Thursday, 2 July 2015

Kembali ke Dieburg (part 2)

** Awal Juni 2015 ini saya berkesempatan napak tilas ke Eropa, nebeng business trip suami dan menyisihkan sedikit banyak uang tabungan untuk kesempatan yang belum tentu datang lagi. **


Sesuai rencana, selesai makan siang di pusat kota (kecil), kami kembali ke rumah prof. SW untuk menikmati pencuci mulut sambil ngobrol di kebun belakangnya. Dari dulu sampai sekarang, saya masih tetap suka dengan rumah prof. SW. Mungil, rapi, di belakang ada kolam kecil, lalu ada halaman luas memanjang ke arah belakang.

"Kamu mau minum apa? Teh? Kopi? Air?" tanya prof. SW sambil bersiap-siap membuka laci dapur. "Teh." jawab kami. "Mau pake gula?" tanyanya sambil lincah menyiapkan nampan, cangkir, dan air panas. Saya sudah tidak terkesan lagi seperti dulu, saat pernah saya dan pak AIG ke rumahnya terkait printout PCB thesis, beliau menawari kami minuman, menyiapkan, menyajikan, sekaligus mencuci gelas dan peralatannya setelah selesai. Saat itu saya terkesan sekaligus sadar, di sini tidak ada asisten rumah tangga. Selanjutnya, hal-hal seperti itu seolah jadi 'biasa saja' bagi saya. Karenanya, saat membaca cerita tentang guru (baca: profesor) mas Made Andi, saya teringat prof. SW dan tidak terlalu terkejut, begitulah adanya mereka. 

Piano dan cello tetap ada di ruang keluarga, tapi posisinya berubah, berganti sofa kecil dengan foto-foto keluarga dan anak balita..dan boks-boks mainan :D . Di Sydney atau Dieburg ternyata sama saja: ada boks berisi mainan kereta api dan Lego Duplo. Profesor membawa satu boks berisi Lego ke halaman belakang dan Hanif langsung asyik bermain. 


Summer 2015. Hanif di kebun belakang. Kebun di sebelah kiri, adalah bagian dari rumah sebelah yang dibeli dan dijadikan guesthouse (dengan kata lain, itu juga punya profesor.. :D ). Ada "rumah-rumahan" kecil warna coklat muda di sebelah kiri yang dibangun sendiri oleh profesor.


Summer 2007. Di posisi yang sama dengan Hanif tadi, tapi difoto ke arah sebaliknya, pak AIG siap-siap pesta BBQ bersama murid-murid bimbingan prof. SW yang lain. Rumah coklat muda belum ada (dan sepertinya belum dibeli deh rumah dan halaman sebelahnya itu..).


Saya melihat semacam gudang kecil warna coklat tua tepat di depan halaman. "Ini bangunan apa?" tanya saya. "That's my workshop." jawabnya bangga. Ceklek, pintu dibuka... Woooo... ini idaman bapak-bapak sepertinya. "Bengkel" berisi peralatan pertukangan lengkap.. Bengkel seperti ini, beserta Ace Hardware (kalau di Indonesia), atau Bunning's (kalau di Australia), mungkin mirip seperti impian ibu-ibu atau mbak-mbak kalau ke Centro atau Sephora (yang saya juga nggak terlalu ngerti :P ). "Biasanya nggak sebersih itu." kata istrinya. "Tapi karena kalian mau datang, akhirnya dibersihkan juga.."

Workshop berisi bermacam peralatan yang sudah dipakai macam-macam, di antaranya: membangun rumah kayu mungil, ada di foto pertama tadi, di sebelah kiri. Dan juga membuat semacam tandon air bawah tanah, di bawah halaman belakang.

Hanif ternyata hanya sebentar bermain Lego. Dia tiba-tiba tertarik mainan air di baskom berisi air dan mainan lain. Ternyata itu disiapkan khusus untuk Hanif :D. Dan selama makan cake, minum dan ngobrol, kami tidak terganggu Hanif, dan Hanif pun sangat menikmati permainannya. Sesuai dugaan profesor dan istrinya, "..sama seperti cucu kami." kata mereka.




Hanif: dari yang tadinya pakai baju lengkap, lalu lepas sepatu, dan akhirnya lepas celana panjang, lalu berendam di dalam.. :D


Kami kembali mengobrol macam-macam lagi. Mulai dari workshop yang tadi ditunjukkannya, lalu cerita bagaimana dia membangun rumah kecil di sebelah halaman belakang, bagaimana dia membuat sendiri seorang diri tandon bawah tanah, mengebor tanah, memompa air, sampai cerita khas kakek nenek macam bagaimana cucunya harus nonton iPad supaya mau makan. 

Sebelum lupa saya sempatkan mengeluarkan oleh-oleh dari Sydney: magnet kulkas bentuk bumerang, jampel masak motif khas Aborigin, kalender 2016 dengan gambar-gambar Australia, dan yang terakhir, untuk menambah kesan "resmi", saya bawakan pulpen berlogo UNSW. Saya berikan ke beliau sambil menginformasikan, sambil setengah serius setengah bercanda,  "..ranked in the world top 40..", dengan harapan ada rasa bangga dari beliau. Ternyata oh ternyata, dijawabnya, ..apa sih ranking itu? Teknik itu tradisi di Jerman, dan kadang ranking oleh ini dan itu berdasarkan parameter-parameter tertentu, tidak bisa menggambarkan keseluruhan seperti apa sebuah institusi sebenarnya.. Saya mulai paham, dan di satu sisi saya bersyukur bisa merasakan menuntut ilmu di dua tempat di negara yang berbeda..

Hari semakin sore, saatnya kami berpisah. Rencananya kami akan diantar kembali ke Frankfurt, tapi saya bilang beliau cukup mengantar kami ke asrama saya dulu, tak jauh dari situ. Rugi rasanya sudah ke Dieburg tapi tidak napak tilas ke tempat tinggal saya dulu. Meluncurlah kami ke asrama, saling mengucapkan terima kasih, dan saling berpesan untuk saling kabar-kabari. Semoga bisa berjumpa kembali di lain kesempatan..



3 comments:

  1. what a fun day you had there :) waiting for the part 3 (shall there be any :D )

    ReplyDelete
    Replies
    1. masih ada yg hrs dilaporkan ke bapak2 dulu sesama student kok: asrama Dieburg, tempat kuliah di Darmstadt, dan Flohmarkt Frankfurt! (tempat jujugan tiap wiken)
      cuman kok capek ya nulis gaya serius gt wkwk...

      Delete
    2. ya udin.. jangan yang serius2 dong! yang haha hihi ajah.. pan lagi liburaaan :)

      Delete