Wednesday, 13 February 2013

Hanif masuk (childcare) UNSW, alhamdulillah

Tulisan ini kutulis untuk mengingatkan aku akan keajaiban-keajaiban yang terjadi dalam hidup. Aku punya banyak tulisan seperti ini, untuk mengeluarkan aku dari kebuntuan yang kadang menjebakku dan menyadarkan bahwa tiada alasan untuk tidak berdoa setelah total berusaha..

Kali ini tentang "sekolah" untuk anakku, Hanif, atau mereka bilang sekolah itu namanya "childcare", karena usia anakku bukanlah usia sekolah, dia masih satu setengah tahun.

Sejak aku dan suamiku berencana untuk studi doktoral bersama, kami sadar, Hanif harus masuk childcare. Tapi situasi suami istri studi S3 hanya ada di benak kami saat itu, sehingga Hanif baru kami masukkan ke dalam waiting list saat usianya 7 bulan. Aku ingat suamiku pernah bilang, waiting listnya panjang.. tapi aku tak pernah mengerti sepanjang apa sih.. Aku baru mulai mengira-ngira saat aku melihat aplikasi waiting list online.. ada tulisan-tulisan semacam "waitlist your child as early as conception" dan lain sebagainya.. lalu saat kucoba mengisi formulir tersebut, di kolom isian nama anak, ada pilihan "belum dinamai/belum lahir". Wow, ini betulan bakal panjang, ternyata ada yang waitlist anaknya sejak anaknya masih di perut.



Situasi yang tadi hanya di benak, sekarang kami alami. Keinginanku ngebut di minggu-minggu awal studi, terpaksa berhenti demi gantian bertugas menjaga anak. Kami pun mendatangi tiga childcare yang ada di kampus kami, UNSW. Pertama kami ke Tigger's Honeypot, masih tutup karena libur. Ke Kanga's House, juga tutup. Kami nggak ke Pooh Corner, karena setiap hari kami lewat dan sudah pasti masih tutup :D. Kami dijanjikan untuk bisa datang lagi ke Kanga's setelah Australia Day, dan saat kami ke sana, tidak ada lowongan untuk Hanif. Waiting list nya 2 tahun, katanya. Ada yang sudah antri sejak hamil, katanya lagi. Itulah kalimat "no vacancies" yang pertama kudengar, yang ternyata kudengar terus-menerus di hari-hari berikutnya.

Berikutnya, kami menghadap manajer Early Years pusat UNSW, dan walaupun dia sangat baik dan perhatian, dia tidak bisa menjanjikan apa-apa. Kami pun tak kuasa menuntut apa-apa, karena kami mengerti posisi kami. Dia mencatat data Hanif dan kondisi kami di secarik post it, tapi kami tahu tak bisa mengandalkan post it yang ditempelkan di document keeper nya. Sepulang dari situ, aku langsung bertekad mencari childcare di luar kampus. Telah banyak cerita kudengar teman-teman yang terpaksa menitipkan anaknya di childcare selain di kampus sebelum akhirnya bisa masuk ke childcare UNSW. Seorang teman bahkan terpaksa memulangkan anaknya sementara ke Indonesia, sampai akhirnya ada lowongan tempat untuk anaknya, itu pun bukan di childcare kampus. Mulailah aku menelepon satu per satu childcare itu. Benar kata salah seorang teman, usia Hanif yang belum 2 tahun semakin memepersulit pencarian; sebagian childcare tidak menerima penitipan anak di bawah 2 tahun. Menelepon dan mendatangi childcare menjadi agenda kami di hari-hari berikutnya. Perkataan "no vacancies" atau "our waitlist period is one year" atau "you should've waitlisted your child since you were pregnant" juga menjadi kalimat yang sering kami dengar. Sampai akhirnya, ada juga satu lowongan dari childcare di Maroubra Junction, 12 menit naik bis dari rumah kami. Itu pun lowongan untuk Senin dan Jumat. Di pertemuan pertama, tempatnya cukup bagus dan kami langsung mengiyakan lowongan tersebut (ya iya... it's like,, no other choices,, tapi memang bagus dan directornya ramah dan hangat).

Senin dan Jumat memang terbatas tapi cukup lumayan untuk membuat kami bernafas sesaat. Eits, tapi mari kita berhitung. Biayanya 110 AUD per hari. 110 x 2 x 4 = 880 AUD sebulan. Lalu aku baru sadar, berarti aku harus 4 kali naik bis dalam sehari. Belum lagi di masa-masa awal, kalau-kalau Hanif nangis dan aku ditelpon oleh childcarenya, seperti cerita seorang teman yang beberapa kali ditelepon supaya datang saat anaknya nangis. Kami pun mulai berburu childcare lagi, mencari yang lebih dekat yang bisa ditempuh dengan jalan kaki. Tetap, nihil hasilnya. Aku pun mulai mempersiapkan diri untuk masa transisi ini. Aku bahkan berencana ngantor di Bowen Library di hari-hari awal, dekat dengan childcare di Maroubra itu, supaya jika sewaktu-waktu aku diminta datang untuk menenangkan Hanif, aku bisa ngirit dengan jalan kaki.

Saat pengajian, aku bertemu dengan teman yang memberi saran lain lagi. "Didatengi satu-satu aja mbak." "Lho, tapi yang di UNSW kan terpusat, Bu?" "Ya.. tapi saya dulu setelah ngadep pusat, disarankan juga untuk nemuin manajer centernya satu-satu."
Memang kami sempat terpikir seperti itu, tapi kami urungkan juga, toh apa yang bisa diusahakan? Pihak pusat sudah menyatakan penuh dan akan mengusahakan, jadi gimana?

Tapi tetap kami coba juga. Kami mengincar Pooh Corner, center terdekat yang kami lewati setiap hari. Dari gedungku bahkan jaraknya tak sampai 50 meter. Kutelepon, dan kami diminta datang. Kami bersemangat. Tapi ternyata tetap saja tak ada lowongan untuk Hanif. Di lapangan dekat Pooh Corner, kami duduk santai, lesu. "Terus gimana ini?" "Coba datengi yang lain yuk?" "Telepon dulu gak ya?" "Telepon aja.."

Karena belum pernah bicara dengan director Tigger's, center itulah yang kutelepon. Dan meluncurlah kalimat standar seperti biasanya, "Do you have any vacancies currently, for 19 months old?" dan meluncur pula jawaban standar "Oh sorry, at the moment we don't have any vacancies....but let me check....oh, sorry! We do have!" Aku tak percaya, yah, ini mungkin berlebihan, tapi aku berkali-kali bertanya dalam hati, ini beneran ya? Kututup telepon sambil memandang suami, pasti wajahku menunjukkan kebingungan, "Eh, katanya ada lowongan?!"

Sungguh aneh, untuk kedua kalinya kami ke sana, kali ini bertemu dengan directornya, lalu ditanya nama Hanif untuk dikroscek dengan waiting list online, dan "It seems okay", katanya. Kami hanya diminta menunjukkan student card kami untuk dicopy,, padahal menurut manajer pusat, ada buanyak suami istri student seperti kami, dengan antrian sebelum kami. Kami ditawari 4 hari, seminggu selain Rabu. Ketika berkeliling center, sungguh ini di luar ekspetasi kami, Center ini sungguh luas, lengkap dengan kebun dan ayam-ayam yang bebas berkeliaran. Hari Senin itu sungguh terasa aneh, karena yang baru saja kami alami serasa tak mungkin terjadi. Subhanallah, teman-teman lain pasti kaget mendengar cerita kami. Alhamdulillah, ini tak pernah kami sangka, ini rezeki. Kami bisa masuk childcare di kampus (yah walaupun sisi kampus yang jauh...20 menit jalan kaki dari rumah kami :)), di kampus lho, tak usah keluar biaya untuk bis, dan kami dapat 4 hari, tak usah lagi aku memikirkan bagaimana Hanif bisa beradaptasi di 2 childcare seandainya dia masuk ke Maroubra Junction Senin dan Jumat dan sisanya di tempat lain.. Biayanya pun lebih murah, 93 AUD per hari.. Dan ini childcare yang lebih bagus dan lebih luas..

Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, seperti halnya ada juga yang pernah bertanya padaku, kenapa hidupmu beruntung terus? Aku juga tak tau, yang jelas aku sungguh bersyukur atas segala anugerah dariNya. Perjuangan belum selesai, selanjutnya kami akan berjuang untuk potongan biaya childcare, semoga berkah, amin... Semoga tugas kami untuk studi dan tugas sebagai orangtua dapat berjalan lancar dan berbuah manis, amin...


No comments:

Post a Comment