Friday, 31 July 2015

Kamis Ceria

Kalo dulu pernah bikin post "Minggu Kelabu" (post jaman jebot yg mungkin kalo dibaca skr aku juga ga berani, malu! Hahaha), sekarang bikin post Kamis Ceria blushing). Hehe kemarin Rabu sebetulnya sempet semangat bikin lanjutan post tentang watak dasar, ternyata nggak kelar dan (seperti post2 lain) tersimpan sebagai draft entah kapan akan diselesaikan broken heart.

Nah tapi ini seperti biasanya, lagi-nungguin-dagangan™ (tongue baca: nungguin eksperimen) malah pgn tulis2 ttg hari Kamis kemarin. Alasannya, hari kemarin itu agak istimewa. Ada yg ultah kah? Nggak..tongue tapi rangkaian kejadiannya cukup seru, menyenangkan, nggak bikin sedih, dan patut disyukuri.

Diawali dengan bangun pagi2 setelah sholat subuh, kok tiba2 ada ide spontan (yg sebetulnya pencetusnya bukan sesuatu yg tiba2). ide yg di luar zona nyamanku ini kueksekusi dg mengirim sebuah email. Setelah sholat, tidur lagi, trs bangun, terus nyesel "Ngapain sih aku tadi pake kirim2 email gitu? xD" ya tapi sudah terlanjur, dan niatnya baik, ya udah mari melanjutkan pagi seperti biasa. 

Sebelum berangkat, ada yg ngetuk pintu, siapa gerangan? Oooooh.... ternyata ada yg datang dari belahan bumi lain, Benni... Hanif yg sudah kangen Benni bener2 keliatan seneng. Btw Benni iki sopo? Haha aku udah rencana bikin post khusus tentang Benni, semoga bisa ketulis wkwk.. Bahkan kita ajak Benni ikut ke childcare Hanif.

Saturday, 25 July 2015

Random notes about teeth [EF #26]

Haha I don't really feel like writing for EF so far, but I already promised, and a promise is a promise.. 

So the challenge this week (last week, actually :-) ) is about going to the dentist. 

Am I afraid of going to the dentist?
Yes! But the reason is because here, I'm afraid it will cost me too much! big grin
I don't know about other countries but at least in Germany and Australia, the two countries other than Indo that I've been living in, everyone should have medical insurance. Usually, optical and dental expenses are two things not covered by basic medical insurance plan (for foreigner). In Indonesia I could still afford dental service but in those two countries, it is much more expensive (as are other things, no? big grin). During my stay in Germany I was lucky not to have problem with my teeth. But here in Oz, at least two times I had dental problems. Just few months after I moved here I had problem with my dental filling, which I cured with temporary dental filling fix to save my money. But when suddenly I had toothache one afternoon, I had to spend $120 for x rays and consultation (yet the dentist couldn't find what's wrong... and magically the toothache was just gone afterwards big grinbig grin).

So how expensive is it actually? I don't know exactly..big grin Well a friend of mine said he spent more than $1000 for caring a tooth with filling problem, and another friend was flying back to his home country Iran for having a small dental surgery as he said the surgery cost plus flight ticket are still less expensive than having the surgery here...

Friday, 24 July 2015

Javanglish (juga)

Dari kemarin2 pgn tulis macem2.
Sampai siang ini tadi pas liat sandal buat wudhu yg khusus aku taruh di kantor Ipan, sandal yg enggak fashionable bangets, pgn bikin tulisan betapa sandal ini tuh "nggak banget" xD. Terus jadi ingat seleb blogger ibu IndahKur yg pernah bikin blog post khusus ttg sandal wudhu . Terus malah jadi inget, loh kan aku mau bikin tulisan kyk tulisan ibu IndahKur, yg tentang javanglish itu? Oh iyaaa...

:p Jadi ceritanya, waktu baca tulisan ibu seleb blogger Indah, yg judulnya Javanglish by Google, yg kocak banget itu, aku jadi inget juga pengalaman serupa jaman masih aktif jd dosen sebelum sekarang ini. 

Jadi kan dulu di jurusan aku itu ada kerja praktek / kerja lapangan gitu. Nah setiap selesai kerja praktek (KP) ini, mahasiswa musti kasih presentasi terkait kerja prakteknya itu, di depan mahasiswa lain dan dosen. Mirip sidang skripsi gitu lah. Nah, khusus presentasi KP ini, makalah dan sesi presentasinya harus dalam bahasa Inggris. Sejak jaman aku mahasiswa pun udah kayak gitu. Mungkin tujuannya biar mahasiswa2 terpaksa belajar dan berani ngomong dalam bahasa Inggris gitu ya. Lhaaa...tujuannya sih baik.. pelaksanaannya gimane? Itu yg bikin pusying...

Aku baru nyadar kalo kemampuan bhs Inggris sebagian besar mahasiswa2 ternyata kurang.. (taun segitu, sekitar 2009-2011..mungkin sekarang semakin baik ya, kayaknya..). Bayangin lho, nyusun slide presentasi (yg sekitar 10-20an halaman slide) dan makalahnya (4-6 halaman) itu lumayan meras otak dong kalo ga jago Inggrisan! Taun segitu seingatku google translate belum secanggih sekarang. Waktu itu yg ngetop software namanya Transtool. Itu bisa terjemahin kata per kata kayak kamus gitu, atau langsung sehalaman atau berhalaman2 pun bisa (walopun nggak jamin yeee hasil terjemahannya gimana). Mahasiswa2 yg bhs Inggrisnya pas2an inilah yg terus main hantam pake Transtool untuk nerjemahin slide2 dan makalah presentasinya. Terus udah langsung dibaca gitu aja pas sidang/presentasi. Bagi mereka yg (mungkin) ga terlalu ngerti, ya ga pusing ya langsung main baca gitu aja. Tapi kita2 yg nguji itu boooook.....pusyiiiiiiiing!!! Dan kita ketemu yg ky gitu ga cuma satu dua kelompok, dalam satu sesi bisa semuanya gitu bok. (Ya sekali lagi itu dulu ya, rasa2nya jaman sekarang udah tambah pinter2 deh bhs Inggrisnya..semoga, amin..). Bapak M yg biasanya kena giliran nguji bareng aku, biasanya semakin lama semakin gemes dan ujung2nya yg dibahas bukan kerja prakteknya tapi bhs Inggrisnya, wkwk...

Ini bbrp contohnya.. (Btw, nggak selucu ceritanya ibu Indah sih (daritadi manggil 'ibu' xD :p) tapi lumayan bisa bikin ngikik2 kecil sih...)

1. Di tengah2 presentasi. Buka slide baru, ada tulisan Electricity Awakening. *langsung terbayang ada sosok muncul dari tengah2 danau sambil membentangkan tangan.... (((Awakening)))*

Pak M: *bisik2* Electricity awakening...opo2an iku...
V: Ojok2 maksude pembangkitan listrik.
Pak M: *tanya mahasiswa* mas, electricity awakening iku opo?
Mhs: Pembangkitan listrik pak..
Pak M: Oh... mangkane, bukune diwoco mas.. Pembangkitan listrik itu electricity generation..
Mhs: Oh iya pak..
V: *bisik2* ntar ketuker lagi sama generation nya generasi.. young generation... generasi muda...  jadi pembangkitan pemuda.. xD

* * *

Tuesday, 14 July 2015

Mencapai Tujuan dengan Buku

*lagi nungguin barang dagangan ini (baca: nungguin eksperimen). mari ngeblog whistling*

Hehe setelah post lalu tentang buku, kebetulan post yang ini terkait buku lagi. Dan lagi-lagi spesifik, terkait buku anak. Kan Hanif tuh termasuk yang suka (di)baca(kan) buku. Nah, sudah agak lama kita menggunakan buku untuk membantu Hanif mencapai milestonesnya. Misalnya, saat dia dulu waktunya toilet training, aku sengaja cari-cari buku yang berhubungan dengan toilet training. Ndilalahe dulu di perpustakaan Randwick nemu buku judulnya The Prince and the Potty

The Prince and the Potty (gambar n link dari amazon yaa)

Bukunya tentang pangeran yang sudah waktunya lepas popok dan harus belajar pipis di toilet happy. Lumayan, kejadian2 nggak mengenakkan kalau si pangeran pipis sembarangan, bisa diingatkan dan diceritakan ke Hanif. Seingatku aku nggak nemu buku lain selain itu, baru nemu buku toilet training nya Fisher Price tapi itu pun saat Hanif sudah lepas popok.


Dari kiri atas searah jarum jam: Topsy and Tim Start School; Big Enough for a Bed; Calm-Down Time; Allah gave me two hands and feet.

Wednesday, 8 July 2015

Pertemanan & Persahabatan

Beberapa waktu yg lalu, topik 'pertemanan' sempat ada di pikiran aku setelah Rina membahas tentang itu lewat blog postku dan post dia yg dulu ttg teman. Kami sama2 sadar, bahwa yg namanya pertemanan itu berevolusi, berubah, dan pertemanan yg awet juga tdk hrs berarti sering berkomunikasi dan berinteraksi. Kam juga sadar bhw pertemanan bisa merenggang atau bahkan putus hubungannya. Sebelum itu aku mlh udah ada rencana nulis post judulnya "That's it?" (iya kdg udh ada bayangan judul post :D). Intinya ttg hubungan aku dg teman2 aku sesama student PhD di grup aku. Yg udah pada submit/lulus trs balik ke negara masing2...udah susah saling kabar2i.. Pdhl dulu kita yah layaknya student2 senasib sepenanggungan..susah senang bersama (yes PhD susah yes, aku baru tau.. :( :p ) kita akrab bgt sampe saling kenal sama keluarga/pasangan masing2..tapi begitu pisah negara (yg berarti pisah time zone, dst), udah deh jarang bgt komunikasi dan ada yg sampe skr blm balesin sapaan silaturahmi di FB atau email.. Makanya dulu pgn tulis post 'that's it' krn..bhs kerennya, after all we've been through together...that's it??! Gitudeh...

Nah hbs Rina 'memicu' mikir2 ttg pertemanan itu, kok ndilalah pas bacain Hanif cerita,jd ngeh,kok tnyt cukup byk juga ya buku2 cerita Hanif yg inti ceritanya mirip dg masalah pertemanan yg aku ceritain tadi? Ini coba aku share sebagian yg jd favorit aku.. Oya mhn maaf buku dan bahasanya disesuaikan dg kondisi lokal ya :D (maksudnya inggrisan).. Sebetulnya aku penasaran loh dg buku2 cerita Indonesia..

Masih ada buku2 lain loh :D

Saturday, 4 July 2015

Share pengalaman: terbang 21++ jam bersama balita

** Awal Juni 2015 ini saya berkesempatan napak tilas ke Eropa, nebeng business trip suami dan menyisihkan sedikit banyak uang tabungan untuk kesempatan yang belum tentu datang lagi. **

Masih terkait napak tilas ke Eropa yang lalu, aku pengen mendokumentasikan sekaligus share pengalaman kami bertiga ikut penerbangan panjang dan adaptasi di tempat tujuan...bersama Hanif!

Jadi sejak awal aku sudah tau bahwa perjalanan Australia - Eropa (Sydney - Paris) ini bakal panjang. Karena pengalaman terakhir aku dulu terbang dari Surabaya - Frankfurt seingatku sekitar 18 jam total termasuk transit. Berarti kalau ditambah sekitar 7 jam (kira2 lama perjalanan Sydney - Surabaya), jadilah total sekitar 25 jam (!). Lalu, perbedaan waktu juga bakal lebih parah dibanding aku dulu (beda waktu antara Indonesia - Jerman), karena letak Australia yang lebih timur daripada Indonesia. 

Nah sebelum memutuskan beli tiket, aku survey2 dulu gimana sih sebaiknya. Ada 2 alternatif yaitu:
(1) Pilih waktu transit yang lama, kalau bisa lebih dari 5 jam, supaya bisa istirahat, paling nggak ngelurusin badan, setelah duduk terus di pesawat. Beberapa artikel/pengalaman orang yg aku baca, malah menyarankan paling nggak tidur dulu di tempat transit, karena juga akan membantu proses tubuh beradaptasi dengan waktu setempat.
(2) Nggak usah berhenti terlalu lama untuk transit. Lebih cepat sampai di tempat tujuan, lebih baik. Ada yg menganalogikan ini seperti ngelepas salonpas plester, mau dilepas pelan2 atau cepet2 juga ga ada bedanya tetep sakit.. wkwk..

Aku sempat bimbang antara 2 pilihan ini, sempat lihat2 juga macam2 maskapai lalu hotel bandara yang bisa dibooking 6 jam-an. Tapi setelah lihat pilihan2 maskapai yg ada (dg waktu dan durasi terbang yg beda2), akhirnya kita mantap pilih SQ, harganya juga lumayan murah waktu itu. Dan kita juga ga bisa terlalu lama bolos cuti. Nah, waktu itu, jadwal terbang kita kira2 begini:
.Sydney - Sing kira2 8 jam. (Berangkat siang waktu Syd, nyampe malam waktu Sin. Beda waktu Syd - Sin: 2 jam)
.Transit Sing 2.5 jam.
.Sing - Paris 13 jam. (Nyampe Paris jam 6 waktu setempat, beda waktu Syd - Paris 8 jam).

Untuk perjalanan ini aku nyiapin:
1. Bantal leher untuk kita bertiga
2. Snack/makanan untuk Hanif (+ botol minum isi air)
3. Papan gambar magnetik


Thursday, 2 July 2015

Kembali ke Dieburg (part 2)

** Awal Juni 2015 ini saya berkesempatan napak tilas ke Eropa, nebeng business trip suami dan menyisihkan sedikit banyak uang tabungan untuk kesempatan yang belum tentu datang lagi. **


Sesuai rencana, selesai makan siang di pusat kota (kecil), kami kembali ke rumah prof. SW untuk menikmati pencuci mulut sambil ngobrol di kebun belakangnya. Dari dulu sampai sekarang, saya masih tetap suka dengan rumah prof. SW. Mungil, rapi, di belakang ada kolam kecil, lalu ada halaman luas memanjang ke arah belakang.

"Kamu mau minum apa? Teh? Kopi? Air?" tanya prof. SW sambil bersiap-siap membuka laci dapur. "Teh." jawab kami. "Mau pake gula?" tanyanya sambil lincah menyiapkan nampan, cangkir, dan air panas. Saya sudah tidak terkesan lagi seperti dulu, saat pernah saya dan pak AIG ke rumahnya terkait printout PCB thesis, beliau menawari kami minuman, menyiapkan, menyajikan, sekaligus mencuci gelas dan peralatannya setelah selesai. Saat itu saya terkesan sekaligus sadar, di sini tidak ada asisten rumah tangga. Selanjutnya, hal-hal seperti itu seolah jadi 'biasa saja' bagi saya. Karenanya, saat membaca cerita tentang guru (baca: profesor) mas Made Andi, saya teringat prof. SW dan tidak terlalu terkejut, begitulah adanya mereka. 

Piano dan cello tetap ada di ruang keluarga, tapi posisinya berubah, berganti sofa kecil dengan foto-foto keluarga dan anak balita..dan boks-boks mainan :D . Di Sydney atau Dieburg ternyata sama saja: ada boks berisi mainan kereta api dan Lego Duplo. Profesor membawa satu boks berisi Lego ke halaman belakang dan Hanif langsung asyik bermain.