Friday, 29 November 2013

Senantiasa Bersyukur

[Sungguh banyak unek-unek (unek2 apa uneg2 sih?! Tongue out and winking) yang ingin kubagi di sini, apa daya aku kadang masih tak berani mengambil sedikit waktu untuk menulis, karena setiap waktu yang kumiliki di sini begitu berharga.. walaupun orang bilang "Der Weg ist Das Ziel", atau kira-kira mirip lah artinya dengan "proses lebih penting daripada hasil" (g terlalu mirip sih, wkwk) tapi sementara ini, aku, mahasiswa doktoral tahun pertama, masih berada dalam level "hasil adalah yang penting".. hingga aku bisa mendapatkan hasil yang berarti, barulah saat itu aku mungkin bisa bernafas lega sejenak dan menghabiskan waktuku dengan lebih wajar..

Pengumuman nama-nama penerima beasiswa Endeavour 2014 lah yang sedikit mengorek hatiku; kenapa? kapan-kapan aku ceritakan; dan membuatku ingin menulis bahkan lebih banyak lagi suka duka hidupku, tapi untuk sementara ini izinkan aku berbagi cerita ini dulu..]
---------------------------------------------------

Sore itu hujan gerimis, kami baru saja pulang dari pesta ulang tahun teman Hanif di childcare. Sebelumnya kami telah menempuh jarak kira-kira 40 km dari rumah ke acara ulang tahun teman yang lain, juga dalam keadaan hujan. Mungkin hari itu kami berjalan sejauh lebih dari 4 km dalam hujan; sudah biasa salah satu dari kami akan memakai jas hujan dan memegangi payung, Hanif pun tak pernah protes jika tiba-tiba pandangan dan ruang geraknya tertutup stroller cover.

Perjalanan sore itu belum berakhir rupanya, karena di depan tempat kami berdiri adalah sebuah shopping centre. Bukan, kami tidak berniat belanja. Shopping centre itu adalah shopping centre kenangan suamiku, karena dulu ia pernah bekerja sambilan di situ semasa kuliah master. Matanya berbinar-binar mengamati setiap sudut tempat kerjanya 6-7 tahun yang lalu. Katanya dia bekerja di bagian perishables di supermarket terkenal itu, mengangkat dan melempar boks-boks seberat 14 kg, juga menata susu segar dan yoghurt. Satu-dua kali dia berfoto sambil mengenang masa lalu. Tiba-tiba seorang karyawan supermarket yang sedang sibuk menata barang-barang menghentikan aktivitasnya, lalu menatap kami tajam. O oh... mungkin dilarang foto sembarangan.. 

"I think I've seen you before.." katanya pada suamiku.
"Oh, yes! I used to work here!,-" "..but that was a long time ago.." iya, 7 tahun yang lalu, aku bahkan belum kenal suamiku, hehe..
"When did you work here?" tanyanya.
Sambil menggelengkan kepalanya, suamiku bilang, "..seven years ago.."
Dia tertawa. "Man, I've been working here for ten years!" "-what's your name?"

Dan ternyata mereka memang sempat pernah kenal. Suamiku juga kenal dengan kakaknya, yang lalu dia bilang telah pindah ke supermarket cabang lain. Setelah ngobrol sebentar, kami pun beranjak, dan suamiku masih mengenali beberapa pegawai yang ternyata masih bekerja di situ.

Pernyataan "I've-been-working-here-for-ten-years" cukup menggugah hatiku. Karena, tak sekali-dua kali aku merasa kekurangan di sini. Di saat hari hujan atau aku sedang di puncak lelah sering membuat aku berangan-angan kami punya mobil di sini... 'andaikan tidak usah jalan kaki jauh dan tidak usah hujan-hujanan...'... tapi itu insya Allah cuma sementara, karena di Indonesia,  kami alhamdulillah bisa kemana-mana naik mobil.. Bukan sekali dua kali aku berangkat menjemput Hanif di sore hari, 1.5 km dari kantorku dan perutku sudah keroncongan, setiap melewati food court aku selalu tergoda untuk menukar 6-7 dolar dengan Gozleme atau Pide untuk membungkam perutku, tapi bagiku bahkan 7 dolar pun harus disimpan dan ditabung setiap harinya; keroncongan ditahan dulu, nanti makan puas di rumah, begitu aku mensugesti diriku sendiri. Kadang aku jadi ingat anak-anak kecil yang berjualan koran di luar pintu masuk Galaxi Mall, mungkin mereka sepertiku, perut keroncongan sambil ngiler melihat orang-orang di sekitar lalu lalang sambil menyomot JCo, McD, atau menyeruput Sour Sally. Hanya di sini aku jadi seperti anak-anak yang kelaparan itu, karena di Indonesia akulah yang menjadi orang lalu-lalang dalam keadaan kenyang.

Bagi kami hal-hal itu insya Allah cuma sementara. Begitu juga dengan teman-teman kami yang di sini mendadak jadi akrab dengan hal bersih-bersih karena memang kerja sambilan menjadi cleaning service.. Alhamdulillah, walaupun di sini kami mungkin termasuk golongan berpenghasilan minim (serius lho, research student, di sini masuk kategori low income), tapi kami 'kerja' di kantor yang nyaman, membaca, menulis, bekerja, dan bukan berpanas-panas sepanjang hari (walaupun mungkin bisa juga :D).

Ucapan "telah kerja di sini 10 tahun" cukup menggugah hatiku untuk lebih banyak bersyukur lagi; aku tak bisa membayangkan seperti apa rasanya 10 tahun berlalu dan pekerjaan dan hidup masih terus sama... padahal banyak yang seperti itu, di sini, maupun di Indonesia.
Semoga kita bisa mensyukuri setiap hal dalam hidup kita.

1 comment: