Friday, 29 May 2015

Sedikit demi sedikit -- Belajar bahasa Inggris


One of my (many) ideas for BEC: If the mentors and admins are too busy to post "English Essential" post, they can share a link such as this one (or another one). Then maybe once in a month the challenge can be made more advanced, relevant to that English Essential post. For example, "The post for this week's challenge should include the words "sometimes", "sometime", and "some time"" smug. That way I hope members can get more knowledge and practise their English even more with BEC!


Itu yg di atas entry yg utk sumbang ide BEC ya... kurang dari 100 kata lhooo.... nah yg di bawah ini numpang curcol wkwk... ga usah dihitung yg ini..


Dulu tau ada kolom Miss Understanding ini dari temenku yg suka ngeshare ini di FB..
Ini link album lengkapnya Miss Understanding ya: ini.




Kenapa aku hari kerja gini ngeblog semangat ngikutin BEC? Ya karena yg lainnya juga semangat, semangat jadi admin, semangat jd mentor, membernya juga semangat belajar nulis dlm bhs Inggris. Sejak dulu aku memang bersemangat dan pgn semua jd lebih pede dan terampil berbahasa Inggris. Karena aku sendiri sudah ngalami, jaman SMP aku sampai nangis karena ga ngerti pelajaran bhs Inggris. Bayangkan aku nangis hanya karena ga bisa jawab pertanyaan yg biasanya ada setelah bacaan singkat itu lho! Selepas SMP aku les di YPIA smug dan itulah titik balik aku dlm berbahasa Inggris. Alhamdulillah ketemu guru yg aku rasa salah satu orang yang paling berjasa membuat aku semakin bisa berbahasa Inggris. Karena itu jaman di kampus pun aku termasuk pernah nyoba2 dan mau jadi admin semacam English Day, atau English discussion....dan kurang sukses! Haha.. Makanya aku salut dg admin2 dan mentor2 (dan member2) BEC, semoga bisa konsisten yak. Karena aku sendiri tau dan ngalamin gimana susahnya jaga konsistensi. Apalagi kegiatan yg sifatnya voluntary. 

Baiklah kita akhiri ngalor ngidul malam ini..mohon doa semoga pekerjaanku besok lancar ya wkwk tongue *curcol*

Friday, 22 May 2015

"and it's so good to have you by my side" [EF#20]

First let's have a listen to this very short, yet beautiful, award-winning song:


Hey Hootabelle, we fly together well, 
bouncing off the clouds into an ocean full of stars
High above the city lights that shine like little diamonds

You and I, circles in the sky
My turn to hide, see if you can find me

Hey Hoot my friend, catch me if you can, 
I'll race you down to the trees, first to touch the leaves

Cause when we fly together, the sky comes alive 
and it’s so good to have you by my side
Cause when fly together the sky comes alive 
and its so good to have you by my side


This is one of many songs from Giggle and Hoot shows in ABC (Australian Broadcasting Corporation) Kids. Hootabelle is a friend of the main character Hoot. Every time it's played in the TV it reminds me of my first weeks in Australia with my family. I just started my PhD study while my husband was on his 3rd semester. We moved to Sydney with my 1.5 year old son and had to deal with everything from coping with financial difficulties and trying hard to balance family life and study. Even after finally we could get our son into childcare for four days a week, every day either my husband or I had to walked 1.5 km up the hills to my son childcare and another 1.5 km picking him up in the late afternoon, many times in the rain. Maybe the first time I heard the song I was feeling sad. Then the song really caught my heart. (The lyrics itself is simple and playful as this is meant for children, but somehow I think there's a metaphor there..)

Those difficult situations made me realise that the presence of people that we love (and love us back, if I need to add) makes us strong. That's why my opinion to EF's challenge this week is: Relationship really affects our work and life. Please excuse me for taking it to the more general point of view: Not only love relationship. I'm talking about any relationship one may have, not only spouse/lover, but also family (mother, father, brother or sister, aunt, uncle, grandma, grandpa, etc..), close friend, not so close friend, pets, a favourite thing... as long as you have someone to be by your side, you are stronger to face the life. 




Wednesday, 20 May 2015

Dua PhD candidates + satu balita

Ini ngapain Rebo2 posting d'oh.
Haha karena ada temenku yg tanya ttg "gimana sih hidup suami istri berdua ambil PhD terus ada anak balita?". Wkwk ini temen yg sama yg tanya "katanya sibuk kok masih sempet ngeblog?" yg aku jwb di kolom komen blognya ndutyke (lho piye to, yg tanya siapa..dijawab kemana.. d'ohlaughing). Karena ngeblog ini juga meringankan beban otakku, jadi hal2 yg ingin diingat2 kalau bisa segera ditulis dan kalau sudah ada recordnya di blog kan ga usah inget2 lagi (dan kapasitas otak bisa dipake hal lain, hiks..). 

Nah ini mau nyoba2 ala2 reblog gitu (tapi reblog manual, wkwk....). Jadi tulisan dari blog lain (ini pun tadi agak lama karena ribet, ya pokoknya ada deh ribetnya). Aku emang punya cita2 (yg sdh ditulis di kolom komen blog ndutyke juga, wkwk..) untuk bikin kumpulan tulisan ttg kisah selama kita rantau berjuang di sini. Nah namapun juga coba2 yak, harap maklum. Yg jelas tulisan ini dibikin sesuai EYD dan tanpa emoticon, wkwk..

Kami: Dua PhD candidates + satu balita

Saat suami saya berangkat ke Australia untuk memulai studi doktoralnya, saya pindah kembali dari rumah saya ke rumah orang tua. Anak kami masih enam bulan usianya.  Saat itu ada ART di rumah orang tua sehingga pekerjaan rumah tangga yang saya lakukan hanya menyiapkan anak saya setiap pagi dan mengasuh/mengurus anak saya sebelum dan sepulang kerja. Saat itu saya sudah mulai rutin “kerja” lagi setelah anak saya tidur malam, menyelesaikan pekerjaan di kantor dan belajar untuk persiapan mendaftar program PhD. Waktu itu saya sering membayangkan, nantinya kalau saya sudah bersama-sama studi PhD dengan suami, akan banyak malam-malam seperti itu, saat anak kami sudah tidur dan kami berdua berkutat di depan laptop masing-masing. Yang belum terbayang saat itu adalah bagaimana kami akan melakukan itu bersama sederet kewajiban dan tugas-tugas rumah tangga lainnya.

Read the original post here...  ini link reblog abal2, wkwk laughinglaughing

Saturday, 16 May 2015

Nonton (bule main) Gamelan sama Hanif

Yuhuu selamat pagi. Btw semoga judul post ini tdk dicap "bentuk inferioritas" seperti yg pernah diungkapkan salah seorang seniorku di FB jaman2 ada heboh2 turis Jerm4n keliru nyangka walikota sebagai presiden itu lhooo... big grin

("Salah satu bentuk inferioritas ini. Emang kenapa kalo orang bule main gamelan? Orang Indonesia juga banyak kok yg main piano, saxophone dll... big grin" oke2 lupakan2 khayalanku...peace2...big grin)

Aku cuma mau share (sekaligus mendokumentasikan) pengalaman ngajak Hanif nonton event musik yg formal dalam ruangan. Dulu kan sudah pernah lihat orkestra tapi di outdoor. Nah Kamis 7 Mei '15 lalu ada event UNSW Balinese Gamelan Premier. Aku taunya dari newsletter UNSW events.

Ternyata eventnya free, seneng dong. Langsung book dan share d FB. Ternyata 2 hari kemudian sudah fully booked. Di undangan tertulis pintu dibuka 7.00 malam dan pertunjukan mulai 7.30 malam. Aku Irfan Hanif berangkat bertiga n nyampai sana sekitar jam 7.15, lokasinya di IO Myers Studio (via Gate 2 UNSW). Ternyata ada snack2 ala Indonesia macam kelepon, wajik, dll, dan minuman. Kita langsung masuk ke dalam. Ternyata IO Myers Studio ini walaupun dari luar kelihatan kecil, ternyata dalamnya ada tempat duduk model tribun. Oya kita bekal bantal kecil (cushion) jaga2 kalau tempat duduknya bukan model tribun. Waktu masuk, para pemainnya kayaknya sedang "disucikan" gitu deh, sesuai cara Bali. Oya tambahan, ini para mahasiswa/i jurusan musik UNSW.

Ini pemandangan dari tempat kita duduk. Semua pemain, termasuk bapak2 dg rompi oranye (yg ternyata pemain cello yg nanti berkolaborasi dg gamelan ini), ikut dipercik2i air dan didoa2kan oleh bapak dari Bali yg pake udeng putih itu.


Ini booklet acaranya ya (yg udah rowak rawik, wkwk..). Oh jadi tau kalo UNSW Gamelan ini dikasih nama Suwitra Jaya dan acara "didoakan" sebelum tampil tadi namanya melaspas.

Tuesday, 12 May 2015

Stiker seharga satu setengah juta rupiah

Alamaaaak malah ngeblog haha... Buanyak yg mau dishare, tapi ya gitudeh, tugas utama yg prioritas pertama aja keteteran, piye mau ngeblog?? Tapi ternyata setelah dipikir2 memang dasarnya aku suka cerita2 yak, trs ngerasa kl ga segera ditulis di blog malah penuh pikiran (karena ga mau lupa.. kan blm ada recordnya (blog).. kl sdh ditulis di blog kan sdh ada recordnya). Baiklah jadi post cepet2an kali ini akan aku isi dengan kisah kita bertiga beli stiker seharga AUD 150 alias satu setengah juta rupiah (karena beli tiga tinggal dikalikan aja yaaa... total 4.5 juta whew!).

straight facestraight facestraight face

Jadi stiker apakah gerangan itu mbakyu?

clown

Wkwkwk... baiklah aku ganti judul blog ini dg judul yg ala2 post2 yg akan menarik orang2 dari search engine yaaa tongue.

Mengurus stiker/label visa Australia untuk paspor

clown

Jreng jreng...wkwkwk.... yak itulah jawabannya, stiker yg 1 lembar aje harganya AUD 150 *elus2 dompet*. Lho, sebetulnya sudah lama Oz menerapkan e visa kan? Yak betul, tapi ada negara2 tertentu yg entah males atau cupet atau curigaan masih meminta bukti fisik yg menempel di paspor. Salah satunya adalah negara Per4nc1s *disamarkan ala kadarnya*. Singkat cerita kita akan ada acara di per4nc1s *ribet yak nulis ala2 alay gini ternyata*. Aku awalnya msh pikir2 krn kan masalah biaya juga dan ga akan bisa pergi dengan tenang (namapun PhD, kapan tenangnya??). Tapi ya coba dulu, apply visa dulu.. Nah ternyata kalau apply visa Schengen lewat kedutaan per4nc1s ini, harus ada label visa oz di paspor kita (padahal kalo apply lewat kedutaan negara lain nggak usah). Jadi ya oke lah kita urus label visa nya skr. Lagian kita dulu sempet ketahan di bandara Juanda loh, gara2 e visa ini, Entah kenapa ya dulu itu, aku kira orang2 udah paham loh dg konsep e visa ini.