Sunday, 27 December 2015

Boxing Day, Cegatan Polisi, dan Menghitung 1 sampai 10

Sebelum melanjutkan cerita menyusui, hayuk nulis yang ringan-ringan dulu. (Saking ringannya, kata Ipan "Halah ngapain gitu ditulis di blog?!") Wakaka... ya gapapa.. karena ini pengalaman baru buat aku, wkwk..

Jadi kan kemarin tanggal 26 Desember, sehari setelah Natal, itu di Ostrali sini lebih dikenal dengan nama Boxing Day. Aku ga ngerti kenapa dinamain itu. Kalo kata temen ibuku yang keluarganya tinggal di Melbourne, di hari itu kan semua toko-toko banting harga habisin stok (karena kan hari Natal udah lewat, orang-orang udah ga beli kado Natal lagi). Nah saking banyaknya barang berharga miring, siap-siaplah bawa boks untuk bawa banyak barang, walhasil namanya Boxing Day. 

Ada temen lain guyon. Saat boxing day ini orang-orang pada bejubel (kalo kata mbak W di grup WA kemaren, kayak orang buyar sholat Ied, wkwk...), jadi pada rebutan barang n gontok-gontokan gitu, sampe tinju-tinjuan (boxing), jadilah dikasih nama boxing day, wkwkwk... Jadi mana yang bener? Embuh. Mari kita googling. 

Friday, 25 December 2015

Masa Menyusui Hanif (Bagian 1)

Mungkin karena akhir-akhir ini sering baca post-post ndutyke yang bertema kehamilan, aku jadi sering keinget jaman Hanif bayi dulu. Terus juga kemarin ibuku bilang "habis baca post yang "Masa Itu" jadi inget juga "masa yang lain", jaman Hanif masih di Surabaya, sejak bayi sampai usia 1.5 tahun.". Ibuku cerita sempet terharu karena ingat Hanif pernah nolak-nolak dikasih ASI perah (ASIP)...ternyata kulkas di rumah ibuku yang bermasalah.. Katanya kasian karena mungkin ASInya basi, haha.. Jadi pengen ingat-ingat dan tulis-tulis lagi masa-masa menyusui Hanif. Setelah aku liat-liat post sekitar tahun 2011 ternyata belum pernah aku tulis. Ya mungkin masa-masa itu repot-repotnya ya.. ibu baru bok.. habis gitu ditinggal suami rantau pulak. Ya mari kita dokumentasikan di sini.

Air susu baru keluar di hari ketiga
Aku kebetulan hamil hampir bareng sama 2 sobatku anak paduan suara ITS, dan si mbak T yang namanya sama kayak ndutyke :P ini sangat semangat ngajakin aku seminar ASI-ASIan gitu :P. Jaman itu kalo ga salah AIMI punya 3 seminar ASI, aku ikut yang kedua waktu hamil 5 apa 6 bulan gitu. Lalu yang pertama ikutnya seminggu sebelum lahiran (ga urut). Jadi yah lumayan dicekokin info-info macam "nanti IMD ya!" atau "nggak papa Asi belum keluar di hari(-hari?) pertama, bayi masih kuat kok.

Wednesday, 23 December 2015

Hanif Membaca dan Menulis

Sebetulnya bingung mau nulis apa krn terlalu byk yg pgn ditulis T_T. Tapi ya sutralah sebelum basi mari kita dokumentasikan tentang hobi Hanif akhir2 ini selain menggambar: membaca dan menulis. Oya, jadi inget, aku sampe blm sempet nulis ttg hobi menggambar ini, dan yang berhubungan, yaitu keputusan memasukkan Hanif ke sekolah.

Kiri: dia gambar sayur2an lalu ditulisi "Vegetables" dan "Lunch"
Kanan: dia bikin list yg tulisannya nama2 org yg dia kenal: Hanif, Bapak, Ibu, Jos, Pak Firman, Sandra, Attar.
Kalau kata gurunya, dia masih menulis secara fonetik, berdasarkan bunyinya. 

Hanif sekarang usianya 4.5 tahun. Kalau diingat2, dulu aku pertama kenalin dia huruf2 itu ya pas baru pindah kesini, usia 1.5 tahun. Aku beli huruf2 dari busa / gabus merk Munchkin yg bs ditempel di tembok kamar mandi itu lhoooo... (udah ngincer sejak di Indo, harga Rp. 45 ribuan tp blm sempet beli udah pindah ke sini. Beli di sini $ 15, mamiiiih.... T_T *elus2 dompet*).

Friday, 18 December 2015

Masa Itu



Hari ini akhirnya aku dan Irfan mengalami satu tahap yang mungkin sudah dilalui orangtua lain: menjemput anak di hari terakhirnya "sekolah". Setelah tiga tahun menghabiskan sebagian besar waktunya di Tigger's, hari ini adalah hari terakhirnya, karena tahun depan dia akan masuk TK.

Sejak beberapa hari yang lalu kami sudah beberapa kali bicara dan mengingatkan Hanif bahwa minggu ini adalah minggu terakhir dia pergi ke Tig's, Meskipun begitu, tetap ada perasaan aneh, terharu, dan hampir tidak percaya di pagi dan sore ini saat kami mengantar dan menjemputnya. 

Pagi ini saat kami mengantar dia menyusuri tanjakan (ramp) dari tempat parkir menuju centre, aku ingat hampir tiga tahun yang lalu, di bulan Februari - Maret, masa-masa awal Hanif masuk childcare, dia duduk di stroller dan aku mendorong menaiki tanjakan ini. Setelah masa orientasi seminggu (ditemani aku), di hari pertama dan kedua dia sangat antusias. Tidak ada masalah saat kami tinggal. Tapi di hari-hari selanjutnya, Hanif mulai nangis, tidak mau berpisah. Kata orang-orang, honeymoon period telah usai. Aku masih ingat, di minggu selanjutnya, ketika stroller sudah hampir diparkir dan kami siap-siap masuk, dia mulai nangis. Yang sebelumnya nangisnya setelah masuk ke dalam, jadinya nangis saat masih di luar centre. Di usianya yang masih 1.5 tahun itu, dia menangis sambil berkata "Bubu.. Bubu..", mungkin berharap ibunya tidak pergi meninggalkannya bersama anak-anak dan orang-orang asing dengan bahasa yang tidak dia pahami.

Sunday, 13 December 2015

Ten Years From Now [EF #33]

This week's BEC challenge is writing a letter for our ten-year-older selves. But pardon me please for not writing any letter :D . Instead I'll share something about planning, based on my experience (and as a reminder for myself), something I always want to share. 

I find it hard to imagine about life ten years from now. Five years time span is okay... but ten years is too long I think :D . Although I do understand that our life in the next ten years depends on our steps from now on. 

Frankly speaking, I don't even remember if I was used to making plans ahead.. Not until I started thinking of doing PhD that I started to get used to it. Maybe because during that time (and now) there are several clear deadlines, which made it easier for me to plan. 

As an example (and reminder), it took me about one year from the preparation of a PhD study until I really started the program. I just realised I had to start working on it once my husband flew to Sydney (to start his own PhD), Dec 2011. I started working on the application and searching for potential supervisor which also took some time. At the same time I also needed to have the required IELTS score for applying the program. I had to check how long would it take to have an IELTS test result. And.... hong much longer would it take if I wasn't successful in getting the required score and needed to take another test. Also, preparing the scholarship application and contacting my referees (which might also take some time).

Okay. So to make long story short: With all those preparations started in Jan 2012, I finally got to start my PhD a year later in 2013. That with even giving up my dream of getting the Australian government scholarship, because the timeline didn't match very well with my situation. If I still tried to apply for it, I needed to wait until the next year (2013) to know the result. If I was successful, the fastest pre-departure training would be 6 weeks so the earliest time I could start was July 2013. 

Thursday, 10 December 2015

Statistik Jodoh

Alamak.. dalam jeda waktu dekat bikin post berturut-turut tentang jodoh xD (dan ibuku dan ndutyke dan Rina mungkin protes lagi, "mana post tentang Hanif?"). Jadi ada apa gerangan? Ga tau xD ya pingin aja. Berhubung dalam kerjaanku aku sering 'terpaksa' menulis sesuatu padahal aku ga pingin, jadi marilah kita menulis yg memang kita pingin aja di blog ini :P.

Nah jadi kemarin2 ini sebelum tulis post yg ttg per-jodoh-an kemarin itu, aku udah kepikiran pingin ngelist dan mengkategorikan cara2 orang2 ketemu jodoh. Samplenya ya temen/sodara sendiri, pokoknya yg kenal2 aja. Oya berhubung ini hanyalah blog post, bukan karya ilmiah, jadi samplingnya seadanya saja ya :p. Oke mari kita list secara kasar.. Ini kategorisasinya:

Bertemu Jodoh

Cinlok (cinta lokasi :p)
Jreng.. ini kategori yang paling banyak samplenya menurut ingatanku. Ketemu jodoh di sekolah / tempat kuliah / tempat kerja / yang lainnya. Mari kita list satu-satu:
.Di sekolah / tempat kuliah:
1. Dua Kingsford mommies (pinjam istilah ndutyke). Mbak W ketemu suami di kelas kuliah S2. Mbak T ketemu suami, sang kakak kelas di jurusan yang sama. 
2. Dua pasang temenku (atau lebih yak?) yg akhirnya berjodoh dan menikah karena ketemu di UKM (unit kegiatan mahasiswa) paduan suara jaman aku kuliah dulu.
3. Beberapa orang temenku yg jadi pasangan saat sekolah / kuliah dan akhirnya menikah (males ngitung xD). 
4. Termasuk di sini adalah adik suamiku, yang menerapkan metode 'langsung melamar'. Yang langsung dilamar adalah teman kuliahnya sendiri. Nah kan, berarti termasuk cinlok :p.

.Di tempat kerja: banyak banget!
1. Ndutyke :D. Kategori cinlok di tempat kerja, di sebuah sekolah ternama di Surabaya, di mana ndutyke ngajar bahasa Inggris dan si abi ngajar komputer (ihiyy!!!).

Sunday, 6 December 2015

Kemarin (dan semingguan ini)

Sudah lama aku ga nulis cerita sehari2.. Kesian ibuku yg rajin buka blog ini demi mencari cerita tentang cucu, akhir2 ini cuman nemu post2 kejar setoran utk BEC xD. Mari saya coba menulis kegiatan semingguan kemarin.. termasuk kisah cucu yang sedang sakit :( .

Mulai dari yg inget aja ya sekitar 2 minggu yang lalu kita ditawarin ikut gabung grup kirim barang. Awalnya ga tertarik karena justru kampus mau tutup libur Natal ini kita lagi sibuk2nya, tapi melihat kondisi rumah yang semakin ga karuan karena kebanyakan barang, kita pun nyoba ngirim barang2 yg mungkin ga dipake. Diawali dengan gegeran sama suami beli rak buku baru ke Ikea, gara2 setelah memulai beres2 barang2 aku bingung mau ditaruh di mana! Jadi Rabu paginya aku beres2 (kan Rabu Hanif ga ke childcare), Rabu sorenya langsung minta meluncur ke Ikea! Ya ampun baru tau aku, ternyata Sydney pun macet begini macam Surabaya/Jakarta T_T. Sebetulnya Irfan pernah bilang sih, tapi baru ngerasain ya Rabu itu. Kita berangkat dari rumah pas jam pulang kantor, dan rute kita memang rute pulang kantor. Alamaak... yang biasanya 20 menit ke Ikea, waktu itu hampir 1 jam..

Wednesday, 2 December 2015

Per-jodoh-an :p

Huhuy! Pagi2 nulis judul 'jodoh', ada apa gerangan? Hahaha kagak ada apa2, ya pingin aja.. (seperti sebagian besar tulisan di blog ini). Eh tapi juga karena ada yg tanya2 krn aku blg aku nulis post ini karena hari itu 'kebetulan' banyak obrolan terkait jodoh. 

Nah jadi di hari itu, pagi2nya, pas di mobil tiba2 Irfan tanya tentang mobil butut kita "Vit menurutmu mobil kita ini tarikannya lumayan kan ya?"... yang aku jawab dengan wajah 'lah aku kan cewek.. meneketehe tarikan2 gitu?' (btw maaf saya menggeneralisir,, bhw cewe pada umumnya ga ngeh masalah otomotif dll :p) dan lalu aku malah ketawa ngakak... karena ingatan melayang ke sekitar 10 tahun yang lalu *tring tring...backsound tema fantasi ala2 sinetron*. Dan 10 menit selanjutnya di mobil aku malah cerita panjang lebar ke Irfan tentang ini (sambil kita ketawa2 heboh tentunya)....

Disclaimer (halah pake ini segala wkwk.. tapi perlu ini..) cerita ini berdasar ingatan saya ya, jadi kesan2 atau perasaan2 itu murni berdasarkan sudut pandang saya. Oya, saya masih berhubungan baik dg org2 yg diceritakan ini.

Sunday, 29 November 2015

Administering the Blog English Club [EF #32]

The latest BEC challenge is about an exciting thing we're currently doing. I was thinking of writing about preparing for my son starting school but suddenly I thought why don't I write about something related to BEC itself?

I started as an excited reader of BEC (and its members') posts. I was excited by the motivation and enthusiasm of all involved (the administers, the mentors, the members, the readers :p ). However, I also noticed the reducing numbers of participation as the time goes by, and started wondering why. About two months ago, I decided to ask if the admins might need additional personnel, and they gladly accepted me as a new admin. 

Administering BEC has been both exciting and challenging. As this is a voluntary "work", I really appreciate the hard working all the people put behind BEC. Sometimes I wonder too why I'm willing to do this, while I have my own life and responsibility to take care of. And yes, there are more things I'm wondering now... Two of those are related to BEC challenge: English and writing. So, instead of writing about how I'm administering BEC, let me write about the motivations behind it :P.

What is the importance of English proficiency? Correlation with Economy, Quality of Life, and Innovations

Tuesday, 24 November 2015

Rezeki hadir dari mana saja, dalam bentuk apa saja

Ternyata aku sudah berniat ingin tulis ini sejak tahun 2014, lalu tempo hari sempat janji sama Ryan tapi belum kesampaian sampai sekarang. Inti tulisan yang sebagai pengingat untuk diriku sendiri, syukur-syukur kalau bisa bermanfaat untuk yang lain yang baca.

Berawal dari cerita di tahun 2013, saat aku mulai kuliah S3 bersama Irfan yang sudah setahun menempuh S3, bersama Hanif yang masih 1.5 tahun. Sejak berniat untuk ikut kuliah bareng (demi ngumpul, karena ga mau LDR :P) kami udah rencana nitipkan Hanif di childcare. Kami udah tau kalo biaya childcare sangat mahal (jaman segitu $90an per hari, yes sekali lagi, aku ga salah tulis angka yes.. :P ) dan harus mengandalkan diskon (yang namanya Childcare Benefit / Rabat, CCB / CCR). Kami juga udah tau kalo mahasiswa asing yang berhak mendapatkan diskon itu adalah yang beasiswanya dari pemerintah Australia. Karena Irfan udah terlanjur studi dengan beasiswa pemerintah Indo, aku juga sempat berencana apply beasiswa kampus/Ausaid, tapi akhirnya ga jadi karena...suatu alasan yang nanti diceritakan di post lain :P . Singkat cerita, akhirnya aku pun berangkat studi dengan beasiswa yang sama seperti bapak Irfan. Inipun setelah tanya sana sini dan ternyata ada lima orang teman dengan beasiswa Indonesia yang bisa dapat CCB ini. Kata mereka, ada perkecualian dalam peraturan CCB ini, sehingga mereka pun berhak dapat berdasarkan peraturan ini.

Sampai di sini, setelah (syukurlah) akhirnya Hanif bisa masuk childcare, kami pun apply CCB ini... dan... ditolak!! Kami masih pede untuk mengajukan appeal (banding), karena dari 5 orang yang tadi aku ceritakan, 2 orang di antaranya ditolak di pengajuan pertama dan sukses di appeal pertama. Ternyata di appeal pertama ini pun kami...gagal lagi! Keputusannya tetap: kami tidak berhak mendapatkan diskon. Padahal, kami sudah mengajukan appeal dengan alasan yang kurang lebih mirip seperti 2 orang yang tadi: Karena permasalah biaya (istilahnya financial hardship). Beasiswa aku dan Irfan masing-masing $1750 per bulan. Untuk childcare 4 hari (4 hari aja loh.. karena kita ga kuat bayar 5 hari) = $90 x 4 hari = $360 per minggu = $ 1440 per bulan untuk 4 minggu atau $1800 per bulan untuk 5 minggu (ini seingatku loh.. Seingatku di atas $90 deh dulu T_T, tapi aku lupa persisnya). Sehingga kasarannya, kami bertiga harus hidup dengan beasiswa untuk 1 orang saja karena hanya itu yang tersisa setelah dipotong childcare. Sebagai gambaran, tempat tinggal ndutyke yang cuma seuprit tapi namanya The Grand itu sewanya $350 per week (akyu juga ga salah nulis loh ini... per week ya... bukan per month :3 T_T ). Jadi..ya...silakan dikalikan sendiri ya.. T_T

Tuesday, 17 November 2015

Suatu sore di Saga

Kami berdua berlari-lari kecil menuju halte, lebih cepat sedikit daripada berjalan kaki biasa tapi sepertinya tak cukup cepat untuk bisa sampai sebelum bis berangkat. Sore hari di bulan Agustus itu Jepang masih terasa panas terik dan lembab. Masih minggu pertama bulan puasa, tubuh kami mungkin masih lemas dan belum terbiasa. Dari kejauhan kami melihat bis ancang-ancang untuk berangkat, dan tanpa bicara kami seolah bersepakat untuk berhenti berlari. Beberapa detik kemudian bis pun berangkat.

Kecemasan yang sejak tadi di awang-awang, kini menjadi kenyataan. Masih satu jam lagi sampai bis berikutnya datang. Yang paling sulit kuantisipasi: harus menunggu berdua saja dengan pemuda itu. Dan mungkin kami berdua terpaksa berbuka puasa di tempat itu. Teman-teman yang biasanya ada untuk berbagi, sudah berangkat bersama bis yang meninggalkan kami. Jadi sekarang tinggal dia saja untuk berbagi.

"Beli makanan yuk?"

Tepat di balik kursi di halte kompleks pertokoan itu, sebuah supermarket. Dia mendorong satu troli kecil. Entah kenapa, tampak jelas dalam bayangan, hal yang sama terulang di masa depan: aku, dia, dan sebuah troli belanja. 

"Ini enak nggak ya? Nyoba yuk?"
"Salad rumput laut? Nggak ah."

Seolah kami berlatih untuk dialog-dialog di masa depan. 
Ah, tidak kok, kataku dalam hati.
Di depan kasir, kami mengeluarkan belanjaan dari troli. Perasaan itu muncul lagi, seperti inikah masa depan kami?

Tuesday, 3 November 2015

He Would Have Known (EF #30)

Notes:
1. It's a really good 1.5 min video. The important message of the video starts at the 35th second. 
2. I transcribed the dialogue below.



How much for the two of us?

A dollar each, and free for the kids under five. How old is he?

My son is six. Here’s two dollars.

Mister, you could have told me he was younger. I would not have known the difference.


True. But he would have known.

* * *

I hope you get a good lesson from the video. Now, it's time for another lesson for me. Time to practise the Conditional Clause Topic for this week EF challenge :D. The challenge itself is actually about "plan or regret", but I wasn't very committed this week hahaha... So I posted a really nice video instead :P


If the man had lied about his son's age, he would/could have saved some money.

Even if the man had lied about his son's age, the ticket seller would not have known the difference.

But his son would have known.

If the man had lied to the ticket seller, he would also have taught his son to lie.

If the man had lied to the ticket seller, he would not have taught a valuable principle to his son.



If I had been too lazy to share this video, I would not have inspired you to hold on to your values and principles :-)

Questions (anyone, please don't hesitate to answer this in the comment box!): I can change the "would" with other modals such as "could", "might", etc, can't I??

Thank you :-)

Sunday, 18 October 2015

Pak Marcus (EF #29)

I am now 33 years old (owww that's a lot of numbers :P ) and there has been so many people I've known and met in my life and surely some of them took a part in changing me into what I am today. One of them is the one whose name I made the title of this post. 

He was my English teacher when I took an English course twice a week in YPIA Surabaya when I was in my first year of senior high. I still remember, during my years in junior high school I didn't have a good understanding of English and sometimes I even cried because I couldn't do my English lesson homework (I do still remember these moments!). So when I graduated from junior high school, my mom sent me to an English course, where Pak Marcus became my first teacher. 

Although my English competency was boosting fast after I was taught by him, at first I didn't think or realise that he was a very good teacher. Until he got promoted and was replaced by another teacher. That was when I was not happy with the new teacher, and then I started thinking what made him different with this new teacher, or my other English teachers at school. So these are some things that he did that I think really helped me boost my English:

1. He teached mostly in English (only used Bahasa Indonesia when it's really needed)
Yes, he rarely spoke in Bahasa Indonesia when he's teaching. If the students didn't understand, he tried to explain it using simpler words, but still in English. When we still didn't understand, then he would use Bahasa Indonesia, which didn't happen very often. I believe this is one key to successful foreign language learning: we have to be forced to think and speak in that language. 


This is how my book looked like.
2 years being taught by Pak Marcus, I always had notes filling the page like this. (Thanks to my mother who took this pic :D as I requested last week :D),


2. He explained the meaning of difficult / new words using English, not Bahasa Indonesia
As you can see in the picture of my English course book above, I made notes of some words meanings in English. For example, I made note "to sneak into = to go quietly / secretly into" or "to plop down = to fall with a plop = menjatuhkan diri". Like I wrote in no. 1, this habit of always trying to use English to explain something really help us learn faster and better. 

Saturday, 3 October 2015

Songs in English by Indonesian Singers [EF #28]

This week EF challenge is about song. And my idea is to write a post about songs in English which were originally sung by Indonesia singers. As I start writing this post I get to think that, whatever you want to be, nowadays, foreign language skill (especially English?) is very important skill you need to have. Say you want to be a singer. Well, I'm sure there are so many people who have good voice and singing ability. But if you are a singer with good English as well, then you have more chances to stand out and be more widely recognised. I remember when two friends of mine released their indie album, --most of the songs were in English--, I really liked it and I recommended it to some of my non Indonesian friends. And it's easy to get them listen to it and like it (and even buy it and share it more widely to their circles).

Regarding this, I kinda envy the Malaysians for their Yuna Zarai whom I consider being successful in building her career internationally (and in my personal opinion is more unique and better recognised than Indonesians' Agnezmo, sorry to say.. --but I still wish the best for her...). Anyway, here is the list of the songs in English by Indonesian singers, not in any order, I just write it randomly based on what comes to my mind. Feel free to add more! 


Let us change the world with love | We can make a better future | and if we stand together as one
We don't need those bitter hearts | It's just a waste of time | It's time to share the love we have | Cause that's the reason we all survive 
Those four are all my favourites. Glenn and Shandy in one song! And that couple. Also. I remember Endah n Rhesa wrote almost all of their songs (or all?) in English (with really good grammar!). Their songs are good too. 


Unlock your power reveal what you can really do
no more running away, today go fight your way
And sing your mind out, sing without doubt
let me hear your voice, I wanna hear what you say
sing your mind out 
I just knew about this song just now! In her youtube channel it's said to be her "official international single". I hope she'll make it. Another Sherina's song in English which is my favourite one is Better Than Love. Despite a small grammar error in the lyrics, it is a really nice song about "a feeling which is not love, maybe even better" ("Love's too strong and a bit cliché | for now this is enough, I've got a long way").

Sunday, 27 September 2015

Solusi Laptop Panas dan Bising

Hahaha ini kok judulnya kayak iklan baris atau iklan2 kertas yg ditempel di tiang listrik sih? -__- :p
Aku mau cerita soal laptopku yg sekitar 2 minggu lalu sempet sekarat, tiap dinyalakan, ga sampe 5 menit langsung mati lagi. 

Jadi itu laptop emang udah cukup tua. Merknya HP tipe ProBook 4320s, dibeli taun 2010 dg harga lumayan murah (4 jutaan) utk speknya yg cukup lumayan. Itu belinya pas Hanif masih bayi, dan sejak saat itu aku merasakan yang namanya "punya laptop saat punya balita" -__- (udah dgr cerita temen macem2, mulai dari yg monitor laptop dicoret2 anaknya, laptop diinjak2, dibuka tutup, dibanting, dan berbagai macam tindakan abusive lainnya -__-). Laptop itupun nggak lama keyboardnya dicopot2in Hanif, dan akhirnya ga sampe 6 bln udah ada 1 tombol keyboard yg ga bisa dikembalikan lagi T_T.


Tombol angka 9 nya udah entah kemana sejak beberapa bulan setelah dibeli T_T.


Laptop ini kerjanya sebetulnya ga terlalu berat karena aku install TeamViewer dan hanya memfungsikan laptop ini sebagai "remote control" untuk pake PCku yg di kantor dan di lab. Cuma ya mungkin karena ada bagian yg kebuka, mungkin jadi rentan kemasukan debu. Ditambah lagi laptop ini hampir ga pernah dirawat :p *excuse: punya anak kecil :p. hahaha.

Sejak setahunan, laptopku ini mulai sering bersuara bising banget, kayaknya fan nya kerja keras banget. Udah gitu gampang panas. Tapi aku ga ngerasa perlu ngapa2in, krn ga ngerasa terganggu selain suaranya itu tadi. Malah kalo winter tanganku sering aku taruh di laptop ini karena anget dan enak :p xD. Lhaaa aku mulai ngerasa terganggu sejak aku tergila2 sama Wicked dan sering nonton videonya (dan terus sering download2 videonya *ooops). Jadi parahnya terasa waktu buka folder yg isinya video, laptop ini fan nya bakal muter kenceng banget, jadi bising banget, terus mati. Aku udah curiga ini pasti masalah temperatur dan saluran ventilasi yang buntu (karena usia). Aku googling2 dan solusinya emang laptop harus dibuka dan dibersihkan. Tapi karena aku dan Irfan ga ada yg berani buka laptop (takut ga bisa balikinnya :p ) akhirnya ya kita biarin aja. 

Monday, 14 September 2015

Simple Habits That (are supposed to) Change My Life [EF #27]

Yay I write this post especially for BEC's revival party. I even write this post on Monday morning (again!). Haha so that I can post it and quickly leave it and forget it doing all the Monday works whew!. This week's challenge is about simple habit that changes our life. Now that I intend to write and post quickly, three random habits (which may seem trivial tongue) popped out in my mind, which are...

1. Peeling potatoes using the cold water technique
I'm used to peel potatoes using knife, not potato peeler, which takes some time. One day one of my friends shared this potatoes peeling technique from lifehack website, which she captioned "will save your life" or something like "will change your life forever" hahaha xD. It's basically boiling your potatoes with the skin on and then quickly transferring them to cold water for about 5 seconds and removing the skin easily. By the way, I never use ice blocks as some will recommend. Just cold water is enough.

(See? Even the video says "speed-peel a potato, save 1 month of your life" xD 
Yaay I have more time for research xD)

Well of course there are some additional tricks then (such as choosing smaller potatoes etc) but now I peel my potatoes this way :D. And not interested yet in using the potato peeler.

2. Using boiling water for cooking rice with rice cooker
Hahaha this is another one which seems trivial but it saves another 1 month of my life xD (figuratively :p ). There were times when the three of us arrived home (usually around 6 PM) and no rice for dinner as I couldn't get it prepared in the morning before we went. Then I had to cook only a small amount of rice, because to cook 3 cups of rice as usual would take around half an hour, which I expect my son could not tolerate (he's really hungry coming back from the childcare!). But a friend of mine taught me to boil water first in the electric kettle and use this for cooking rice in the rice cooker. Electric kettle boils water really fast and using this already boiling water in the rice cooker cuts the time needed to cook our 3 cups of rice to only 15 minutes!

Monday, 7 September 2015

Random Lesson: On Homosexuality

Wow I never imagined (1) I would write a post on Monday morning (!); and. (2) about homosexuality (!!). Ya sekarang di sini Subuhnya udah balik pagi lagi karena winter sudah habis jadi ini habis subuhan ga bs tidur. Lalu kemarin malam alhamdulillah kelarlah paper draft yang telah menyibukkan aku selama 2 mingguan (dengan eksperimen kurang sukses selama 6 bulanan worried). Awalnya post ini mau dijuduli "Random Lessons from Musicals: Hardworking, Good Songs, and Homosexuality" tapi aku pikir aku bakal cerita banyak so..let me write with the last lesson first. 

Berawal dari aku suka banget dengan musical Wicked dan dari sekian banyak aktor/aktris yang pernah memerankan tokohnya, aku sudah punya aktor favorit untuk masing-masing tokoh. Nah salah satu aktor yang jadi favoritku untuk tokoh Fiyero adalah Kyle Dean Massey (dan inilah awalnya..). Dia adalah aktor yang secara terbuka menyatakan bahwa dia gay. Ya sebelum ini pun sudah ada ya aktor-aktor lain yang mengaku secara terbuka, kayak Jim Parsons (favorit juga.. Sheldon-nya The Big Bang Theory, sitkom PhD dan PhD candidates worried) atau Neil Patrick Harris (yang waktu aku kecil suka nontonin serial Doogie Howser, atau sekarang How I Met Your Mother). Tapi yang bisa membuat aku penasaran dan tergerak eksplorasi dan riset kecil-kecilan adalah waktu ga sengaja baca wawancaranya KDM (namanya disingkat aja ya). Dia cerita tentang bagaimana sejak kecil usia 5-6 tahun dia sudah tertarik sama anak-anak cowok di playground. Dia cuma ingat di playground pernah cium anak cowok dan dilarang, dibilangi "Little boys don't do that" dan KDM kecil malah bingung, kenapa nggak? Dia juga cerita nggak ingat pernah naksir cewek atau cium-cium cewek seperti halnya remaja-remaja cowok di Amerika.

Dan aku pun jadi penasaran. Apa sebabnya? Terakhir aku dengar soal kemungkinan penyebab homoseksualitas ini udah lamaaaa banget, waktu aku masih kuliah dulu, waktu diceritain ibuku yang habis dicurhati tetangga karena dia ga sengaja nemu kumpulan vcd film-film gay di kamar anak cowoknya. Waktu itu kalau ga salah ya ada yang bilang kemungkinan penyebabnya macam-macam; karena hilangnya figur ayah dalam keluarga, atau figur ibu yang terlalu dominan, lalu juga trauma karena pernah mengalami pelecehan seksual, apa lagi ya.. Dan sekarang, 10 tahun kemudian, aku coba cari-cari dan baca-baca, sejauh yang aku baca, ternyata sampai sekarang pun belum ada temuan ilmiah yang benar-benar bisa menjelaskan kenapa seseorang berkembang dengan orientasi seksual tertentu (termasuk yang straight ya). 

Aku sempat baca tulisan dari berbagai sudut pandang, termasuk neuroscience. Sejauh yang aku sempat baca (dan ini kan aku nulis blog post, bukan nulis jurnal, maaf ga pake referencing..) kalau nggak salah para neuroscientist ini cuma bisa menemukan perbedaan karakteristik otak orang straight dan homo, tapi belum tahu penyebabnya apa. Ini juga menarik karena cara otak merespon pun jadi beda. Saat melihat perempuan cantik, misalnya, otak laki-laki straight merespon, tapi otak laki-laki gay nggak. Cukup intriguing untukku (sori apa ya bahasa Indonya intriguing?). Oya, aku juga sempat baca ada teori yang bilang bahwa perbedaan perkembangan otak ini terjadi saat bayi di dalam kandungan ibunya (jadi parno..). Ada juga yang nambahin bahwa alasan di balik orientasi seksual seseorang mungkin "biological reason".

Sunday, 23 August 2015

Birthday Project: Elphaba & Fiyero Lego Minifigs (Yay!!)

elphaba fiyero
Very First Encounter
"Is this really how you go through life? Nearly knocking people over and not even noticing them?!"
"Maybe the driver saw green and thought it meant go."


My birthday is still a week away but I couldn't wait to start building and then share this! Yay! (warning: there'll be lots of 'yay' straight face). Let's see.. so I started to be really obsessed with Wicked (the musical) early this month and have been doing various things related to it... including planning this Elphaba - Fiyero project. Yes I know that the main theme of Wicked is not about them; it's about the (evolution of) friendship between the main characters i.e. [the wicked witch] Elphaba and [the good witch] Glinda (otherwise the poster will not show the two ladies happy). But still I'm into the love triangle part and of course the green girl and that Winkie prince! Elphaba and Fiyero became my favourite couple (which also got me trying to remember which other fav couple I had previously... which was The X Files' Mulder and Scully cool. Years ago I had their chibi-version poster hanging on my wall for quite a long time.).


elphaba fiyero in wicked
[A hint of romance] By the Lion Cub
". . . You're bleeding."
"I am?"


So I might expect some Lego maniacs (and wicked musical maniacs.. should be both I think raised eyebrows) will randomly stumble upon this post so... big hug welcome! I hope you enjoy this as much as I do! 

From the beginning I decided that I will not put too much effort and money for this one, it's only for fun. I tried to use any Lego parts that we had already at home. But of course I still needed to buy witch's properties and a green minifig as Elphaba. I've seen some other pics in the internet and surveyed some minifig possibilities: Gamora (Guardians of the Galaxy), Oola from Starwars, witch minifigure, and statue of liberty. Unfortunately, to me, the face expressions of the first three didn't really suit Elphaba, so I opted for Liberty, although this is not really satisfying either (and also her color is sand green. Oola's skin color would suit better.). I spent around $20 buying these things including a braided hair. As for the rest, I just searched from our Legos. So don't be surprised if you see Elphie is wearing a fat chef uniform (instead of her white jacket uniform xD) and else... :p

Wednesday, 12 August 2015

Re: Comfort Zone

Kenapa judulnya ada "Re" nya? Karena ini adalah reply untuk post ndutyke berjudul Comfort Zone kemarin. Bukan itu aja sih, ini juga jawaban untuk diriku sendiri yang kmrn juga jadi bertanya2 setelah baca post nya ndutyke. Jadi kemarin baru baca paragraf awalnya yg begini: "Aku pribadi blm ngeh dengan prinsip ‘leaving the comfort zone’. Not that I against it. I just simply dont understand why we should leave our comfort zone. Karena katanya klo sudah berada di comfort zone, nanti people will stuck in it dan gak berkembang karena nggak ada challenge nya."

Terus aku kayak mikir "iya ya kenapa ya?". Tapi aku malah penasaran, karena aku ingat, di buku yg aku baca jaman ABG dulu, bukunya Sean Covey yg 7 kebiasaan remaja efektif, nyebut2 ttg "zona nyaman" ini. Googling2 sebentar, dan ada sedikit pencerahan, dan aku pun sudah meninggalkan komentar super panjang di post ndutyke batting eyelashes

Untung aku masih bisa curi2 preview buku ini di page google books

(Sean Covey's The 7 Habits of Highly Effective Teens: Image captured from google books preview page


See that first sentence? "What's so wrong about enjoying your comfort zone?" Nothing. In fact, much of our time should be spent there. Kurasa pertanyaanku dan ndutyke sudah terjawab. Lalu selanjutnya, kenapa masih harus keluar dari comfort zone? The answer that (I think) I found yesterday was... because sometimes we need to.. Aku sempat mikir2 sedikit dan ternyata banyak contohnya..




Another captured image from google books preview page

Friday, 31 July 2015

Kamis Ceria

Kalo dulu pernah bikin post "Minggu Kelabu" (post jaman jebot yg mungkin kalo dibaca skr aku juga ga berani, malu! Hahaha), sekarang bikin post Kamis Ceria blushing). Hehe kemarin Rabu sebetulnya sempet semangat bikin lanjutan post tentang watak dasar, ternyata nggak kelar dan (seperti post2 lain) tersimpan sebagai draft entah kapan akan diselesaikan broken heart.

Nah tapi ini seperti biasanya, lagi-nungguin-dagangan™ (tongue baca: nungguin eksperimen) malah pgn tulis2 ttg hari Kamis kemarin. Alasannya, hari kemarin itu agak istimewa. Ada yg ultah kah? Nggak..tongue tapi rangkaian kejadiannya cukup seru, menyenangkan, nggak bikin sedih, dan patut disyukuri.

Diawali dengan bangun pagi2 setelah sholat subuh, kok tiba2 ada ide spontan (yg sebetulnya pencetusnya bukan sesuatu yg tiba2). ide yg di luar zona nyamanku ini kueksekusi dg mengirim sebuah email. Setelah sholat, tidur lagi, trs bangun, terus nyesel "Ngapain sih aku tadi pake kirim2 email gitu? xD" ya tapi sudah terlanjur, dan niatnya baik, ya udah mari melanjutkan pagi seperti biasa. 

Sebelum berangkat, ada yg ngetuk pintu, siapa gerangan? Oooooh.... ternyata ada yg datang dari belahan bumi lain, Benni... Hanif yg sudah kangen Benni bener2 keliatan seneng. Btw Benni iki sopo? Haha aku udah rencana bikin post khusus tentang Benni, semoga bisa ketulis wkwk.. Bahkan kita ajak Benni ikut ke childcare Hanif.

Saturday, 25 July 2015

Random notes about teeth [EF #26]

Haha I don't really feel like writing for EF so far, but I already promised, and a promise is a promise.. 

So the challenge this week (last week, actually :-) ) is about going to the dentist. 

Am I afraid of going to the dentist?
Yes! But the reason is because here, I'm afraid it will cost me too much! big grin
I don't know about other countries but at least in Germany and Australia, the two countries other than Indo that I've been living in, everyone should have medical insurance. Usually, optical and dental expenses are two things not covered by basic medical insurance plan (for foreigner). In Indonesia I could still afford dental service but in those two countries, it is much more expensive (as are other things, no? big grin). During my stay in Germany I was lucky not to have problem with my teeth. But here in Oz, at least two times I had dental problems. Just few months after I moved here I had problem with my dental filling, which I cured with temporary dental filling fix to save my money. But when suddenly I had toothache one afternoon, I had to spend $120 for x rays and consultation (yet the dentist couldn't find what's wrong... and magically the toothache was just gone afterwards big grinbig grin).

So how expensive is it actually? I don't know exactly..big grin Well a friend of mine said he spent more than $1000 for caring a tooth with filling problem, and another friend was flying back to his home country Iran for having a small dental surgery as he said the surgery cost plus flight ticket are still less expensive than having the surgery here...

Friday, 24 July 2015

Javanglish (juga)

Dari kemarin2 pgn tulis macem2.
Sampai siang ini tadi pas liat sandal buat wudhu yg khusus aku taruh di kantor Ipan, sandal yg enggak fashionable bangets, pgn bikin tulisan betapa sandal ini tuh "nggak banget" xD. Terus jadi ingat seleb blogger ibu IndahKur yg pernah bikin blog post khusus ttg sandal wudhu . Terus malah jadi inget, loh kan aku mau bikin tulisan kyk tulisan ibu IndahKur, yg tentang javanglish itu? Oh iyaaa...

:p Jadi ceritanya, waktu baca tulisan ibu seleb blogger Indah, yg judulnya Javanglish by Google, yg kocak banget itu, aku jadi inget juga pengalaman serupa jaman masih aktif jd dosen sebelum sekarang ini. 

Jadi kan dulu di jurusan aku itu ada kerja praktek / kerja lapangan gitu. Nah setiap selesai kerja praktek (KP) ini, mahasiswa musti kasih presentasi terkait kerja prakteknya itu, di depan mahasiswa lain dan dosen. Mirip sidang skripsi gitu lah. Nah, khusus presentasi KP ini, makalah dan sesi presentasinya harus dalam bahasa Inggris. Sejak jaman aku mahasiswa pun udah kayak gitu. Mungkin tujuannya biar mahasiswa2 terpaksa belajar dan berani ngomong dalam bahasa Inggris gitu ya. Lhaaa...tujuannya sih baik.. pelaksanaannya gimane? Itu yg bikin pusying...

Aku baru nyadar kalo kemampuan bhs Inggris sebagian besar mahasiswa2 ternyata kurang.. (taun segitu, sekitar 2009-2011..mungkin sekarang semakin baik ya, kayaknya..). Bayangin lho, nyusun slide presentasi (yg sekitar 10-20an halaman slide) dan makalahnya (4-6 halaman) itu lumayan meras otak dong kalo ga jago Inggrisan! Taun segitu seingatku google translate belum secanggih sekarang. Waktu itu yg ngetop software namanya Transtool. Itu bisa terjemahin kata per kata kayak kamus gitu, atau langsung sehalaman atau berhalaman2 pun bisa (walopun nggak jamin yeee hasil terjemahannya gimana). Mahasiswa2 yg bhs Inggrisnya pas2an inilah yg terus main hantam pake Transtool untuk nerjemahin slide2 dan makalah presentasinya. Terus udah langsung dibaca gitu aja pas sidang/presentasi. Bagi mereka yg (mungkin) ga terlalu ngerti, ya ga pusing ya langsung main baca gitu aja. Tapi kita2 yg nguji itu boooook.....pusyiiiiiiiing!!! Dan kita ketemu yg ky gitu ga cuma satu dua kelompok, dalam satu sesi bisa semuanya gitu bok. (Ya sekali lagi itu dulu ya, rasa2nya jaman sekarang udah tambah pinter2 deh bhs Inggrisnya..semoga, amin..). Bapak M yg biasanya kena giliran nguji bareng aku, biasanya semakin lama semakin gemes dan ujung2nya yg dibahas bukan kerja prakteknya tapi bhs Inggrisnya, wkwk...

Ini bbrp contohnya.. (Btw, nggak selucu ceritanya ibu Indah sih (daritadi manggil 'ibu' xD :p) tapi lumayan bisa bikin ngikik2 kecil sih...)

1. Di tengah2 presentasi. Buka slide baru, ada tulisan Electricity Awakening. *langsung terbayang ada sosok muncul dari tengah2 danau sambil membentangkan tangan.... (((Awakening)))*

Pak M: *bisik2* Electricity awakening...opo2an iku...
V: Ojok2 maksude pembangkitan listrik.
Pak M: *tanya mahasiswa* mas, electricity awakening iku opo?
Mhs: Pembangkitan listrik pak..
Pak M: Oh... mangkane, bukune diwoco mas.. Pembangkitan listrik itu electricity generation..
Mhs: Oh iya pak..
V: *bisik2* ntar ketuker lagi sama generation nya generasi.. young generation... generasi muda...  jadi pembangkitan pemuda.. xD

* * *

Tuesday, 14 July 2015

Mencapai Tujuan dengan Buku

*lagi nungguin barang dagangan ini (baca: nungguin eksperimen). mari ngeblog whistling*

Hehe setelah post lalu tentang buku, kebetulan post yang ini terkait buku lagi. Dan lagi-lagi spesifik, terkait buku anak. Kan Hanif tuh termasuk yang suka (di)baca(kan) buku. Nah, sudah agak lama kita menggunakan buku untuk membantu Hanif mencapai milestonesnya. Misalnya, saat dia dulu waktunya toilet training, aku sengaja cari-cari buku yang berhubungan dengan toilet training. Ndilalahe dulu di perpustakaan Randwick nemu buku judulnya The Prince and the Potty

The Prince and the Potty (gambar n link dari amazon yaa)

Bukunya tentang pangeran yang sudah waktunya lepas popok dan harus belajar pipis di toilet happy. Lumayan, kejadian2 nggak mengenakkan kalau si pangeran pipis sembarangan, bisa diingatkan dan diceritakan ke Hanif. Seingatku aku nggak nemu buku lain selain itu, baru nemu buku toilet training nya Fisher Price tapi itu pun saat Hanif sudah lepas popok.


Dari kiri atas searah jarum jam: Topsy and Tim Start School; Big Enough for a Bed; Calm-Down Time; Allah gave me two hands and feet.

Wednesday, 8 July 2015

Pertemanan & Persahabatan

Beberapa waktu yg lalu, topik 'pertemanan' sempat ada di pikiran aku setelah Rina membahas tentang itu lewat blog postku dan post dia yg dulu ttg teman. Kami sama2 sadar, bahwa yg namanya pertemanan itu berevolusi, berubah, dan pertemanan yg awet juga tdk hrs berarti sering berkomunikasi dan berinteraksi. Kam juga sadar bhw pertemanan bisa merenggang atau bahkan putus hubungannya. Sebelum itu aku mlh udah ada rencana nulis post judulnya "That's it?" (iya kdg udh ada bayangan judul post :D). Intinya ttg hubungan aku dg teman2 aku sesama student PhD di grup aku. Yg udah pada submit/lulus trs balik ke negara masing2...udah susah saling kabar2i.. Pdhl dulu kita yah layaknya student2 senasib sepenanggungan..susah senang bersama (yes PhD susah yes, aku baru tau.. :( :p ) kita akrab bgt sampe saling kenal sama keluarga/pasangan masing2..tapi begitu pisah negara (yg berarti pisah time zone, dst), udah deh jarang bgt komunikasi dan ada yg sampe skr blm balesin sapaan silaturahmi di FB atau email.. Makanya dulu pgn tulis post 'that's it' krn..bhs kerennya, after all we've been through together...that's it??! Gitudeh...

Nah hbs Rina 'memicu' mikir2 ttg pertemanan itu, kok ndilalah pas bacain Hanif cerita,jd ngeh,kok tnyt cukup byk juga ya buku2 cerita Hanif yg inti ceritanya mirip dg masalah pertemanan yg aku ceritain tadi? Ini coba aku share sebagian yg jd favorit aku.. Oya mhn maaf buku dan bahasanya disesuaikan dg kondisi lokal ya :D (maksudnya inggrisan).. Sebetulnya aku penasaran loh dg buku2 cerita Indonesia..

Masih ada buku2 lain loh :D

Saturday, 4 July 2015

Share pengalaman: terbang 21++ jam bersama balita

** Awal Juni 2015 ini saya berkesempatan napak tilas ke Eropa, nebeng business trip suami dan menyisihkan sedikit banyak uang tabungan untuk kesempatan yang belum tentu datang lagi. **

Masih terkait napak tilas ke Eropa yang lalu, aku pengen mendokumentasikan sekaligus share pengalaman kami bertiga ikut penerbangan panjang dan adaptasi di tempat tujuan...bersama Hanif!

Jadi sejak awal aku sudah tau bahwa perjalanan Australia - Eropa (Sydney - Paris) ini bakal panjang. Karena pengalaman terakhir aku dulu terbang dari Surabaya - Frankfurt seingatku sekitar 18 jam total termasuk transit. Berarti kalau ditambah sekitar 7 jam (kira2 lama perjalanan Sydney - Surabaya), jadilah total sekitar 25 jam (!). Lalu, perbedaan waktu juga bakal lebih parah dibanding aku dulu (beda waktu antara Indonesia - Jerman), karena letak Australia yang lebih timur daripada Indonesia. 

Nah sebelum memutuskan beli tiket, aku survey2 dulu gimana sih sebaiknya. Ada 2 alternatif yaitu:
(1) Pilih waktu transit yang lama, kalau bisa lebih dari 5 jam, supaya bisa istirahat, paling nggak ngelurusin badan, setelah duduk terus di pesawat. Beberapa artikel/pengalaman orang yg aku baca, malah menyarankan paling nggak tidur dulu di tempat transit, karena juga akan membantu proses tubuh beradaptasi dengan waktu setempat.
(2) Nggak usah berhenti terlalu lama untuk transit. Lebih cepat sampai di tempat tujuan, lebih baik. Ada yg menganalogikan ini seperti ngelepas salonpas plester, mau dilepas pelan2 atau cepet2 juga ga ada bedanya tetep sakit.. wkwk..

Aku sempat bimbang antara 2 pilihan ini, sempat lihat2 juga macam2 maskapai lalu hotel bandara yang bisa dibooking 6 jam-an. Tapi setelah lihat pilihan2 maskapai yg ada (dg waktu dan durasi terbang yg beda2), akhirnya kita mantap pilih SQ, harganya juga lumayan murah waktu itu. Dan kita juga ga bisa terlalu lama bolos cuti. Nah, waktu itu, jadwal terbang kita kira2 begini:
.Sydney - Sing kira2 8 jam. (Berangkat siang waktu Syd, nyampe malam waktu Sin. Beda waktu Syd - Sin: 2 jam)
.Transit Sing 2.5 jam.
.Sing - Paris 13 jam. (Nyampe Paris jam 6 waktu setempat, beda waktu Syd - Paris 8 jam).

Untuk perjalanan ini aku nyiapin:
1. Bantal leher untuk kita bertiga
2. Snack/makanan untuk Hanif (+ botol minum isi air)
3. Papan gambar magnetik


Thursday, 2 July 2015

Kembali ke Dieburg (part 2)

** Awal Juni 2015 ini saya berkesempatan napak tilas ke Eropa, nebeng business trip suami dan menyisihkan sedikit banyak uang tabungan untuk kesempatan yang belum tentu datang lagi. **


Sesuai rencana, selesai makan siang di pusat kota (kecil), kami kembali ke rumah prof. SW untuk menikmati pencuci mulut sambil ngobrol di kebun belakangnya. Dari dulu sampai sekarang, saya masih tetap suka dengan rumah prof. SW. Mungil, rapi, di belakang ada kolam kecil, lalu ada halaman luas memanjang ke arah belakang.

"Kamu mau minum apa? Teh? Kopi? Air?" tanya prof. SW sambil bersiap-siap membuka laci dapur. "Teh." jawab kami. "Mau pake gula?" tanyanya sambil lincah menyiapkan nampan, cangkir, dan air panas. Saya sudah tidak terkesan lagi seperti dulu, saat pernah saya dan pak AIG ke rumahnya terkait printout PCB thesis, beliau menawari kami minuman, menyiapkan, menyajikan, sekaligus mencuci gelas dan peralatannya setelah selesai. Saat itu saya terkesan sekaligus sadar, di sini tidak ada asisten rumah tangga. Selanjutnya, hal-hal seperti itu seolah jadi 'biasa saja' bagi saya. Karenanya, saat membaca cerita tentang guru (baca: profesor) mas Made Andi, saya teringat prof. SW dan tidak terlalu terkejut, begitulah adanya mereka. 

Piano dan cello tetap ada di ruang keluarga, tapi posisinya berubah, berganti sofa kecil dengan foto-foto keluarga dan anak balita..dan boks-boks mainan :D . Di Sydney atau Dieburg ternyata sama saja: ada boks berisi mainan kereta api dan Lego Duplo. Profesor membawa satu boks berisi Lego ke halaman belakang dan Hanif langsung asyik bermain. 

Tuesday, 30 June 2015

Mengasah Gergaji

Mohon izin reblog (manual :p) dari blogku yg satu lagi (yg serius dan sesuai EYD :D):

Mengasah Gergaji

Dulu saat SMP-SMA, saya ingat salah satu buku favorit saya adalah “The 7 Habits of Highly Effective Teens (7 Kebiasaan Remaja yang Sangat Efektif)” tulisan Steven Covey. Salah satu dari tujuh kebiasaan di buku itu yang paling saya ingat adalah: Mengasah Gergaji. Apa maksudnya?
Konon ada seorang penebang pohon yang bekerja setiap hari dengan gergajinya. Setiap hari dia semakin lihai, sehingga dari hari ke hari semakin banyak jumlah pohon yang bisa digergaji olehnya. Namun setelah beberapa saat, dia mulai menyadari bahwa ternyata jumlah pohon yang dapat ditebangnya dalam sehari sedikit demi sedikit berkurang. Dia mulai memperhatikan bahwa dia tidak lagi bekerja secepat dulu; Gergajinya mulai tumpul.
Tetap meneruskan pekerjaannya seperti biasa tidak akan memecahkan masalah, akan semakin sedikit jumlah pohon yang bisa ditebangnya dalam sehari. Penebang pohon itu mengambil keputusan yang tepat:sesekali, kita perlu berhenti sejenak untuk mengasah gergaji kita.
Read the original post here...  link reblog manual :D

Friday, 26 June 2015

Kembali ke Dieburg (part 1)

** Awal Juni 2015 ini saya berkesempatan napak tilas ke Eropa, nebeng business trip suami dan menyisihkan sedikit banyak uang tabungan untuk kesempatan yang belum tentu datang lagi. **

Salah satu keinginan saya saat Irfan mengajak saya dan Hanif ikut ke Eropa adalah mengunjungi prof SW (ini memang nickname dari saya dan pak AIG, muridnya yang lain), pembimbing thesis master saya di Jerman dulu. Setelah kabar-kabari via email, janjian via Whatsapp, kami pun sepakat bertemu di stasiun bandara Frankfurt: dia janji menjemput naik mobil. Sempat sungkan dan menebak-nebak apakah dia ingat kalau saya bawa Hanif yang berarti di mobilnya harus ada carseat; tapi saya ingat lagi, dari beberapa pengalaman saya ke negara lain, tidak perlu sungkan di Jerman (dan Australia :D). Saya langsung tanya beliau, dan ternyata beliau menjawab: "di mobil saya ada carseat."

Saya jadi bertanya-tanya, apakah beliau sudah punya cucu sekarang? Saya ingat dia punya dua anak perempuan seumuran saya. Rasa penasaran itu terjawab, setelah kami dijemput di meeting point arrival terminal, saya tanya carseatnya untuk siapa, dan ditunjukkannya di layar smartphonenya foto balita perempuan berambut pirang: "Ini cucu tertua saya". 

Dalam perjalanan ke rumahnya di Dieburg, kami bicara ngalor ngidul. Ternyata selain anak perempuan, dia punya satu lagi anak laki-laki. Nadanya terdengar agak sedih saat beliau cerita betapa sibuk anak laki-lakinya, kerja seharian penuh dan tetap traveling untuk urusan kerja di kala weekend. Nadanya terdengar agak sedih waktu cerita, "He's got more money than us, bigger house, but what's that all for?" Dia cerita bagaimana dia menyelesaikan PhD nya di Hannover selama 6 tahun (T_T), sempat kerja di industri beberapa tahun, sebelum akhirnya lelah setelah seringkali "working from 7 AM til 11 PM" dan memutuskan kembali ke universitas, "..which was a good decision.."


Melewati Darmstadt menuju Dieburg.


Friday, 29 May 2015

Sedikit demi sedikit -- Belajar bahasa Inggris


One of my (many) ideas for BEC: If the mentors and admins are too busy to post "English Essential" post, they can share a link such as this one (or another one). Then maybe once in a month the challenge can be made more advanced, relevant to that English Essential post. For example, "The post for this week's challenge should include the words "sometimes", "sometime", and "some time"" smug. That way I hope members can get more knowledge and practise their English even more with BEC!


Itu yg di atas entry yg utk sumbang ide BEC ya... kurang dari 100 kata lhooo.... nah yg di bawah ini numpang curcol wkwk... ga usah dihitung yg ini..


Dulu tau ada kolom Miss Understanding ini dari temenku yg suka ngeshare ini di FB..
Ini link album lengkapnya Miss Understanding ya: ini.




Kenapa aku hari kerja gini ngeblog semangat ngikutin BEC? Ya karena yg lainnya juga semangat, semangat jadi admin, semangat jd mentor, membernya juga semangat belajar nulis dlm bhs Inggris. Sejak dulu aku memang bersemangat dan pgn semua jd lebih pede dan terampil berbahasa Inggris. Karena aku sendiri sudah ngalami, jaman SMP aku sampai nangis karena ga ngerti pelajaran bhs Inggris. Bayangkan aku nangis hanya karena ga bisa jawab pertanyaan yg biasanya ada setelah bacaan singkat itu lho! Selepas SMP aku les di YPIA smug dan itulah titik balik aku dlm berbahasa Inggris. Alhamdulillah ketemu guru yg aku rasa salah satu orang yang paling berjasa membuat aku semakin bisa berbahasa Inggris. Karena itu jaman di kampus pun aku termasuk pernah nyoba2 dan mau jadi admin semacam English Day, atau English discussion....dan kurang sukses! Haha.. Makanya aku salut dg admin2 dan mentor2 (dan member2) BEC, semoga bisa konsisten yak. Karena aku sendiri tau dan ngalamin gimana susahnya jaga konsistensi. Apalagi kegiatan yg sifatnya voluntary. 

Baiklah kita akhiri ngalor ngidul malam ini..mohon doa semoga pekerjaanku besok lancar ya wkwk tongue *curcol*

Friday, 22 May 2015

"and it's so good to have you by my side" [EF#20]

First let's have a listen to this very short, yet beautiful, award-winning song:


Hey Hootabelle, we fly together well, 
bouncing off the clouds into an ocean full of stars
High above the city lights that shine like little diamonds

You and I, circles in the sky
My turn to hide, see if you can find me

Hey Hoot my friend, catch me if you can, 
I'll race you down to the trees, first to touch the leaves

Cause when we fly together, the sky comes alive 
and it’s so good to have you by my side
Cause when fly together the sky comes alive 
and its so good to have you by my side


This is one of many songs from Giggle and Hoot shows in ABC (Australian Broadcasting Corporation) Kids. Hootabelle is a friend of the main character Hoot. Every time it's played in the TV it reminds me of my first weeks in Australia with my family. I just started my PhD study while my husband was on his 3rd semester. We moved to Sydney with my 1.5 year old son and had to deal with everything from coping with financial difficulties and trying hard to balance family life and study. Even after finally we could get our son into childcare for four days a week, every day either my husband or I had to walked 1.5 km up the hills to my son childcare and another 1.5 km picking him up in the late afternoon, many times in the rain. Maybe the first time I heard the song I was feeling sad. Then the song really caught my heart. (The lyrics itself is simple and playful as this is meant for children, but somehow I think there's a metaphor there..)

Those difficult situations made me realise that the presence of people that we love (and love us back, if I need to add) makes us strong. That's why my opinion to EF's challenge this week is: Relationship really affects our work and life. Please excuse me for taking it to the more general point of view: Not only love relationship. I'm talking about any relationship one may have, not only spouse/lover, but also family (mother, father, brother or sister, aunt, uncle, grandma, grandpa, etc..), close friend, not so close friend, pets, a favourite thing... as long as you have someone to be by your side, you are stronger to face the life. 




Wednesday, 20 May 2015

Dua PhD candidates + satu balita

Ini ngapain Rebo2 posting d'oh.
Haha karena ada temenku yg tanya ttg "gimana sih hidup suami istri berdua ambil PhD terus ada anak balita?". Wkwk ini temen yg sama yg tanya "katanya sibuk kok masih sempet ngeblog?" yg aku jwb di kolom komen blognya ndutyke (lho piye to, yg tanya siapa..dijawab kemana.. d'ohlaughing). Karena ngeblog ini juga meringankan beban otakku, jadi hal2 yg ingin diingat2 kalau bisa segera ditulis dan kalau sudah ada recordnya di blog kan ga usah inget2 lagi (dan kapasitas otak bisa dipake hal lain, hiks..). 

Nah ini mau nyoba2 ala2 reblog gitu (tapi reblog manual, wkwk....). Jadi tulisan dari blog lain (ini pun tadi agak lama karena ribet, ya pokoknya ada deh ribetnya). Aku emang punya cita2 (yg sdh ditulis di kolom komen blog ndutyke juga, wkwk..) untuk bikin kumpulan tulisan ttg kisah selama kita rantau berjuang di sini. Nah namapun juga coba2 yak, harap maklum. Yg jelas tulisan ini dibikin sesuai EYD dan tanpa emoticon, wkwk..

Kami: Dua PhD candidates + satu balita

Saat suami saya berangkat ke Australia untuk memulai studi doktoralnya, saya pindah kembali dari rumah saya ke rumah orang tua. Anak kami masih enam bulan usianya.  Saat itu ada ART di rumah orang tua sehingga pekerjaan rumah tangga yang saya lakukan hanya menyiapkan anak saya setiap pagi dan mengasuh/mengurus anak saya sebelum dan sepulang kerja. Saat itu saya sudah mulai rutin “kerja” lagi setelah anak saya tidur malam, menyelesaikan pekerjaan di kantor dan belajar untuk persiapan mendaftar program PhD. Waktu itu saya sering membayangkan, nantinya kalau saya sudah bersama-sama studi PhD dengan suami, akan banyak malam-malam seperti itu, saat anak kami sudah tidur dan kami berdua berkutat di depan laptop masing-masing. Yang belum terbayang saat itu adalah bagaimana kami akan melakukan itu bersama sederet kewajiban dan tugas-tugas rumah tangga lainnya.

Read the original post here...  ini link reblog abal2, wkwk laughinglaughing

Saturday, 16 May 2015

Nonton (bule main) Gamelan sama Hanif

Yuhuu selamat pagi. Btw semoga judul post ini tdk dicap "bentuk inferioritas" seperti yg pernah diungkapkan salah seorang seniorku di FB jaman2 ada heboh2 turis Jerm4n keliru nyangka walikota sebagai presiden itu lhooo... big grin

("Salah satu bentuk inferioritas ini. Emang kenapa kalo orang bule main gamelan? Orang Indonesia juga banyak kok yg main piano, saxophone dll... big grin" oke2 lupakan2 khayalanku...peace2...big grin)

Aku cuma mau share (sekaligus mendokumentasikan) pengalaman ngajak Hanif nonton event musik yg formal dalam ruangan. Dulu kan sudah pernah lihat orkestra tapi di outdoor. Nah Kamis 7 Mei '15 lalu ada event UNSW Balinese Gamelan Premier. Aku taunya dari newsletter UNSW events.

Ternyata eventnya free, seneng dong. Langsung book dan share d FB. Ternyata 2 hari kemudian sudah fully booked. Di undangan tertulis pintu dibuka 7.00 malam dan pertunjukan mulai 7.30 malam. Aku Irfan Hanif berangkat bertiga n nyampai sana sekitar jam 7.15, lokasinya di IO Myers Studio (via Gate 2 UNSW). Ternyata ada snack2 ala Indonesia macam kelepon, wajik, dll, dan minuman. Kita langsung masuk ke dalam. Ternyata IO Myers Studio ini walaupun dari luar kelihatan kecil, ternyata dalamnya ada tempat duduk model tribun. Oya kita bekal bantal kecil (cushion) jaga2 kalau tempat duduknya bukan model tribun. Waktu masuk, para pemainnya kayaknya sedang "disucikan" gitu deh, sesuai cara Bali. Oya tambahan, ini para mahasiswa/i jurusan musik UNSW.

Ini pemandangan dari tempat kita duduk. Semua pemain, termasuk bapak2 dg rompi oranye (yg ternyata pemain cello yg nanti berkolaborasi dg gamelan ini), ikut dipercik2i air dan didoa2kan oleh bapak dari Bali yg pake udeng putih itu.


Ini booklet acaranya ya (yg udah rowak rawik, wkwk..). Oh jadi tau kalo UNSW Gamelan ini dikasih nama Suwitra Jaya dan acara "didoakan" sebelum tampil tadi namanya melaspas.