Sunday, 29 November 2015

Administering the Blog English Club [EF #32]

The latest BEC challenge is about an exciting thing we're currently doing. I was thinking of writing about preparing for my son starting school but suddenly I thought why don't I write about something related to BEC itself?

I started as an excited reader of BEC (and its members') posts. I was excited by the motivation and enthusiasm of all involved (the administers, the mentors, the members, the readers :p ). However, I also noticed the reducing numbers of participation as the time goes by, and started wondering why. About two months ago, I decided to ask if the admins might need additional personnel, and they gladly accepted me as a new admin. 

Administering BEC has been both exciting and challenging. As this is a voluntary "work", I really appreciate the hard working all the people put behind BEC. Sometimes I wonder too why I'm willing to do this, while I have my own life and responsibility to take care of. And yes, there are more things I'm wondering now... Two of those are related to BEC challenge: English and writing. So, instead of writing about how I'm administering BEC, let me write about the motivations behind it :P.

What is the importance of English proficiency? Correlation with Economy, Quality of Life, and Innovations

Tuesday, 24 November 2015

Rezeki hadir dari mana saja, dalam bentuk apa saja

Ternyata aku sudah berniat ingin tulis ini sejak tahun 2014, lalu tempo hari sempat janji sama Ryan tapi belum kesampaian sampai sekarang. Inti tulisan yang sebagai pengingat untuk diriku sendiri, syukur-syukur kalau bisa bermanfaat untuk yang lain yang baca.

Berawal dari cerita di tahun 2013, saat aku mulai kuliah S3 bersama Irfan yang sudah setahun menempuh S3, bersama Hanif yang masih 1.5 tahun. Sejak berniat untuk ikut kuliah bareng (demi ngumpul, karena ga mau LDR :P) kami udah rencana nitipkan Hanif di childcare. Kami udah tau kalo biaya childcare sangat mahal (jaman segitu $90an per hari, yes sekali lagi, aku ga salah tulis angka yes.. :P ) dan harus mengandalkan diskon (yang namanya Childcare Benefit / Rabat, CCB / CCR). Kami juga udah tau kalo mahasiswa asing yang berhak mendapatkan diskon itu adalah yang beasiswanya dari pemerintah Australia. Karena Irfan udah terlanjur studi dengan beasiswa pemerintah Indo, aku juga sempat berencana apply beasiswa kampus/Ausaid, tapi akhirnya ga jadi karena...suatu alasan yang nanti diceritakan di post lain :P . Singkat cerita, akhirnya aku pun berangkat studi dengan beasiswa yang sama seperti bapak Irfan. Inipun setelah tanya sana sini dan ternyata ada lima orang teman dengan beasiswa Indonesia yang bisa dapat CCB ini. Kata mereka, ada perkecualian dalam peraturan CCB ini, sehingga mereka pun berhak dapat berdasarkan peraturan ini.

Sampai di sini, setelah (syukurlah) akhirnya Hanif bisa masuk childcare, kami pun apply CCB ini... dan... ditolak!! Kami masih pede untuk mengajukan appeal (banding), karena dari 5 orang yang tadi aku ceritakan, 2 orang di antaranya ditolak di pengajuan pertama dan sukses di appeal pertama. Ternyata di appeal pertama ini pun kami...gagal lagi! Keputusannya tetap: kami tidak berhak mendapatkan diskon. Padahal, kami sudah mengajukan appeal dengan alasan yang kurang lebih mirip seperti 2 orang yang tadi: Karena permasalah biaya (istilahnya financial hardship). Beasiswa aku dan Irfan masing-masing $1750 per bulan. Untuk childcare 4 hari (4 hari aja loh.. karena kita ga kuat bayar 5 hari) = $90 x 4 hari = $360 per minggu = $ 1440 per bulan untuk 4 minggu atau $1800 per bulan untuk 5 minggu (ini seingatku loh.. Seingatku di atas $90 deh dulu T_T, tapi aku lupa persisnya). Sehingga kasarannya, kami bertiga harus hidup dengan beasiswa untuk 1 orang saja karena hanya itu yang tersisa setelah dipotong childcare. Sebagai gambaran, tempat tinggal ndutyke yang cuma seuprit tapi namanya The Grand itu sewanya $350 per week (akyu juga ga salah nulis loh ini... per week ya... bukan per month :3 T_T ). Jadi..ya...silakan dikalikan sendiri ya.. T_T

Tuesday, 17 November 2015

Suatu sore di Saga

Kami berdua berlari-lari kecil menuju halte, lebih cepat sedikit daripada berjalan kaki biasa tapi sepertinya tak cukup cepat untuk bisa sampai sebelum bis berangkat. Sore hari di bulan Agustus itu Jepang masih terasa panas terik dan lembab. Masih minggu pertama bulan puasa, tubuh kami mungkin masih lemas dan belum terbiasa. Dari kejauhan kami melihat bis ancang-ancang untuk berangkat, dan tanpa bicara kami seolah bersepakat untuk berhenti berlari. Beberapa detik kemudian bis pun berangkat.

Kecemasan yang sejak tadi di awang-awang, kini menjadi kenyataan. Masih satu jam lagi sampai bis berikutnya datang. Yang paling sulit kuantisipasi: harus menunggu berdua saja dengan pemuda itu. Dan mungkin kami berdua terpaksa berbuka puasa di tempat itu. Teman-teman yang biasanya ada untuk berbagi, sudah berangkat bersama bis yang meninggalkan kami. Jadi sekarang tinggal dia saja untuk berbagi.

"Beli makanan yuk?"

Tepat di balik kursi di halte kompleks pertokoan itu, sebuah supermarket. Dia mendorong satu troli kecil. Entah kenapa, tampak jelas dalam bayangan, hal yang sama terulang di masa depan: aku, dia, dan sebuah troli belanja. 

"Ini enak nggak ya? Nyoba yuk?"
"Salad rumput laut? Nggak ah."

Seolah kami berlatih untuk dialog-dialog di masa depan. 
Ah, tidak kok, kataku dalam hati.
Di depan kasir, kami mengeluarkan belanjaan dari troli. Perasaan itu muncul lagi, seperti inikah masa depan kami?

Tuesday, 3 November 2015

He Would Have Known (EF #30)

Notes:
1. It's a really good 1.5 min video. The important message of the video starts at the 35th second. 
2. I transcribed the dialogue below.



How much for the two of us?

A dollar each, and free for the kids under five. How old is he?

My son is six. Here’s two dollars.

Mister, you could have told me he was younger. I would not have known the difference.


True. But he would have known.

* * *

I hope you get a good lesson from the video. Now, it's time for another lesson for me. Time to practise the Conditional Clause Topic for this week EF challenge :D. The challenge itself is actually about "plan or regret", but I wasn't very committed this week hahaha... So I posted a really nice video instead :P


If the man had lied about his son's age, he would/could have saved some money.

Even if the man had lied about his son's age, the ticket seller would not have known the difference.

But his son would have known.

If the man had lied to the ticket seller, he would also have taught his son to lie.

If the man had lied to the ticket seller, he would not have taught a valuable principle to his son.



If I had been too lazy to share this video, I would not have inspired you to hold on to your values and principles :-)

Questions (anyone, please don't hesitate to answer this in the comment box!): I can change the "would" with other modals such as "could", "might", etc, can't I??

Thank you :-)