Tuesday, 5 February 2008

review: Interpreter of Maladies



review: Interpreter of Maladies
Jhumpa Lahiri



…inilah buku yang menarik diriku seperti magnet, di suatu siang yang malas di TGA Galaxy Mall, ke suatu sudut di baris kedua sebuah rak, lalu kulihat judulnya: Interpreter of Maladies, Penerjemah Luka, Jhumpa Lahiri. Sepertinya ada sesuatu yang istimewa..
Nggak langsung dibeli, tapi dicatat dulu judulnya di hp. Pulang ke rumah, langsung cek di internet, ternyata Lahiri seorang penulis India yang besar di US. Tuh kan… :p istimewa… karena sejak aku kuliah di Jerman, India jadi istimewa (tapi nggak selalu berarti positif lho… ;)).
Semakin istimewa karena ternyata kumpulan cerita ini dianugerahi Pulitzer Prize di tahun 2000. Sempat cari-cari di internet, langsung nemu A Temporary Matter, yang waktu itu langsung membuatku penasaran, karena… unik. Ceritanya tentang hubungan yang bermasalah antara suami-istri, yang pelan-pelan mulai terurai karena satu peristiwa: mati lampu (makanya judulnya temporary matter :p). (file-file lain yang ketemu adalah Third and Final Continent dan When Mr. Pirzada Came to Dine).
Kelebihan Lahiri adalah penggambaran suasana yang sangat detil. Suasana hati Shoba dan Shukumar yang muram seperti makan malam mereka yang dalam gelap, bisa dirasakan dari kalimat-kalimat dalam Temporary Matter.
Gitu juga di cerita Interpreter of Maladies, -Penerjemah Luka- yang baru bisa dibaca setelah aku pesan bukunya ke Kinokuniya Jakarta dan nunggu sekitar 2 mingguan. Ini juga salah satu favoritku di antara 9 cerita, tentang Mr. Kapasi yang saat weekend jadi guide dan di hari lain jadi penerjemah penyakit-penyakit pasien untuk dokter, karena dokternya nggak bisa bahasa daerah.
Setelah bertahun-tahun kerja tanpa kebanggaan sebagai ‘sekedar’ penerjemah, seorang wanita di tur yang dipandunya membuat dia tiba-tiba merasa antusias terhadap pekerjaannya, sekaligus melahirkan (halah) pikiran-pikiran gila dan romantisme yang dipendam dalam rutinitas kehidupan keluarganya sehari-hari. Seorang wanita itu juga ternyata punya permintaan untuk Mr. Kapasi, untuk menerjemahkan ‘luka’ yang dipendamnya kepada suaminya. Apa sih ‘luka’ itu, kenapa pake tanda petik segala, eheheheh…. silakan baca sendiri :).
Dari hasil cari-cari di internet kapan itu, aku juga jadi tau, untuk anak-anak jurusan sastra di US, buku ini jadi buku wajib, terutama sebagai bahan studi literatur Asia atau American-Asian. Memang isinya tentang kehidupan orang India, yang warga imigran di Inggris-Amerika atau yang di India sendiri. Jadi... bagi yang tertarik mengetahui, mempelajari, atau bahkan menjiwai (halah halah halahhhh....-> aku iki :D) aspek kehidupan orang India, ini buku yang tepat..
..dan kamu akan tahu sedikit-banyak tentang pernikahan mereka, kehidupan keluarga mereka, nilai-nilai mereka, bahkan pandangan mereka tentang perpisahan India-Pakistan...

...akhirnya selesai juga review yang pertama ini.. tulisan akeh minim gambar :p


2 comments:

  1. ehem kyanya bukunya bagus tuh,klo ada hubungannya sama india2 gt biasanya seru ya mbakyu,uhuk uhuk..ihihihi..

    ReplyDelete
  2. lho ini obyektif, emang bgs kok, kan dpt pulitzer prize.. tp alasan belinya itu yg ga obyektif wekekeke..

    ReplyDelete