Saturday, 10 September 2016

How to watch Wicked the Musical with your 5-year old son

...or, how I watched Wicked the Musical with my 5 year-old son :D

Yup, finally, after getting to know Wicked last year in August, then fangirling for about four to five months, I got to finally watch Wicked a year later, here, in my very own Sydney! Haven't written anything about it here but I'm eager to document these step-by-step how-to of how I manage to get my son to enjoy the 2.5-hour musical with my husband and me (Getting your husband to go with you and watch the show is much easier as he is a grown-up and he is your husband, after all  but with your kid?....).

How to watch a 2.5-hour musical show with a five-year old boy


A. Long before the show (when you actually didn't know if you ever get to watch the show... :D)

1. Singing the songs over and over again that he unconsciously starts singing them too 

The very first song (and phrase) my son caught was not Defying Gravity, but "nothing matters, but nothing watermelon...." of Dancing Through Life . (Note: It's actually "nothing matters, but nothing really matters..". And this was a year ago, after my first encounter with Wicked, haha.


"...when you're dancing.. through life..."


2. Getting him to know what it's all about

"Do you know what song it is?"
"No."
"It's called Dancing Through Life. It's from my favourite show. It's called Wicked. It's about a green witch."

And thereafter we referred to Wicked as "The Green Witch Show" :D.

Saturday, 3 September 2016

Mendadak Judo



Mendadak Judo: Mendadak jadi googling-googling soal Judo, sampai akhirnya kudapatkan nama teknik ini: Tai Otoshi dan Kuzure Kesa Gatame.. Diprint dan ditempel di lemari ya.
Gambarnya ambil dari sini:


*   *   *


Sudah beberapa hari kepikiran untuk nulis ini. Dan sempet nyoba inget-inget, have I already written something about Judo in this blog? 
(*I stopped here to google if I should write "judo" with capital J or not ios_emoji_flushed_face
*Since I gave lab tutor to students this semester I somehow unconsciously talked more in English than Bahasa Indonesia... including writing blogposts... ios_emoji_flushed_face)


Baiklah kembali ke Bahasa Indonesia setelah search sebentar kata kunci "les" di blog ini, ternyata belum pernah ya aku cerita tentang les Judo. Aku sudah pernah cerita ambisiku untuk ngikutkan Hanif les musik tapi ga kesampaian.

Setelah Hanif mulai sekolah TK, masih ada kesempatan ikutin les musik... yang ternyata pagi banget, sebelum sekolah.. Ya sudah lha wong kalau pagi dia diajak berangkat sekolah biasa aja kadang susah, aku urungkan niatku ikutkan les musik. Alasan lain adalah karena tentu saja standar les musiknya gak seperti standarku .

Lalu entah gimana aku kok lupa ya kenapa akhirnya aku pilih judo daripada renang, haha... Yang jelas dulu waktu dia di childcare dia ikut kegiatan ekstrakurikulernya childcare itu, tiap 2-3 minggu sekali ikut kelas judonya kampus. Nah waktu itu aku kontak head coachnya dan ikutan free trial. Pertama ikut ya kesannya positif karena yang ngajar kan sama kayak waktu dia childcare, dan isinya (tampak) senang-senang terus. Malah ada salah satu ortu yang bilang "Eh anak kamu kok udah langsung bisa? Padahal baru ikutan.". Dan aku jelasin kalau di childcare dulu dia sudah pernah ikut.

Sekali dua kali, oke, eh di minggu keempat apa kelima ya, dia mulai mogok (padahal udah bayar heu....dan  lumayan ya jumlahnya untuk ukuran kantong mahasiswa di rantau ). Di saat-saat itulah mulai googling-googling yang semacam "anak mogok les" dan semacamnya . Dan terus jadi bingung karena ada dua pendapat:
1. Anak jangan dipaksa. Kalau ga mau les, ya sudah.
2. Anak harus diajari disiplin dan konsisten. Kan sebelum mendaftar les, sudah ditawari.

#njur aku kudu piye

Saturday, 20 August 2016

Tentang menghitung tegangan dan resistor pembagi tegangan: pengalaman tutoring praktikum di sini :D

"Seperti yang sudah saya ceritakan kemarin....
.....
....."
errr... itu maksudnya kalau aku sudah tulis post tentang ceritaku jadi tutor praktikum (yang istilahnya "lab demonstrator" kalo di kampusku di sini).. apa daya 'belum sempat' (selalu alasan yang sama :( :D) jadi yah...

Seperti yang sudah belum saya ceritakan kemarin.. mulai semester ini saya memberanikan diri mendaftar menjadi tutor praktikum di kampus saya di sini (sengaja tidak sebut nama di post  ini, sudah sering disebut di blog ini :p). Mata kuliahnya adalah mata kuliah dasar teknik elektro di tahun pertama, seputar rangkaian listrik, hukum Kirchhoff, hubungan seri dan paralel,teorema rangkaian seperti Thévenin dan Norton, dan seterusnya.

Tuesday, 2 August 2016

First time sharing a ride with strangers: 8-hour journey, Darmstadt to Berlin

BEC's challenge this week is about "first time". I was thinking of writing about my first times in various airports around the world, but didn't really feel like doing it until this idea popped up.

It was motivated by two true stories that I came across in the internet about two weeks ago. The first one is about someone who was sexually harassed by her airbnb host. This young lady booked a place through airbnb with a listing mentioning "the guest will be sharing a room with the host", which turned out to be a daunting "sharing the bed with the host" instead the day she got there.  
The other one is about a rape attempt in Oslo, Norway. Another young lady left the T Bane (Norwegian train?) stop, at around 8 PM when a man followed her and later tried to rape her. I felt sorry for both of them -both happened to be Indonesian- and of course for others who experienced similar incidents, and I hope they can stay strong after these incidents. On the other hand, when I read the story for the first time, I still had this kind of thinking like "Well she should not have done that in the first place...". I mean, the booking the lady made through airbnb.. She already knew the host was a man. Sharing a flat with this stranger seems still okay..but sharing a room? Didn't she have any concerns when finally she decided to book that place? Didn't any thoughts of bad things that might happen come to her mind?

....well, maybe no.
....because suddenly I remember myself ten years ago.

I wasn't even twenty five at that time. I was in Germany for my master and that was my first time travelling and living abroad. Everything was new and so exciting. It was a semester holiday and I planned to travel to Barcelona with a friend of mine. She lived in Berlin, and since I've never been there, I wanted to visit her first and then go together from there.

I soon discovered that going by train was quite pricey, so I started to look at an option that I've heard often: Carsharing. Sharing a car journey with other people, reducing each person's travel cost. The popular "provider" at that time was mitfahrergelegenheit or we used to call it mitfahrer. I checked through their website and found out that I just needed to pay 15 to 25 Euros instead of around 70 Euros if I went by train. I consulted a close friend who was a student tutor (a "helper" for the students in the dorm) and he said he frequently used this service. No need to worry. With him backing me up finally I signed up for a ride from Darmstadt to Berlin in a guy's Opel for 15 Euros. 

Wednesday, 15 June 2016

Bingung cari ide blog post? Hayuk baca ini! (Hahahaha....)

xD huahahaha... judul apa lagi itu?! Akhir-akhir ini kan sering baca tulisan-tulisan macem gitu, dunia blogging kan lagi booming. Padahal tulisan ini mah ga ada hubungannya ama judulnya (makanya dikasih "hahaha" di judulnya :p). Ini curcol, karena kalo aku mah malah sering banyak ide untuk ditulis / didokumentasikan di blog, tapi ga ada cukup waktu luang untuk nulis... T_T

Lha terus ini tiba-tiba nulis kenapa? Ya istirahat sejenak dari tanggungan-tanggungan yang harus dikerjakan.. Mari kita refleksi diri ke beberapa minggu yang lalu...

Menengok sedikit jauh ke sekitar September - Oktober tahun lalu, saat aku masih heboh-hebohnya ngefans ama Wicked the Musical, terbersitlah ide untuk ikut conference ke USA dengan motivasi: biar bisa nonton Wicked . Kebetulan "jatah" conference yang "gede" belum aku ambil, gara-gara tahun 2015 aku paceklik paper. Bismillah, saat itu jadilah satu paper, dikirim mepet deadline. Aku yang punya kebiasaan berdoa kapan saja di mana saja lewat apa saja (ide tulisan #1), bahkan sempat menuliskan harapanku di salah satu tulisanku untuk Blog English Club tentang Future Perfect Tense: "I plan to go to USA next year. When I travel there, I will have been to ten countries." 

Aplikasi dana conference yang biasanya buka bulan Desember, tetapi entah kenapa sampai Maret pengumuman tak kunjung muncul! Mulai heboh dan akhirnya cari dana lain kesana kemarin. Berbarengan dengan itu aku mulai siap-siap lamar visa usa yang sebelumnya harus diawali: ganti paspor. Karena syaratnya, setelah tanggal kedatangan di usa, paspor masih harus berlaku minimal 6 bulan. Padahal punyaku dan Hanif akan habis kurang dari 6 bulan terhitung sejak tanggal kedatangan di usa. Ganti pasporku ga masalah, tapi ganti paspor Hanif yang ga bisa langsung karena paspornya dia masih lama masa berlakunya. Aku balik lagi sebulan kemudian sambil bikin surat pernyataan kenapa butuh penggantian paspor padahal masa berlaku masih lebih dari 6 bulan. 

Sempat ada ide tulisan ringan tentang cara murah untuk pas foto visa dan paspor (ide tulisan #2) karena beberapa kali urus visa, aku dan Irfan selalu pilih jalan berbeda . Irfan yang cenderung berhati-hati, selalu menggunakan jasa yang memang mengkhususkan untuk jasa foto paspor dan visa, di mana harganya lumayan mahal (sekitar AU$ 25 - 40 untuk 6 pas foto tanpa file). Sedangkan aku yang dari kecil entah kenapa selalu irit bin medit selalu menggunakan foto yang difoto sendiri dan dicrop, lalu dicetak biasa dengan harga 20 sen per lembar (bisa jadi 6 - 8 pas foto  *elus dompet). Alhamdulillah usaha pengiritan ini sudah terbukti berhasil, at least dari pengalaman apply visa Schengen, lalu untuk foto paspor baru, dan yang terakhir ini untuk apply visa usa (sengaja ditulis pake huruf kecil, biar ga kentara, hahaha...).

Wednesday, 11 May 2016

AADC2 dan Misteri Jodoh (No Spoiler ;) )

Note
Post ini bukan review film AADC 2 (lha wong aku ya belum liat koooook.... *gimana mau liat* *di rantau*
Meskipun udah ditulis "no spoiler" tapi untuk jaga-jaga sapa tau ada yang fans berat AADC yang bahkan ga mau liat trailernya (ini link youtubenya btw :p)... Kalau emang termasuk fans berat yang itu, ya udah ga usah baca post ini :(. Tapi buat yang udah liat trailernya, dah tau kaan kalo ada adegan-adegan Rangga dan Cinta ketemu lagi setelah 14 tahun, ketemuannya di Jogja pula, terus ada adegan jalan-jalan, berduaan, di mobil, dll dll.. Meskipun ga keliatan di trailer, kira-kira apa ya status percintaan Cinta n Rangga? Sebuah film pasti ada konfliknya biar menarik dong. Kalo misalnya Cinta n Rangga lama ga ketemu, terus ketemuan lagi, kalo statusnya sama-sama single mustinya ga masalah dong? (alias ga ada konflik pembentuk cerita )  Berarti.... kemungkinan besar... minimal salah satu dari mereka udah punya hubungan cinta dengan seseorang yang lain? Nah ini mungkin masuk kategori VERY VERY MILD SPOILER (ALERT!)... Yang mau aku bahas adalah tentang status Cinta dan Rangga sebelum mereka ketemuan di Jogja.. Hayuk lanjut kalo mau tau :p tenang kalaupun dianggap spoiler, ini very very mild spoiler karena ini udah diceritain di awal film.


Judul alternatip gara-gara keseringan baca tips menulis judul post viral

MENDADAK RAGU JELANG PERNIKAHAN? BUKAN CUMA DI AADC2, HAL INI TERJADI JUGA DI 3 KISAH LAINNYA! (PLUS KISAH NYATA!)


Thursday, 5 May 2016

Percakapan di Mushala

(Ditulis kemarin malam)
Siang ini menjelang ashar di mushala kampus nggak sengaja saya ketemu dua teman saya. Mahasiswa PhD juga, mereka baru mulai Maret kemarin. Emak-emak juga, yang satu anaknya sudah dua, yang satu lagi kayak saya, baru satu. Kayaknya mereka ini tak terpisahkan deh. Kebetulan mereka studi di jurusan yang sama, dengan beasiswa yang sama, dan tinggal di rumah yang sama :D . Saya cukup sering lihat foto-foto mereka di medsos, jalan-jalan kesana... renang kesini... makan-makan kesana... selfie dan wefie...

"Duh, jalan-jalan teroooos... Kalo kata temenku itu honeymoon periodnya PhD. Tahun pertama. Entar tunggu deh masuk tahun kedua." kata saya ala-ala senior gitu.

"Biar capek mbak. Kalo gak gitu ingat anakku terus..." jawab yang satu.

"Apalagi aku, anakku dua..." jawab yang lain.

Ces.... mendengar ini hati saya jadi gimana, gitu rasanya...

Sunday, 1 May 2016

Bekal Makan Anak untuk Sekolah

Hidup emang katanya proses belajar tak henti-henti yes.. Kalau ibaratnya beberapa tahun yang lalu aku masih tahap pemula alias belajaran untuk masak-memasak, sekarang ini lumayan lah, mungkin udah level intermediate mendekati advanced yes?  Yang dulu mau masak pusing mikir dulu mau masak apa terus sibuk liat contekan sekarang mah ga usah... Kan udah apal... Nah tapi di sisi lain sekarang aku memulai proses belajar untuk hal baru: bekal sekolah anak... Sejak hari pertama dia sekolah aku emang pengen bikin dokumentasi pernah bawain bekal apa aja. Kelak kalau levelnya dah advanced mungkin ya ga usah bikin gini-gini lagi kali ye... "Kan udah apal..." 

Kotak bekal bersekat

Dulu di post ini aku pernah cerita sedikit tentang kotak bekal Sistema ini. Namanya Sistema Lunch Cube, bentuknya emang kayak kubus. Kalau dibuka, ada kompartemen di sisi kanan dan kiri. Yang di sisi kanan dipisahkan lagi oleh satu sekat. Sebetulnya aku udah punya banyak kotak bekal tapi emang pengen punya yang bersekat untuk Hanif, karena di sekolah ada 3 kali waktu makan, yaitu Crunch and Sip (sekitar jam 10 lebih, khusus untuk makan buah / sayur), Lunch, dan Recess (disarankan buah). Jadi daripada ribet bawa banyak kotak, aku pengen Hanif cukup bawa satu aja. 

Oke jadi apa aja bekal yang aku bawain selama ini?

Bekal hari pertama: 4 sausage rolls, anggur, rice crackers.


Saturday, 2 April 2016

Kado untuk Laki-laki: Personal(isasi)

(judul apa itu? hahaha...)
Hebat.. tulis post berturut-turut dalam dua hari.. Karena waktu Subuh semakin mundur.. Belum lagi besok daylight saving time berakhir (alias: bangun, liat jam, dan putar jam balik 1 jam lebih awal -__- yeah). E tapi kemarin emang aku tertarik tulis-tulis tentang kado untuk cowok ini setelah baca post giveawaynya Dani. Tertarik ngelist kado-kado yang pernah aku kasih sekalian cari ide. Pengen baca-baca post yang ikutan juga untuk nambah ide, hahaha..

Jadi kalau menurutku, pertanyaan "kado apa yang paling pas dikasih ke cowok?" itu ya tergantung orangnya, yang ngasih dah dikasih :P. Aku sendiri bukan tipe yang pinter kasih kado gitu (barang / bukan barang, aku sama-sama gak ngeh xD), dan dibesarkan di keluarga yang ga ada kebiasaan kasih-kasih kado *makin parah xD*. Baiklah mari ambil contoh suamiku sekalian aku mau ngelist juga, hihihi :P. 

Friday, 1 April 2016

Kemarin, kado ultah spesial, dan lari-lari

Yak fenomena menjelang winter yang selalu terulang: bangun waktu Subuh biasanya, ternyata  belum Subuh karena semakin lama matahari terbitnya semakin mundur (...yang juga selalu memunculkan pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut macam "kenapa waktu ibadah didasarkan pada matahari, lha yang dekat kutub atau di luar angkasa gimana.... dst dst...")  Ya syukurlah malah bisa curi-curi waktu tulis cerita tentang kemarin.

Kemarin
...Jadi kemarin ini hari yang cukup spesial, karena *drum roll* *jeng jeng* bapak Ipan mengumpulkan thesisnya!  Oya jadi di Ostrali sini, mahasiswa master / doktor (apa bachelor juga ya?) ga ngalami yang namanya "sidang" untuk menguji hasil risetnya / thesisnya / disertasinya. Pengujiannya dalam bentuk review thesisnya itu oleh 2 - 3 orang reviewer dan hasil pengujiannya pun disampaikan dalam bentuk tertulis. Hasilnya? Bisa dinyatakan layak lulus langsung, atau ada revisi (bisa minor atau major) atau harus mengumpulkan ulang (baca: garap lagi) atau ditolak (amit-amit). Jadi yang namanya kumpul thesis tidak sama dengan selesai / lulus S2 / S3 ya... *catet*