Sunday, 9 February 2014

(Ilmu tentang) Watak Dasar (dan hubungannya dengan parenting)

Dua-tiga mingguan ini minggu kelabu. Enggan rasanya melakukan apapun yang berhubungan dengan studi :( . Aku malah ingin ngeblog. Ada buanyak hal yg ingin kutulis...di blog; aku juga ingin menulis banyak hal di progress report, weekly report, malah draft paper, tapi belum ada hasil yang berarti untuk ditulis :(. Kalau untuk ngeblog sih pingin nulis banyak haha... sdh ada draft lanjutan syukur 2014 kemarin, lalu aku blm bikin lanjutan review jalan2 konferens ke Hobart (Oktober lalu! udah basi?!), lalu aku pgn tulis cerita soal temen2 yg ngalami kemalingan di sini (ehem, di kota metropolitan di Ostrali ini..), dll dll dll....

Akhirnya malam ini, pilihan cerita jatuh pada topik berikut: "Watak dasar dan hubungannya dengan parenting" (serius banget?! xD). Ya sebetulnya pgn share cerita dan pengalaman aja.. Zaman2 sekarang sih mungkin udah byk yg tau ttg ilmu watak dll ini, tp tetep pgn share pengalamanku (yg juga diperkaya cerita2 dan pengalaman ortuku, khususnya ibuku) yg mungkin berguna utk berkomunikasi membesarkan anak2 kita.. 
Oke ini ceritanya, nama tidak disamarkan, tapi detail cerita mungkin tidak mirip dg aslinya ya... harap maklum, aku juga ga ngalami langsung dan aku juga kadang tergoda utk mengimprovisasi xD hahaha...

~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Suatu hari waktu Vita masih kecil :p
Ibu menemani Vita kecil bermain-main. Balok-balok angka dan huruf tersebar di hadapan balita kecilnya itu. Pelan-pelan disusunnya balok-balok angka itu berurutan.. "Ayo Vita, belajar angka yuk? Ini satu... dua... tiga... " dan lengkap disebut angka satu sampai sembilan, sambil Vita kecil menirukan.
"Eh, angka empat yang mana ya?"
Dengan jari telunjuknya, si kecil mengurut satu per satu angka di hadapannya, "Satu.. dua.. tiga.. empat.. Ini!" sambutnya sambil menunjuk balok angka empat. 
"Pinter.. Kalau angka tiga yang mana?"
Sang balita mengulangi urutan angka-angka, "Satu.. dua.. tiga.. Ini tiga!!"
"Pinter.."

Kira-kira beberapa tahun kemudian. "Adegan" yang sama.
Ibu dan Agung kecil duduk santai di lantai, balok-balok angka berserakan. Saatnya belajar sambil bermain, pikir Ibu. "Dik Agung, ini satu... dua... tiga... empat..." kata Ibu sambil menyusun urut balok-balok angka dari satu sampai sembilan. "Adik, angkat empat yang mana ya?"
"Ini!" jawab si adik kecil cepat sambil menunjuk angka enam.
"..oh itu angka enam.."
"Ini!" jawabnya lebih cepat sambil menunjuk angka satu.
"..bukan dik, itu satu.."
"Ini!" jawabnya lagi sambil menunjuk angka dua.
"Gini caranya dik, satu.. dua.. tiga.. empat! Oooh, ini angka empat... Yuk main lagi, kalau angka satu yang mana?"
"Ini!" jawab Agung kecil dengan cepat sambil menunjuk angka tiga.

Mungkin waktu itu Ibu berpikir, kok susah banget sih ngajarin anak yang ini?!



~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Hari pertama Agung kecil masuk TK
(aku agak lupa ceritanya, tapi samar2 + sedikit improvisasi ceritanya gini:)
Vita sudah kelas 4 SD. Pulang sekolah, dia penasaran bagaimana hari pertama adiknya sekolah TK.
"Tadi Agung gimana sekolah TK, bu?"
"Adik pinter.. tadi berani langsung masuk kelas. Terus waktu ditanya bu Guru, 'siapa yang berani menyanyi di depan kelas?' langsung ngacung, 'saya bu!!'. Saking senangnya masuk sekolah, sampai ga kerasa kalau kebelet pipis dan ngompol di kelas.." Ibu menjelaskan dengan bangga dan semangat. "..kalau kamu dulu nangisan, penakut. Nggak mau sekolah. Kalau dianter, nggak mau ditinggal Ibu...."

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hihihi... dua kisah itu betul2 dialami Ibuku. Ibuku sempat bingung, kok bisa dua anak yang dibesarkan dan dididik dengan cara yang sama, hasilnya kok beda? Pertanyaan itu baru terjawab detail bertahun-tahun kemudian, saat aku hampir lulus kuliah, yaitu saat Ibuku mengikuti training, yang salah satu materinya adalah watak dasar manusia. 

Mungkin yang belajar atau kuliah psikologi sudah tidak asing lagi dengan materi ini. Atau kalau pernah baca2 buku psikologi populer, mungkin pernah dengar istilah watak Sanguinis, Melankolis dll dll.. Ya intinya sama sih, cuman yang aku suka dari materi training ibuku, lebih mudah dipahami orang awam, ketimbang istilah2 sanguinis melankolis dll tadi.

Intinya, watak dasar manusia itu terbagi dalam kuadran seperti ini: 


Yang pertama, di sumbu x: dominan dan lawannya, easygoing. Oh ya, aku lebih suka pakai istilah "non dominant" daripada easy going, karena lebih mudah dipahami dan tidak ambigu.

Oke, sekarang kita masuk kategori yang mana?
Sudah jelas ya bedanya orang dominan dan tidak dominan. Dipikir2 aja, kita lebih sering dominan atau tidak?
Err... kalau masih kurang jelas, ini ada ciri2nya:

==============================================
A DOMINANT person might be:
 Confident
 In-charge
 Extroverted
 Talkative
 Fast-paced
 Make definitive statements
 Assertive
 Outgoing
 Verbal
 Someone who tells things
===============================================
And, an EASY GOING  NON DOMINANT person might be:
 Subtle
 Compliant
 Introverted
 Quiet
 Deliberate
 Ask questions
 Accepting
 Passive
 Thoughtful
 Good listener
================================================

Oke, dari pembeda di sumbu x ini aja, sudah kelihatan bahwa watak dasar Agung adalah dominant, dan aku sebaliknya. Itu juga menjelaskan perbedaan perilaku aku dan Agung saat hari pertama masuk TK. Dan, itu juga menjawab pertanyaan Ibuku (dan juga aku) kenapa, walaupun sama2 les musik, Agung sangat pede tampil di mana2, walaupun keliru2, salah2, nggak perfect, biasa aja, dll dll xD dan kenapa kalau giliranku yang tampil, aku gugup, ga berani, takut salah, keringat dingin, deg2an, padahal aku sdh latihan keras, bagus, perfect dll dll dll... xD (post ini objektif gak sih hahaha...).

Ya karena watak dasar Agung yang dominan, sudah nature-nya dia untuk "be dominant", tampil "keluar", menonjolkan diri.. dan karena watak dasarku non dominan, ya sudah nature-ku juga untuk tidak ingin menonjolkan diri, tidak ingin jadi pusat perhatian. 
Oh well aku jadi ingat dulu waktu aku masih SD, ortuku sering nyuruh aku main electone kalau ada tamu datang, atau kalau pas ada pameran musik di mall gitu, aku sering disuruh main di electone yg dipamerkan itu T_T... dan aku selalu nggak mau, dan biasanya aku agak2 dimarahi gitu, "Kamu kan udah dileskan, masak gak mau main 1 lagu aja?" oh well, saat itu kita belum ngeh ttg watak dasar ini... jadi seorang anak yang watak dasarnya adalah introvert (non dominant) dipaksa untuk ekstrovert (dominant) dan "menampilkan dirinya"....

Terkait cerita pertama tentang perbedaan cara aku dan Agung belajar angka/huruf, tentu saja kalau lihat lagi kuadran watak dasar, jelas kelihatan bahwa watak dasar Agung adalah informal sedangkan watak dasarku adalah kebalikannya, yaitu formal. Sekilas kalau lilhat link pdf tadi, 

==============================================
An INFORMAL person’s style could be described as:
 Spontaneous
 Emotional
 Intuitive
 Responsive
 Impulsive
 Demonstrative
 Interactive
 Verbal
 Unstructured

==============================================
A FORMAL person’s style would be:
 Withholding their feelings
 Reserved
 Self-controlled
 Cautious/disciplined
 Intellectual
 Conservative
 Organized
 Structured
 Distant

Lha terus apa hubungannya dengan cerita tadi? Dan Parenting? Ya masih banyak lanjutannya, tapi semoga bisa mulai memetik hikmah dari share-ku ini.. Post ini akan bersambung banyaaaak... sekali... sambungan berikutnya.. hubungannya dg kisah Agung - Vita kecil di awal post ini :D... hubungannya dg relasi dalam pertemanan atau bahkan rumah tangga :D.

..semoga ada kesempatan untuk menulis lagi ya :D.

1 comment:

  1. Jaman gw dulu kuliah, temen2 gw pada demen mengklasifikasikan watak mereka apa. Yg Sanguinis, Melankolis, Plegmatis, Koleris...ato bhkan yg kombinasi (kaya rasa kue ajah pake kombinasi!). To be honest, gw kurang tertarik dgn tipe2 watak tsb, krn kok kyanya penjelasan-nya ribet ya.
    Gw lbh ngerti dgn 4tipe dasar yg Bu Vita jelasin di atas. Lbh mudah dmengerti... dan lgsg kebaca gw tmasuk org apa, ato org2 di skitar gw kya gmana wataknya. Ptnyaannya adl, bgaimana qt berhubungan dngan org2 yg berbeda jauh wataknya dngan qt, namun qt bs hidup dgn aman, tentram, damai dan sentosa dgn mereka? Dinantikan sambungan post telaah watak ini...
    PS: blm smpet menelusuri post2 Bu Vita yg lainnya, jangan2 dah bnyak tulisan ttg watak dasar manusia-nya :)

    ReplyDelete