Friday, 21 February 2014

Pengalaman "Bermobil" di Sydney

[yuhui!! setelah seharian estafet sampe tangan pegel, saatnya nyantai (sejenak) dengan nulis yg ringan2 n nyantai2 :p]


Setelah sempat menghapus impian punya mobil di Sydney (karena alasan ekonomi... iya, hiks) ternyata di saat yg tepat, kesempatan itu muncul. Alhamdulillah, rezeki datang dalam bentuk apa saja. Jadi, walaupun kita gagal mendapatkan potongan biaya childcare, "sejumlah uang" itu ternyata disalurkan Allah lewat jalur lain. Kapan2 akan kuceritakan tentang ini, juga tentang hikmah dan pelajaran yang kita (iya, kami :p) dapat dari situ. 

Cerita tentang mobilnya, kira2 di bulan November, bapake Hanif ngasih tau kalau mas Andi (ehem, seleb blogger bok Tongue out and winking --dan seleb dunia nyata juga ding wkwkwk) jual mobilnya, dg harga yg murah terjangkau Tongue out and winking... (pokoknya lebih murah daripada biaya childcare Hanif sebulan, hihihi...). Aku sih udah ga semangat lagi punya mobil saat itu, apalagi dg kenyataan biaya childcare Hanif akan naik di tahun 2014. Tapi bapake Hanif tetap semangat, dan saat kita lihat kondisi mobil itu, dia sreg dan berhasil meyakinkan aku untuk membeli mobil itu akhirnya (horeeee ini mobil mas Andi, semoga kecipratan kesuksesan beliau juga, wkwkwk).

SIM
SIMnya piye? Karena bapake Hanif udah pengalaman bermobil di Sydney juga waktu S2 dulu, aku ga -terlalu pgn tau ini-itu. Katanya SIM Indonesia bisa dipake di sini, ya wis aku percaya aja, ga baca2 lagi Tongue out and winking. Ada juga yg bilang SIM Indo hrs diterjemahkan resmi di Konjen, tp bapake Hanif blg dulu pernah ada cegatan polisi dan polisinya oke2 aja tuh ditunjukkan SIM tanpa terjemahan.. Ya sudah haha... semoga masih begitu *masih males cari kebenarannya xD

Child Car Seat
Seperti negara2 maju lainnya, terkait urusan safety, pasti ketat sekali. Aku udah denger kalo mau melahirkan, hrs siap punya/nyewa baby capsule ("wadah" bayi utk naik mobil.. hihihi itu istilahnya lucu ya.. abis bentuknya kayak kapsul), kalo ga punya ya ga boleh pulang (katanya sih). Dan yah di sini juga anak2 wajib duduk di car seat kalau di mobil (Oya, ada perkecualian utk kendaraan umum sih.. kadang ada taksi yg 'berani' naikin Hanif tanpa car seat, tapi dengar2 ada juga yg ga berani. Ini website transport.nsw.gov.au yg membahas hal ini.).

Coba2 search di gumtree (tokobagus-nya Oz, hihihi...), walah kok modelnya macem2 bikin bingung. Setelah baca sana-sini, ternyata memang pada dasarnya ada 3 macam car seat: 
1. untuk newbown - 2 thn
2. 2 thn - 4 thn
3. 4 thn - berapa ya? lupa :p
Tapi supaya para ortu ga usah bolak balik beli, dirancanglah tipe2 convertible car seat, yg bisa dikonvert utk tahap usia berikutnya.. lha itu yg bikin bingung krn modelnya jadi macem2. Oya, di file pdf salah satu manual produk britax ini, ada matrix yg mempermudah kita memilih tipe yg sesuai dg usia anak kita..

Setelah paham, akhirnya kita sreg pada salah satu car seat second yg dijual. Oya, walaupun byk informasi yg tdk menyarankan menggunakan car seat second, tetap ada juga panduan utk membeli car seat second; di antaranya, kita musti ngecek apakah carseat itu masih sesuai dg standar Aussie-NZ (yg diupdate tiap taun, ada websitenya kok; atau bisa juga ditanyakan ke penjualnya), lalu apakah carseat tsb pernah terkena insiden/kecelakaan..

Kita pun dtg ke rmh sang penjual. Kesan kita, orangnya cukup nggenah dan baik (hihihi apakah ini karena aku juga selalu nggenah dan baik waktu jual2 barang di tokobagus ya? Emoticon Blowing A Kiss wkwkwk) . Dia lampirkan email dari pabrik carseatnya yg menyatakan itu masih sesuai dg standar sekarang.

Nah, yg kita ga nyangka, ternyata pasangnya ribet suribet!! Ya kita kan ga tau... lha wong aku taunya temen2ku yg pake carseat di Indo itu gampang  (apa aku yg ga ngerti ya xD). Aku masih inget kadang kalo mau makan siang bareng temenku naik mobilnya, dia pindahin itu car seat anaknya dari kursi depan ke kursi belakang supaya aku bisa duduk Facebook Comments Smiley With Tongue Out. Lha ini orgnya berbaik hati mau bantuin masang (mungkin liat muka kita yg clueless abis -_-). Hal pertama yg dia cari2 ga ketemu2 adalah: "anchor point". What? aku kira itu carseat tinggal dicantolin aja ke seatbelt.. "Mobilmu aneh.." komentarnya (Emoticon Shedding Tears). "..mustinya ada anchor point di dalam sini.. untuk mengaitkan carseat nya.." sedikit2 kita mulai paham, oh jadi selain ditahan oleh sabuk pengaman, ada satu titik lagi untuk menahan si carseat ini. Setelah hampir 15 menit-an nyari2 ga ketemu (panas banget bok, waktu itu) akhirnya dia berbaik hati menelpon customer service utk mobil kita... baik yo, muahaha... dan alhamdulillah nya mbake customer service nya ya ngerti, setelah dikasih tau tipe mobilnya dia blg kl yg dicari2 ada di bagasi.. owalah...

Dan singkat cerita, terpasanglah carseat Hanif dg manis (yg ternyata besoknya diubah lagi... jd si penjual ini keliru, dia selipkan seatbelt ke bag bwh carseat, pdhl aku baca manualnya mustinya diselipkan ke sisi yg lain.. tp dia blg "it's always been like this.." -_- tuh kan bahkan org msh bisa keliru.. ).

Di sini pemerintah juga sedia free checking utk mengecek apakah pemasangan carseat kita udah bener apa belum dan hal2 lain, hihi blm pernah nyoba..

Hanif di carseatnya... Bahkan masalah forward facing dan rear facing carseat ini juga menjadi pembahasan hangat di forum2... ribet suribet!! 
(wkwkwk terbawa pola pikir kampung halaman yg kurang mementingkan keselamatan)


Parkir
Lhaaaaaa ini dia inti ceritanya, huahahha.... seru... 

Sunday, 9 February 2014

(Ilmu tentang) Watak Dasar (dan hubungannya dengan parenting)

Dua-tiga mingguan ini minggu kelabu. Enggan rasanya melakukan apapun yang berhubungan dengan studi :( . Aku malah ingin ngeblog. Ada buanyak hal yg ingin kutulis...di blog; aku juga ingin menulis banyak hal di progress report, weekly report, malah draft paper, tapi belum ada hasil yang berarti untuk ditulis :(. Kalau untuk ngeblog sih pingin nulis banyak haha... sdh ada draft lanjutan syukur 2014 kemarin, lalu aku blm bikin lanjutan review jalan2 konferens ke Hobart (Oktober lalu! udah basi?!), lalu aku pgn tulis cerita soal temen2 yg ngalami kemalingan di sini (ehem, di kota metropolitan di Ostrali ini..), dll dll dll....

Akhirnya malam ini, pilihan cerita jatuh pada topik berikut: "Watak dasar dan hubungannya dengan parenting" (serius banget?! xD). Ya sebetulnya pgn share cerita dan pengalaman aja.. Zaman2 sekarang sih mungkin udah byk yg tau ttg ilmu watak dll ini, tp tetep pgn share pengalamanku (yg juga diperkaya cerita2 dan pengalaman ortuku, khususnya ibuku) yg mungkin berguna utk berkomunikasi membesarkan anak2 kita.. 
Oke ini ceritanya, nama tidak disamarkan, tapi detail cerita mungkin tidak mirip dg aslinya ya... harap maklum, aku juga ga ngalami langsung dan aku juga kadang tergoda utk mengimprovisasi xD hahaha...

~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Suatu hari waktu Vita masih kecil :p
Ibu menemani Vita kecil bermain-main. Balok-balok angka dan huruf tersebar di hadapan balita kecilnya itu. Pelan-pelan disusunnya balok-balok angka itu berurutan.. "Ayo Vita, belajar angka yuk? Ini satu... dua... tiga... " dan lengkap disebut angka satu sampai sembilan, sambil Vita kecil menirukan.
"Eh, angka empat yang mana ya?"
Dengan jari telunjuknya, si kecil mengurut satu per satu angka di hadapannya, "Satu.. dua.. tiga.. empat.. Ini!" sambutnya sambil menunjuk balok angka empat. 
"Pinter.. Kalau angka tiga yang mana?"
Sang balita mengulangi urutan angka-angka, "Satu.. dua.. tiga.. Ini tiga!!"
"Pinter.."

Kira-kira beberapa tahun kemudian. "Adegan" yang sama.
Ibu dan Agung kecil duduk santai di lantai, balok-balok angka berserakan. Saatnya belajar sambil bermain, pikir Ibu. "Dik Agung, ini satu... dua... tiga... empat..." kata Ibu sambil menyusun urut balok-balok angka dari satu sampai sembilan. "Adik, angkat empat yang mana ya?"
"Ini!" jawab si adik kecil cepat sambil menunjuk angka enam.
"..oh itu angka enam.."
"Ini!" jawabnya lebih cepat sambil menunjuk angka satu.
"..bukan dik, itu satu.."
"Ini!" jawabnya lagi sambil menunjuk angka dua.
"Gini caranya dik, satu.. dua.. tiga.. empat! Oooh, ini angka empat... Yuk main lagi, kalau angka satu yang mana?"
"Ini!" jawab Agung kecil dengan cepat sambil menunjuk angka tiga.

Mungkin waktu itu Ibu berpikir, kok susah banget sih ngajarin anak yang ini?!