Friday, 26 June 2015

Kembali ke Dieburg (part 1)

** Awal Juni 2015 ini saya berkesempatan napak tilas ke Eropa, nebeng business trip suami dan menyisihkan sedikit banyak uang tabungan untuk kesempatan yang belum tentu datang lagi. **

Salah satu keinginan saya saat Irfan mengajak saya dan Hanif ikut ke Eropa adalah mengunjungi prof SW (ini memang nickname dari saya dan pak AIG, muridnya yang lain), pembimbing thesis master saya di Jerman dulu. Setelah kabar-kabari via email, janjian via Whatsapp, kami pun sepakat bertemu di stasiun bandara Frankfurt: dia janji menjemput naik mobil. Sempat sungkan dan menebak-nebak apakah dia ingat kalau saya bawa Hanif yang berarti di mobilnya harus ada carseat; tapi saya ingat lagi, dari beberapa pengalaman saya ke negara lain, tidak perlu sungkan di Jerman (dan Australia :D). Saya langsung tanya beliau, dan ternyata beliau menjawab: "di mobil saya ada carseat."

Saya jadi bertanya-tanya, apakah beliau sudah punya cucu sekarang? Saya ingat dia punya dua anak perempuan seumuran saya. Rasa penasaran itu terjawab, setelah kami dijemput di meeting point arrival terminal, saya tanya carseatnya untuk siapa, dan ditunjukkannya di layar smartphonenya foto balita perempuan berambut pirang: "Ini cucu tertua saya". 

Dalam perjalanan ke rumahnya di Dieburg, kami bicara ngalor ngidul. Ternyata selain anak perempuan, dia punya satu lagi anak laki-laki. Nadanya terdengar agak sedih saat beliau cerita betapa sibuk anak laki-lakinya, kerja seharian penuh dan tetap traveling untuk urusan kerja di kala weekend. Nadanya terdengar agak sedih waktu cerita, "He's got more money than us, bigger house, but what's that all for?" Dia cerita bagaimana dia menyelesaikan PhD nya di Hannover selama 6 tahun (T_T), sempat kerja di industri beberapa tahun, sebelum akhirnya lelah setelah seringkali "working from 7 AM til 11 PM" dan memutuskan kembali ke universitas, "..which was a good decision.."


Melewati Darmstadt menuju Dieburg.


Dari airport menuju Dieburg kami melewati Darmstadt. Akhirnya... setelah 8 tahun, saya kembali lagi ke kota ini. Sejak sebelum berangkat ke Eropa saya selalu membayangkan betapa terharunya saya nanti saat kembali menginjakkan kaki di kota ini. Saya memang terharu: sedari dulu saya selalu berangan-angan kapan saya bisa kembali lagi kemari, alhamdulillah bahkan bukan hanya sendirian, tapi bertiga bersama keluarga. Pembicaraan pun beralih ke topik studi. Prof SW bilang ke Irfan, beliau senang sesekali mendengar kabar-kabar dari murid-muridnya. Tentunya kabar dan salam dari pak AIG yang sekarang juga menempuh studi S3 di Jepang membuat beliau bangga. Saya kira beliau lupa dengan kami berdua, tapi ternyata enggak :D. "Do you remember a photographer once took pictures in my lab? Do you know that they made a brochure from that? Every time international students come they hand out these brochures! So how can I forget you two?" xD Hahaha yes, I was on a brochure, this brochure :D. Mungkin juga beliau ingat karena karakter kami yang baik dan bertanggung jawab (maksudnya pak AIG, mungkin haha). Karena sebelumnya beliau sempat juga mengeluh tentang mahasiswa-mahasiswa asal 1nd1a yang jarang mau membersihkan lab dan peralatan setelah memakai.. dan saya ingat pak AIG yang sangat rapi, membereskan dan membersihkan peralatan ke dalam laci (bukan saya yang rapi :D ).


Salah satu dari sedikit yang berubah. Dulu hanya ada Darmstadt Ostbahnhof.

Kami melewati jalan tol Darmstadt-Dieburg, jalan yang sama yang saya lalui setiap hari selama 40 menit naik bis delapan tahun yang lalu, lalu memarkir mobil di halaman belakang rumahnya. Di perjalanan dia sudah memberitahu apa saja rencananya untuk menyambut kami: makan siang bersama istrinya di pusat keramaian Dieburg, jalan kaki berkeliling sebentar, lalu makan pencuci mulut di halaman belakang rumahnya, dan mengantar kami kembali. Sungguh bagaikan tamu istimewa, padahal beliaulah yang guru dan kami hanyalah murid. Teringat delapan tahun lalu, beberapa saat setelah saya dan pak AIG bekerja di bawah bimbingannya, dia mengajak kami jalan-jalan menyusuri kota-kota kecil di pesisir sungai Main yang indah, menyetir mobil Mercynya dengan kami sebagai penumpangnya, persis seperti perjalanan kali ini. "Sayang sekali kami tidak bisa lama-lama.", katanya. Akan ada beberapa tamu menginap di guesthouse beliau, rumah tepat di sebelah rumah beliau yang dibelinya dan dijadikan guesthouse.  Seperti halnya orang tua dan mertua saya, selepas pensiun prof. SW dan istrinya menikmati hidup dengan terus beraktivitas. Melakukan kegiatan sosial, sesekali masih berurusan dengan pekerjaan terkait teknik elektro, mengurus guesthouse, dan... bahagia bersama cucu.

Kami berlima berjalan beriringan menuju pusat "kota", walaupun sebutan "kota" terlalu besar dan megah untuk Dieburg. Nyaris tak ada bedanya dibanding delapan tahun lalu. Sekilas saya melihat Irfan dan berkata lewat mata saya: Inilah Dieburg, kota kecil yang selalu aku ceritakan, yang saking sepinya teman-teman sering membaca "Die" nya seperti "die" nya bahasa Inggris: Dai-burg, karena sunyi mungkin seperti kota mati. Tapi sepertinya prof. SW dan istrinya menikmati tinggal di kota ini, yang katanya telah belasan tahun ditinggali.


zum Marktplatz 
(Maaf kalau bahasa Jermannya salah :D )

Kami memesan pasta sayur dan salmon (yang di luar dugaan enak!) sambil mengobrol macam-macam, termasuk kesamaan cucunya dan Hanif: minta dibacakan satu buku cerita yang sama berulang-ulang. Selesai makan kami berputar sedikit melewati deretan toko-toko di gang kecil. Saya bertemu kembali dengan Dieburg Rathaus ("town hall"), mengingatkan kembali hari-hari yang dingin di tahun 2006, terkejut karena ada kota kecil dan sepi begini, disambut Rathaus yang telah tutup padahal hari belum juga sore ("Ha? Bukanya sampe jam 12 thok? Ini Jerman opo nDiwek?" "nDiwek itu apa pak?" "nDiwek iku neng Jombang.." guyon salah seorang dari kami berlima saat itu.). Kami pun melewati air mancur dengan patung bebek, yang masih saya ingat dengan jelas. "Anakmu pasti suka ini" kata istri prof. SW sambil menunjukkan, ternyata patung bebeknya bisa digerakkan dan ada tombol untuk menggerakkan bagian patung yang lain. Dan betul, cukup lama Hanif bermain-main di situ. "Dritta bisa berjam-jam main di sini." katanya menyebut nama cucu pertamanya.


 Patung bebek Dieburg, summer 2015.


Patung bebek Dieburg, winter 2006.


Hari semakin panas, setelah sempat membelikan Hanif es krim, prof. SW dan istri mengajak kami kembali ke rumahnya.




*Bersambung dulu ya T_T*
*Akhirnya selesai setelah nyicil beberapa kali sambil nunggu eksperimen di lab*
*Tetep mohon doa restu, semoga eksperimen dan studi saya sukses :D *




5 comments:

  1. Always a pleasure to go back and reminiscing the good ol' days, right! You seem to be very drown in your writing, i could imagine how fond you were to be able to go back to Germany after 8 years. Looking forward to reading the part 2 and other parts more ;) Sukses buat eksperimen dan studi-nya ya! Salam hangat dari tanah air :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tengkyuuuu.. Sama2 semoga dikau bs napak tilas juga. Btw Memang sengaja menulis ala2 reportase majalah gitu :p supaya terkesan agak serius,krn tulisan ini sebagai laporan saya ke pak AIG juga :D

      Delete
    2. Amiin, mudah2n bs liburan ke Jerman dlm wktu dekat. *mimpi sambil nabung* Terus Pak AIG dah baca laporan perjalanan ini blm? Kira2 laporan ini akan diponten kah? Hehe :D

      Delete
  2. ah hanif, pasti senang sekali bisa traveling dgn ibu n bapak :)
    suatu saat aku jg pengen napak tilas ke sebuah distrik kecil di pedalaman Riau tpt aku tinggal selama 2,5 tahun sblm akhirnya pindah ke Surabaya :)

    oooh ya 10 thn lagi pasti menyenangkan juga klo bisa back to Kingsford ya, menyusuri jalanan tempat main, belanja, mengunjungi teman2....

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha aku ada pengalaman tinggal 2 thn d pedalaman sulawesi tp blm pgn napak tilas ya kesana? nek keluargaku dulu udah napak tilas ke suatu pedalaman di jabar tempat bpk ibuku dulu pertama penempatan..itu hampir 20 thn kemudian pas aku dah kuliah.

      malah yg pgn napak tilas ke jepang, awal mula keluarga Ipan :D

      amin2 ayo diamini semua

      Delete