya T_T).

Jadi nggak dapet diskon lewat CCB, tapi oleh Allah diskonnya dilewatkan pembimbing. Hikmah tambahan, jadi terpacu menjaga hubungan baik ama pembimbing dan menjaga prestasi studi. (Hikmah lain, ga terlalu nelongso walopun tipe boss ku ini tipe yang cuek banget dan "ngelepas" muridnya.. Dicuekin gpp yang penting duit jalan terus wkwkwk...).

Datang dalam bentuk apa saja.
Pelan-pelan juga aku akhirnya nyadar: ya ampun... ternyata sewa rumahku ini murah banget! Aku tadi udah cerita kan, kamar kos tempat tinggal ndutyke n suaminya, berupa kamar kecil kayak hotel gitu, dapat fasilitas dapur bersama, sewanya $350 per week di luar listrik dan internet ya. Di daerah kita, umumnya di atas itu dikit dapat apartemen tipe studio, lalu untuk tipe 1 bedroom biasanya $400an dan tipe 2 bedroom $450an. Nah keluarga kita tinggal di apartemen 2 bedroom dengan harga sewa....(eng ing eng)... sama kayak harganya kamar kos tempat tinggal nya ndutyke!! @_@
Wow.. Tinggal bandingkan saja ama harga pasaran, berarti tiap minggu kami hemat $100, dan tiap bulan kami hemat $400 atau $500! Lah... itulah rezeki yang tak terlihat mata, tak tampak dalam bentuk uang, tapi tetap harus disadari dan disyukuri... betul? (betul pak Mario.... xD).

Belum lagi penghematan lainnya karena rumahku ini pake gas untuk kompor dan air panas (lebih murah daripada yang pake listrik). Saking ga pernah nya ngerasa bayar listrik n gas mahal, kadang gak ngeh kalo lagi main ke rumah temen terus liat ada kertas ada tulisannya gede isinya daftar jam-jam beban puncak (yang harga listriknya tinggi) dan ada tulisan dilarang masak/vacuum clean/mandi/pake mesin cuci/dll saat jam-jam itu. Waaah... jadi semakin bersyukur aja sama rumah super jadul ku ini. 

Aku jadi lebih "membuka mata" terhadap hal-hal yang kadang kita terima begitu saja (terjemahannya take for granted bener gak sih? xD). Ibuku tuh yang sering ingetin tentang kesehatan. Disyukuri...disyukuri... gitu katanya. Tahun 2014 dulu kan ke Singapur, aku sewot gara-gara harga hotelnya mahal banget, bahkan dibanding Ostrali. Aku bilang "masak per malam $100an lebih, kamarnya kecil banget" yang dijawab ibuku "Nggak papa kan kitanya sehat dan ini berlibur.. ada temennya ibu masuk rumah sakit udah seminggu lebih, sama juga per hari 1 juta, ya mendingan kita kan? Disyukuri.. disyukuri..." begitu deh kata mama :p. Dan ternyata memang buanyak hal yang patut disyukuri, anak yang nurut (kalo pas nurut T_T), suami yang ga aneh-aneh (wkwk..), dsb dsb.. (dan aku mulai mencoba aktif kembali menulis gratitude list).

Jatah Rezeki
Eh kepanjangan ga sih postnya? Tapi ini sekalian, mumpung nyambung hahaha.. Sejak sadar tentang konsep "jatah rezeki" ini aku juga lebih santai terkait rezeki / uang / materi. Gak pernah terpikir berbuat curang-curang / nyolong-nyolong kayak gini karena, ya materi yang kita dapat dari cara curang, pasti nanti ilang menguap juga. Kalo emang "jatah rezeki" nya "segini", mau ditambah dengan cara curang, misalnya, pasti tetep berkurang (dan biasanya dengan cara yang ga enak) jadi sesuai "jatah awal"nya :S. Tempo hari juga sempet rumpi ama ibu-ibu Kingsford, gara-gara aku baru tau kalo anak di atas 4 tahun harus bayar tiket bis.  Selama ini ga bayar karena mikirnya wajib bayar untuk 5 tahun ke atas.. Sempet kepikir juga ga usah beli tiket untuk Hanif lah "halah siapa sih yang tau / tanya" tapi terus mikir, lah "jatah" / kewajiban kita kan untuk bayar? Itu peraturannya. Kalaupun kita bisa menghemat uang (sedikit) karena ga bayar tiket anak kita, uang itu juga jatuhnya ga berkah dan bisa ngefek buruk loh ke keluarga kita (hal ini juga dikatakan umi Mala :3 kesayangan ndutyke :P ).

Dan pemahaman ini secara ga sadar akhir-akhir ini aku terapin ke hal lain loh, bukan cuma materi aja. Aku kan lagi sebel-sebelnya baca paper-paper yang self plagiat, pokoknya curang lah. Tapi biarpun sebel aku berusaha menerima, bahwa segala sesuatu yang dapetinnya dengan jalan yang ga bener / curang, biasanya gak berkah... termasuk paper itu tadi. 

Yah, semoga segala sesuatu yang kita rencanakan, pikirkan, lakukan, selalu dibimbing Allah dan berkah ya.

12 comments:

  1. Panjang beud bu tulisannya. Tapi inspiratif banget Vit.

    Memang kita gak pernah tahu ya rejeki kita seperti apa nantinya. makasih loh Vit dah sharing soal ini. Melegakan gw dikit. moga gw bisa lebih bersyukur yang belakangan ini susah banget gw lakukan karena satu dan lain hal. Bawaannya gw ngedumel mulu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya yg ngingetin aku tuh ibuku Yan.. Suka kirim share2an yg motivasi2 gt lewat whatsapp atau FB gitu..
      Btw, katanya ortu/sodara/teman yg bs saling mengingatkan (ke arah yg baik) itu hal yg patut disyukuri juga lho... :P

      Delete
  2. STUDENT ACCOMODATION. bukan kos, bhahahahak.....

    ReplyDelete
  3. Bentar ya, Vit... gw mau mengucapkan Amiiin utk kalimat penutup post lo :) Ini post-nya lumayan panjang ya, bow.. gw sampe bingung mau mengomentari apa. Hehe! Intinya gw setuju sama poin2 yg lo sampaikan. Gw salah satu yg percaya bahwa Allah memberikan apa yg kita butuhkan. It's not always about what we want, it's about what we need. And God has given us all the things we need, right ;) Aah, ini komentar panjang dan ngelantur! Hehe. Bentar ya, Vit... gw mau mengucapkan Amiiin utk kalimat penutup post lo :) Ini post-nya lumayan panjang ya, bow.. gw sampe bingung mau mengomentari apa. Hehe! Intinya gw setuju sama poin2 yg lo sampaikan. Gw salah satu yg percaya bahwa Allah memberikan apa yg kita butuhkan. It's not always about what we want, it's about what we need. And God has given us all the things we need, right ;) Aah, ini komentar panjang dan ngelantur! Hehe. But aniwey, i like this post :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hayaa, ini knapa komen-nya jd dobel! Salah satu alasan knapa gw ga suka nulis komen di HP. Maap ya, Vit.. jd menuh2in box comment lo. Bs diedit kah? I'm littering your blog :( sorry..

      Delete
    2. btw, aku malah waktu itu bukan mikir want atau need; ya aku merasa need lah! butuh (diskon) duit lha..

      btw, kl d blogspot kyke komennya ga bisa diedit :p

      Delete
    3. hey gurl, masak seh comment gak bisa di-edit?! aduuh... gak enak banget liat comment yang dobel2 begini :D aniwey...gw juga baru bisa mengerti bedanya kata 'mau' dan 'butuh' setelah melewati beberapa kejadian hidup. yaa.. proses lah yauw untuk mengerti kenapa dan apa maksud di balik semua (kejadian hidup) ini. mari mensyukuri yang kita punya sekrang. *haya.. makin ngelantur gw*

      Delete
  4. Hi mb Vita,artikelnya menarik sekali buat saya,yang dapat beasiswa bukan dari AUS Gov. :D dan bawa anak usia 3 thn,di Brisbane. Saya sekarang sih lagi mau coba.. no harm to try kan y?hhehe. Anyway itu beneran sebelumnya at least 5 org yg pernah dapat yg bukan AAS? Atau sebelumnya,masternya,pernah beasiswaAAS gt mba?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi mbak, sori baru balas.
      Betul, saya sudah survey jauh sebelum saya apply beasiswa, dan akhirnya itulah yang membuat saya memutuskan tdk menunggu pendaftaran beasiswa AAS. Dari kelimanya hanya 1 orang yg masternya dg beasiswa AAS.
      Yang tidak terpikirkan saat itu adalah, kondisi dan peraturan yang tiap saat bisa berubah. Kelima student ini apply CCB pada tahun yg berbeda-beda (ada yang 3 tahun sebelum saya dtg, ada yg 2 thn sblm saya dtg, dll).

      Saat aplikasi saya ditolak barulah saya tanya2 lbh lanjut dan menemukan bbrp hal misalnya:
      1. Kelima student ini bahkan mengisi formulir yg berbeda. Form yg saya isi di tahun 2013 ternyata ada bbrp pertanyaan yg berbeda dg 2 / 3 thn sebelumnya, di antaranya, di form terbaru, ada pertanyaan khusus “Apakah beasiswa anda dari pemerintah Ostrali” padahal di form2 sebelumnya tdk ada.
      2. Kelima student ini juga berbeda2 pengalamannya, ada yg apply sekali lgsg dpt, ada yg hrs melalui appeal seperti saya baru diterima. Prosentase yg diterima pun berbeda2, ada yg “hanya” 30 %, ada yg 50 %, bahkan ada yang benar2 exempted childcare fee nya. Saya rasa ini benar2 tergantung petugas yang mengassess aplikasi kita. Kalau ada yg bertanya seperti mbak, saya sering kasih analogi kasar “Seperti petugas imigrasi utk visa / petugas check in di bandara.. Kadang bagasi kita kelebihan, nggak apa2.. kadang ada yg strict, kita hrs byr kelebihan bagasi..”

      Ini berdasarkan pengalaman seorang student yg appeal pertama, dia mengisikan alasan “financial hardship” di form appeal nya, yg lalu menjadi dasar dia bisa lolos mendapatkan CCB tersebut. Di kasus saya, petugas ngotot itu bukanlah financial hardship krn keberangkatan saya dan suami untuk studi sambil bawa balita dilakukan dg sadar dan direncanakan, sehingga seharusnya sudah tahu resiko finansialnya.

      Semoga jelas :-) dan tentu saja tak ada salahnya mencoba apply :-)

      Delete
    2. [added]: "financial hardship" itulah yg saya maksud sebagai "perkecualian" dlm post saya di atas. Sedangkan 3 student lain yg langsung dpt CCB tanpa appeal, saya tdk tahu apa dasar petugas Centrelinknya meloloskan aplikasi mereka :-)

      Delete
  5. Mb Vita, makasih banget penjelasan detailnya, sangat bermanfaat buat saya dan teman2 "lain yang posisinya sama. Jadi saya share juga blog ini ke teman2 ;)

    Nanti kalau sy udah dapat hasilnya,sy update di comment ini.

    Thank you, Gday!
    Sara

    ReplyDelete