Friday, 12 October 2012

Menata Hati

Betul, selama beberapa menit terakhir saya sedang menata hati. Sebetulnya saya ingin bicara dengan suami saya, tapi ada daya orangnya gak bisa dihubungi, jadi ya sudahlah saya tulis kegelisahan saya di blog ini.
Mulai dari mana ya, saya bingung karena sebetulnya sudah sejak lama saya ingin menulis tentang kondisi saya yang akhir-akhir ini terobsesi salah satu beasiswa asing. Hahaha.. perlu disamarkan gak seh?

Di tahun ini saya melamar 2 beasiswa. Tengah tahun, pengumuman beasiswa pertama sudah keluar: saya lolos. Sedangkan beasiswa kedua masih akan diumumkan bulan November. Saya memang memprioritaskan yang kedua, karena:

1. Beasiswa yg kedua ini mengcover studi PhD selama 4 tahun, sesuai default studi PhD di Australia, sedangkan yg pertama defaultnya 3 tahun.
2. Beasiswa yg kedua ini dari pemerintah Aussie, yg pertama dari pemerintah Indo.. saya blm pernah mndpt beasiswa dari negara maju (eh pernah ding, dari JICA utk training dulu). Saya kok sdh keder (dan males) mendengar (dan melihat, setengah mengalami juga :D) cerita2 penerima beasiswa yg pertama ini, tampaknya ribet dan tidak terlalu jelas pengaturannya. Saya agak tergiur cerita awardee2 beasiswa Aussie (atau neg lainnya semacam Jepang, dll) yang katanya "tinggal berangkat saja" T_T
3. Saya mengincar "benefit"2 yg diprioritaskan untuk penerima beasiswa pemerintah Aussie, seperti child care benefit dan.. dan.. apa lagi ya :D byuh saya belum sempet ngecek
4. Yg terakhir ini sungguh terdengar egois, saya merasa beasiswa yg kedua persaingannya lebih ketat, sehingga jika keterima, saya merasa "menang" dan puas.

Sepertinya, justru faktor yang terakhir itulah yang membuat penantian ini tidak sehat. Akhir-akhir ini saya merasa terobsesi. Tentu saja saya punya dua rencana, kalau nanti keterima dan kalau nanti tidak keterima, tapi memikirkan rencana yg kedua ini tidak membuat saya bersemangat.
Obsesi itu juga yang membuat saya beberapa kali "keseleo lidah", saking kepinginnya keterima, saya bahkan beberapa kali "terpeleset" mengucapkan kata2 semacam "saya mau puasa sunnah, karena sdg menunggu pengumuman beasiswa", atau "tahun ini kita kurban dua yuk, kan sdg nunggu pengumuman beasiswa"..

Astaghfirullah, saya baru sadar waktu kalimat2 itu sudah terucap (tapi ya masih mending lah, masih sadar :D), apa hubungan kurban dg keinginan (obsesi?!) saya terhadap beasiswa itu??
======================================================

Hari ini, duh entah kenapa yg dipilih hari ini oleh Tuhan? Saya tiba2 iseng ingin baca2 lagi aplikasi saya, dan.. betapa terkejutnya saya ketika melihat satu kesalahan yang dulu tidak saya lihat,, padahal, sudah pasti, sebelum dikirim, aplikasi itu telah saya baca dan koreksi berkali-kali..
Di isian Scholarship Awarded, saya keliru mengisi "Country of Study" yang seharusnya Germany menjadi Indonesia(!!) T_T. Tentu saja ini akan asinkron dengan isian studi saya yang mencantumkan Jerman sebagai tempat studi S2.
Saya sangat sadar, ini sudah jalan saya. Kalau saya sadar kekeliruan itu sebelum deadline aplikasi, ya pasti saya perbaiki kekeliruan itu :D. Kalau saya sadarnya setelah deadline tutup tapi beasiswa universitas masih buka, pasti saya akan apply beasiswa universitas (saya ingat disarankan teman suami saya untuk mendaftar beasiswa uni in isebagai backup, tapi saya urungkan niat itu). Nah kalau sadarnya sekarang?? Ya sudah... walaupun kemungkinan diterima tidak berarti berkurang sampai nol persen, tetapi saya harus lebih siap lagi untuk menjalani pilihan Tuhan yang mungkin kurang saya sukai, padahal itulah yang terbaik bagi saya... Bismillah.
======================================================

No comments:

Post a Comment