Tuesday, 30 June 2015

Mengasah Gergaji

Mohon izin reblog (manual :p) dari blogku yg satu lagi (yg serius dan sesuai EYD :D):

Mengasah Gergaji

Dulu saat SMP-SMA, saya ingat salah satu buku favorit saya adalah “The 7 Habits of Highly Effective Teens (7 Kebiasaan Remaja yang Sangat Efektif)” tulisan Steven Covey. Salah satu dari tujuh kebiasaan di buku itu yang paling saya ingat adalah: Mengasah Gergaji. Apa maksudnya?
Konon ada seorang penebang pohon yang bekerja setiap hari dengan gergajinya. Setiap hari dia semakin lihai, sehingga dari hari ke hari semakin banyak jumlah pohon yang bisa digergaji olehnya. Namun setelah beberapa saat, dia mulai menyadari bahwa ternyata jumlah pohon yang dapat ditebangnya dalam sehari sedikit demi sedikit berkurang. Dia mulai memperhatikan bahwa dia tidak lagi bekerja secepat dulu; Gergajinya mulai tumpul.
Tetap meneruskan pekerjaannya seperti biasa tidak akan memecahkan masalah, akan semakin sedikit jumlah pohon yang bisa ditebangnya dalam sehari. Penebang pohon itu mengambil keputusan yang tepat:sesekali, kita perlu berhenti sejenak untuk mengasah gergaji kita.
Read the original post here...  link reblog manual :D

Friday, 26 June 2015

Kembali ke Dieburg (part 1)

** Awal Juni 2015 ini saya berkesempatan napak tilas ke Eropa, nebeng business trip suami dan menyisihkan sedikit banyak uang tabungan untuk kesempatan yang belum tentu datang lagi. **

Salah satu keinginan saya saat Irfan mengajak saya dan Hanif ikut ke Eropa adalah mengunjungi prof SW (ini memang nickname dari saya dan pak AIG, muridnya yang lain), pembimbing thesis master saya di Jerman dulu. Setelah kabar-kabari via email, janjian via Whatsapp, kami pun sepakat bertemu di stasiun bandara Frankfurt: dia janji menjemput naik mobil. Sempat sungkan dan menebak-nebak apakah dia ingat kalau saya bawa Hanif yang berarti di mobilnya harus ada carseat; tapi saya ingat lagi, dari beberapa pengalaman saya ke negara lain, tidak perlu sungkan di Jerman (dan Australia :D). Saya langsung tanya beliau, dan ternyata beliau menjawab: "di mobil saya ada carseat."

Saya jadi bertanya-tanya, apakah beliau sudah punya cucu sekarang? Saya ingat dia punya dua anak perempuan seumuran saya. Rasa penasaran itu terjawab, setelah kami dijemput di meeting point arrival terminal, saya tanya carseatnya untuk siapa, dan ditunjukkannya di layar smartphonenya foto balita perempuan berambut pirang: "Ini cucu tertua saya". 

Dalam perjalanan ke rumahnya di Dieburg, kami bicara ngalor ngidul. Ternyata selain anak perempuan, dia punya satu lagi anak laki-laki. Nadanya terdengar agak sedih saat beliau cerita betapa sibuk anak laki-lakinya, kerja seharian penuh dan tetap traveling untuk urusan kerja di kala weekend. Nadanya terdengar agak sedih waktu cerita, "He's got more money than us, bigger house, but what's that all for?" Dia cerita bagaimana dia menyelesaikan PhD nya di Hannover selama 6 tahun (T_T), sempat kerja di industri beberapa tahun, sebelum akhirnya lelah setelah seringkali "working from 7 AM til 11 PM" dan memutuskan kembali ke universitas, "..which was a good decision.."


Melewati Darmstadt menuju Dieburg.