Monday, 7 September 2015

Random Lesson: On Homosexuality

Wow I never imagined (1) I would write a post on Monday morning (!); and. (2) about homosexuality (!!). Ya sekarang di sini Subuhnya udah balik pagi lagi karena winter sudah habis jadi ini habis subuhan ga bs tidur. Lalu kemarin malam alhamdulillah kelarlah paper draft yang telah menyibukkan aku selama 2 mingguan (dengan eksperimen kurang sukses selama 6 bulanan worried). Awalnya post ini mau dijuduli "Random Lessons from Musicals: Hardworking, Good Songs, and Homosexuality" tapi aku pikir aku bakal cerita banyak so..let me write with the last lesson first. 

Berawal dari aku suka banget dengan musical Wicked dan dari sekian banyak aktor/aktris yang pernah memerankan tokohnya, aku sudah punya aktor favorit untuk masing-masing tokoh. Nah salah satu aktor yang jadi favoritku untuk tokoh Fiyero adalah Kyle Dean Massey (dan inilah awalnya..). Dia adalah aktor yang secara terbuka menyatakan bahwa dia gay. Ya sebelum ini pun sudah ada ya aktor-aktor lain yang mengaku secara terbuka, kayak Jim Parsons (favorit juga.. Sheldon-nya The Big Bang Theory, sitkom PhD dan PhD candidates worried) atau Neil Patrick Harris (yang waktu aku kecil suka nontonin serial Doogie Howser, atau sekarang How I Met Your Mother). Tapi yang bisa membuat aku penasaran dan tergerak eksplorasi dan riset kecil-kecilan adalah waktu ga sengaja baca wawancaranya KDM (namanya disingkat aja ya). Dia cerita tentang bagaimana sejak kecil usia 5-6 tahun dia sudah tertarik sama anak-anak cowok di playground. Dia cuma ingat di playground pernah cium anak cowok dan dilarang, dibilangi "Little boys don't do that" dan KDM kecil malah bingung, kenapa nggak? Dia juga cerita nggak ingat pernah naksir cewek atau cium-cium cewek seperti halnya remaja-remaja cowok di Amerika.

Dan aku pun jadi penasaran. Apa sebabnya? Terakhir aku dengar soal kemungkinan penyebab homoseksualitas ini udah lamaaaa banget, waktu aku masih kuliah dulu, waktu diceritain ibuku yang habis dicurhati tetangga karena dia ga sengaja nemu kumpulan vcd film-film gay di kamar anak cowoknya. Waktu itu kalau ga salah ya ada yang bilang kemungkinan penyebabnya macam-macam; karena hilangnya figur ayah dalam keluarga, atau figur ibu yang terlalu dominan, lalu juga trauma karena pernah mengalami pelecehan seksual, apa lagi ya.. Dan sekarang, 10 tahun kemudian, aku coba cari-cari dan baca-baca, sejauh yang aku baca, ternyata sampai sekarang pun belum ada temuan ilmiah yang benar-benar bisa menjelaskan kenapa seseorang berkembang dengan orientasi seksual tertentu (termasuk yang straight ya). 

Aku sempat baca tulisan dari berbagai sudut pandang, termasuk neuroscience. Sejauh yang aku sempat baca (dan ini kan aku nulis blog post, bukan nulis jurnal, maaf ga pake referencing..) kalau nggak salah para neuroscientist ini cuma bisa menemukan perbedaan karakteristik otak orang straight dan homo, tapi belum tahu penyebabnya apa. Ini juga menarik karena cara otak merespon pun jadi beda. Saat melihat perempuan cantik, misalnya, otak laki-laki straight merespon, tapi otak laki-laki gay nggak. Cukup intriguing untukku (sori apa ya bahasa Indonya intriguing?). Oya, aku juga sempat baca ada teori yang bilang bahwa perbedaan perkembangan otak ini terjadi saat bayi di dalam kandungan ibunya (jadi parno..). Ada juga yang nambahin bahwa alasan di balik orientasi seksual seseorang mungkin "biological reason".

Aku pun penasaran tentang apakah para homoseksual ini bisa jadi straight. Well, sebelum aku baca pun, aku coba membayangkan gimana caranya diriku yang straight ini untuk berubah jadi pecinta wanita, ga kebayang deh piye carane... Dan hasil baca-baca itu membenarkan dugaanku tadi. Sudah banyak ternyata percobaan dan eksperimen yang ditujukan untuk mengubah orientasi seksual seseorang, dan.... secara umum belum sukses. Malah kalau ga salah ditentang oleh asosiasi psikolog dan psikiater karena dianggap mentally abusing. Aku pun sempat baca-baca forum dan testimoni, banyak ternyata yang tanya hal semacam "Can homosexuals become straight?" dan banyak jawaban juga dari berbagai sudut pandang. Tapi salah satu yang menurutku paling mudah diterima adalah "The possibility of it is similar as the possibility of straights becoming homosexuals.".

Dari semua itu tadi, at least ada 2 hikmah yang aku sadari. Satu, as trivial as it may seem, terlahir jadi straight itu sesuatu yang patut disyukuri. Dengan baca-baca begini aku jadi lebih berempati kepada para homoseksual (termasuk orang tuanya dan keluarganya). Aku bisa bayangkan sih betapa rumit dan susah dan bingungnya hidup. Pelajaran kedua, sebagai orang tua, nambah satu lagi deh hal yang harus kita perhatikan terhadap anak kita.. Aku bisa bilang gini karena dari hasil baca-baca testimoni dan forum, kebanyakan para homoseksual itu ya sadar akan orientasi seksual mereka tiba-tiba saja. Kayak aku, yang aku ingat waktu aku SD/SMP dulu ya tiba-tiba aja naksir cowok. Gitu, titik. Nah katanya para cowok gay (atau cewek lesbian) ini juga gitu, ga ingat pokoknya tiba-tiba suka sama cowok (padahal sendirinya juga cowok). Ga tau dan ga ingat gimana pokoknya waktu kecil suka banget pake baju dan aksesoris mamanya. Dan tau sendiri kan anak kecil itu kayak kertas putih lho, naluriah dan alami. 

Dan....aku langsung inget salah satu temen Hanif di childcare yang sejak awal Hanif masuk 3 tahun yang lalu udah menarik perhatianku. Anak ini cowok, tapi kalo pas lagi acara pake kostum di childcare (ada macem-macem), dia selalu pilih kostum cewek macam balerina atau rok. Dan dia akan pake itu terus seharian. Terus dari box wardrobe dia suka pilih highheels dan tas tangan, ditenteng kemana-mana. Ini cowok lho...usia 2-3 tahun. Dan jaman sekarang kayaknya itulah bedanya di sini dan di Indo ya.. Kalo di Indo pasti udah dilarang-larang, tapi di sini dibiarin aja ama gurunya, cuman dibilangin aja hayo kapan baju ceweknya itu mau dilepas, harus dilepas ya nanti.. Terakhir yang ngagetin juga waktu ada pertemuan ortu tentang persiapan anak sekolah. Ibu si anak cowok ini tanya ke director childcare nya terkait persiapan anak pake seragam. Dia tanya, apakah pake seragam ini harus disiapkan secara khusus juga? Gimana kalau nanti anaknya ga mau pake seragam dan minta pake baju lain? Apakah pihak sekolah kira-kira bisa menerima perbedaan? Aku udah sempet gak ngeh waktu dia tanya ini, Perbedaan opo maksude.. Lalu si director menjawab dengan jawaban yang lebih bikin gak ngeh, Dia bilang, dulu kita juga ada kok murid cowok yang suka pakai baju cewek. Ya kita kasih pengertian, bahwa mungkin ada saat atau tempat di mana nggak semua orang bisa terima dengan hal itu, termasuk di sekolah. Jadi harus dikasih pengertian. Malamnya aku dan Irfan langsung ngebahas ini, karena kita berdua sama-sama nggak ngeh kenapa itu ibu tanyanya begitu dan si director langsung nyebut "cowok pake baju cewek".. Ya mungkin ortu si anak itu udah nyadar akan perilaku anak cowoknya yang "agak beda" dan guru-guru di childcare udah paham juga. Dan itu satu bukti nyata bahwa "perilaku beda" itu sudah muncul sejak kecil. 

Aku juga sempet ngobrolin hal ini sama Irfan, termasuk mengungkit kembali temen Hanif yang itu. Kita sependapat bahwa, kalau ada hal kayak gitu, mungkin kita akan mencoba "meluruskan" instead of mengakomodir seperti ortu dan guru temen Hanif itu (dan berdoa... berdoa.. berdoa..). Dan ini satu hal yang tadi aku sebut "nambah lagi tanggung jawab sebagai orang tua" :D . Btw karena ini juga aku sempet agak parno dan menginterogasi Hanif "Hanif suka main sama temen cewek atau cowok? Suka main mainan anak cowok atau cewek? Siapa temen cewek favorit Hanif?" yang dijawab: ga ada temen cewek favorit; lebih suka main sama cowok dan suka main mainan cowok.

Akhir pemikiran ini, tetep ya, hal kecil maupun besar, tetep harus dibawa dalam setiap doa (dan disyukuri). Aku dulu pernah share tulisan ini: "Rainbow Flag vs 17 Matahari", 17 matahari adalah 17 rakaat kita berdoa dalam sehari (sholat) dengan [direct quote dari link tadi:] "“ihdinassirootol mustaqiim”. Ya Allah, teruslah Engkau bimbing kami di jalan yang lurus itu, dan jangan engkau simpangkan kami ke jalan yang lain”. Kita memohon hal itu, dan Allah mengatakan “Bagi hambaKu apa yang ia minta”."

Catatan akhir: Post ini hanya berbagi tentang yang sudah aku baca, pikirkan, dan diskusikan (bersama suami). Semoga tidak menyinggung siapa pun dan tidak ada asumsi atau prasangka lain selain dari yang aku tulis ini. :-)

6 comments:

  1. Emang nambah lagi tugas kita sebagainorang tua Vit. Huehehhee. Rauwis-uwis ya? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Dan :D
      Katanya mikirnya juga hrs jauh ke depan, nyiapin anak supaya bisa jadi suami & ayah atau istri & ibu yang baik, katanya ngedidiknya ya dari kecil gitu.. Beneran anak itu amanah ya

      Delete
  2. i wonder why are you interested to write the last lesson first. i mean...is it really because of KDM or because the issue itself has become (well) accepted in other continent? which leads me to ask: how's in OZ? anyway...i'm looking forward to reading the good songs and hardworking :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Because the other first two lessons are too mainstream? :p

      Sejujurnya ini satu post yang bisa membuat aku nggak nyaman dan beberapa kali aku berpikir akan mengembalikan post ini ke draft. Jadi ga tau post ini akan bertahan di sini sampe kapan :-)
      Tapi alasan utama memberanikan menulis adalah (seperti yg sdh disebut), murni ingin berbagi hasil baca2ku (yg ternyata hanya sedikit.. masih banyak hal terkait lain) dan pengalamanku "memperhatikan perilaku anak yang agak 'beda' " ini, yg mungkin bisa ada manfaatnya (?!)

      Kalo di sini setauku secara hukum pasangan tanpa pernikahan diakui oleh negara, termasuk pasangan sesama jenis, tapi bukan pernikahan sesama jenis ya. Istilahnya de facto relationship kl g slh.
      Dan aku sempat tau beberapa pasangan sesama jenis yg juga punya anak (termasuk ada yg d childcare Hanif.. ada yg temennya temen di SD.. ada yg pernah ketemu di pesta ultah..).

      Btw, nilai yg dipegang keluarga kami masih tetap konvensional ('lurus' / kembali ke jalan yg 'lurus', seperti yg udah ditulis di post).

      Delete
  3. Mba.. kl secara ilmiah salah satu ciri makhluk hidup kan berkembang biak. Nah itu kan mesti dengan berpasangan. Jantan betina. Boleh ga ini jd sisi ilmiah yg menjelaskan bahwa straight adalah yg benar? Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, aku juga mikir begitu. Walaupun tetep penasaran juga karena sempet baca2 fenomena homoseksualitas ini juga ada di binatang..

      Delete