Wednesday, 12 August 2015

Re: Comfort Zone

Kenapa judulnya ada "Re" nya? Karena ini adalah reply untuk post ndutyke berjudul Comfort Zone kemarin. Bukan itu aja sih, ini juga jawaban untuk diriku sendiri yang kmrn juga jadi bertanya2 setelah baca post nya ndutyke. Jadi kemarin baru baca paragraf awalnya yg begini: "Aku pribadi blm ngeh dengan prinsip ‘leaving the comfort zone’. Not that I against it. I just simply dont understand why we should leave our comfort zone. Karena katanya klo sudah berada di comfort zone, nanti people will stuck in it dan gak berkembang karena nggak ada challenge nya."

Terus aku kayak mikir "iya ya kenapa ya?". Tapi aku malah penasaran, karena aku ingat, di buku yg aku baca jaman ABG dulu, bukunya Sean Covey yg 7 kebiasaan remaja efektif, nyebut2 ttg "zona nyaman" ini. Googling2 sebentar, dan ada sedikit pencerahan, dan aku pun sudah meninggalkan komentar super panjang di post ndutyke batting eyelashes

Untung aku masih bisa curi2 preview buku ini di page google books

(Sean Covey's The 7 Habits of Highly Effective Teens: Image captured from google books preview page


See that first sentence? "What's so wrong about enjoying your comfort zone?" Nothing. In fact, much of our time should be spent there. Kurasa pertanyaanku dan ndutyke sudah terjawab. Lalu selanjutnya, kenapa masih harus keluar dari comfort zone? The answer that (I think) I found yesterday was... because sometimes we need to.. Aku sempat mikir2 sedikit dan ternyata banyak contohnya..




Another captured image from google books preview page

Seperti yang aku tulis sebagai komentar di post ndutyke kemarin, keputusanku untuk menyusul suami ke Ostrali untuk ikut sama2 studi PhD itu juga bentuk keluar dari zona nyaman (saat di Indonesia): kerjaan udah jalan lumayan mapan, tinggal dekat dengan keluarga, ada yg bantu2 di rumah, bantu2 jaga anak, dsb. Tapi kami siap meninggalkan itu karena ada keinginan, yaitu nggak ingin long distance marriage. Haha itu motivasi utama aku PhD lho xD, untung waktu itu belum tahu bahwa akan lebih banyak lagi hal2 di luar zona nyaman kami yg harus kami lakukan..

Contoh lain, sesama teman2 yg studi di sini dengan membawa keluarga, padahal beasiswa nggak kasih family allowance. Kebanyakan kerja part time sebagai cleaner (karena cukup mudah masuknya katanya..). Aku yakin mereka2 (termasuk istri/suaminya) terpaksa keluar dari zona nyaman mereka.. Ya nggak sih? Maksudku, siapa yg sejak awal punya zona nyaman harus bangun pagi2 buta jam 3 atau jam 4 pagi, lalu siap2 bekerja bersih2 toilet, ruang kelas, dll selama 3 - 4 jam.. Di musim dingin ataupun saat hujan deras tetap harus berangkat. Termasuk juga (mungkin) harus memanage perasaan "aku seorang 'tukang sapu'").. 

Sejak studi PhD ini aku banyak terpaksa harus keluar dari zona nyamanku, karena kebetulan tipe pembimbingku tipe yg ngelepas mahasiswanya dan ga terlalu ngatur. Dan kalau udah gitu, kalau kita nggak bergerak dan proaktif, mau dibawa kemana kelanjutan studi kita? #tercurcol
Salah satu contohnya saat aku harus berinisiatif cari kolaborator dari jurusan lain. Ada rasa malu, sungkan, takut ditolak. Tapi kalau nggak dicoba lalu apa yg bisa dilakukan? Dan kejadian juga kok, aku kontak itu orang2 jur lain, memperkenalkan diri, cerita ttg project kita dan kenapa aku butuh bantuan mereka. Akhirnya gimana? Setelah 2 x meeting, orangnya mundur teratur, haha.. Males ditambahi kerjaan kali ya. Tapi kan setidaknya aku sudah nyoba. 

Oya btw, menurut aku, zona nyaman seseorang udah pasti beda dg org lain. Yg bagi org lain suatu hal tertentu masuk zona nyamannya dia, mungkin bagiku tidak, dan sebaliknya. Aku jadi inget gini krn tadi mau cerita, salah satu zona tidak nyamanku di sini adalah (mungkin tampak sepele) dateng ke acara ultah temen Hanif! Hahaha... Kenapa? Well karena kebetulan dari 4 childcare punya UNSW, Hanif masuk ke satu centre yg hampir semuanya anak dosen dan staff (hampir nggak ada studentnya), jadi kalo ada acara ultah anak, aku dan Irfan harus berusaha membaur, ngobrol2 ama orang2 itu.. Kebetulan kita berdua bukan org yg pinter ngobrol n membaur.. Duh rasanyaaaa... Susah membaur n susah cari bahan obrolannya itu lho :p. Mereka biasanya kan udah kenal, lalu tanpa sengaja udah ngegrup sendiri bhn obrolannya seputar research grant lah, seputar stakeholder UNSW, blabla.. Dg ibu2nya juga aku ga begitu pinter ngobrol, paling2 seputar anak2 atau sekolah. Udah berkali2 lho tiap ada undangan ultah langsung terbayang horor kita berdua celingak celinguk ngobrol sepotong dua potong dan bagiku akan lebih mudah kalau nggak usah datang sekalian aja... Tapi Irfan selalu ngotot harus datang dengan alasan silaturahmi. Dia bilang semakin kita ga datang semakin kita ga kenal ama ortu lain dan semakin ga akrab.. Dan yeah that's my getting out of my comfort zone.. tampak sepele yah tapi beneran itu.. Minggu kemarin kita (memberanikan diri lagi) dateng ke acara ultah lain lagi.. Baru tau ortu temen Hanif di kelas yg baru ini ada yg Head of School juga (untung bukan elect eng whew!), ada yg direktur research centre apa lah, blabla.. Tapi bagus lah usaha menjaga silaturahmi kmrn cukup berjalan lancar.

Nah kan, "keluar dari zona nyaman" nggak hanya tentang hal-hal "besar" saja. Menjaga silaturahmi pun menurutku bisa menuntut seseorang keluar dari zona nyaman, termasuk mungkin menjaga silaturahmi dan hubungan baik dengan saudara / keluarga. 

Akhirnya, thanks ndutyke for your post! Aku jadi pgn baca2 lagi bukuku Sean Covey yg dulu itu.. Aku rasa prinsip2nya masih sangat pas diterapkan walaupun kita udah gede gini :-) (Dan aku udah ngecek yg versi org dewasanya, yg 7 Habits of Highly Effective People; bukan Teens; ga sukaaa, ga ada gambar2 lucu2 nya hahahaaa). So, ndutyke, terjawabkah pertanyaanmu? :-)

6 comments:

  1. venturing into unknown waters. i like that word! i mean...literally not many of us are good in swimming, some even afraid of water/sea... but hey, sometimes we just have to take the plunge, right! so.. thank you for reminding us about 'looking for the other zone' :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. credit also goes to ndutyke yg pertama mengangkat topik ini :D

      Delete
  2. Ah. Keduluan sama Rina. Suka juga kalimat itu. Hehehe. CZ katanya hanyalah dalam pikiran masing2. CZ saya apa ya? Hehehe.

    Btw UNSW apaan ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apa kabar Ryan? :D Itu penjelasan comfort zone dan courage zone ada di captured image kedua..
      Btw, unsw tuh kampus ane :3

      Delete
    2. Issh.. Ryaan... emangnya kita lagi balapan ya?! kok keduluan seh :p masak seh comfort zone ada dalam pikiran masing2? care to explain? or..better yet.. make a another post of Re:Re: Comfort Zone :D hehe, gak kreatif ya gw ajuin judul.

      Delete
    3. Saya menunggu Rina aja deh. :D postingan soal CZ nya. LoL

      Delete