Wednesday, 15 July 2020

Keluar dari gua

Post kali ini tanpa hashtag #inthetimeofcorona.
Saya, seperti mungkin banyak orang lain, akhirnya menyadari bahwa akan lebih lama lagi kita hidup #inthetimeofcorona. 
Walaupun saya sebagai orang yang lebih berat ke realistis-pesimis ketimbang optimis buta, saat itu tidak ikutan post status semacam "Jika wabah ini berakhir, saya akan XXXX bareng YYYY, SSSS bareng TTTT, dan sebagainya.
Saat piknik kantor yang direncanakan pertengahan Maret ditawarkan untuk diundur ke bulan Juli, saya yang bertanya, "Paling lambat bisa diundur sampai kapan ya?" karena saya belum yakin apakah di bulan Juli kami bisa piknik normal seperti biasanya.

Di pertengahan Juli ini berarti tepat 4 bulan saya tinggal di rumah. Suami kadang-kadang masih ke kantor. Hari ini dan insya Allah minggu depan, saya harus berangkat ke kantor karena ada acara besar. Karena nyaris tidak pernah keluar dari gua, makanya saya agak "kurang pengalaman" keluar rumah, hahaha.. Buka pintu masih pake tangan (suami saya pake kaki), tidak bawa pulpen siap pakai (suami saya siap, karena harus rutin isi log book keluar masuk). Lalu seperti yang juga dialami banyak orang, tubuh saya tidak terlatih. Walaupun selama di rumah setiap hari masih nyepeda antar anak berangkat-pulang ke eyangnya, lalu jika libur juga menyempatkan olahraga bareng anak, tidak ada pengganti gerak tubuh yang biasanya tak sengaja dilakukan saat di kantor (jalan, naik turun tangga). Jadilah celana sempit semua, lalu ini tadi saya naik ke lab saya di lantai 3 saja sudah ngos-ngosan dan pengap karena ditambah pakai masker. 

Tapi hari ini excited juga, karena bisa bertemu dengan rekan dan teman yang sudah lama banget nggak ketemu. Walaupun pasti pakai masker semua, haha...

Semoga lancar dan sukses rencana baik yang telah ada, semoga semua sehat dan aman, amin.... 

Saturday, 23 May 2020

Hari terakhir puasa #inthetimeofcorona

Tak terasa hari ini hari terakhir puasa. Sudah sebulan kami menjalani Ramadhan di masa Corona, di rumah saja. Suami saya dulu pernah bilang, dulu banget, saat orang-orang masih berbicara tentang "nanti saat wabah selesai" dan yang di Facebook sesekali membagikan tulisan "saat semua ini selesai, saya akan jalan-jalan bersama *ngetag teman*, makan bersama *ngetag teman lain*, dan lain-lain...", iya, dulu itu suami saya bilang "dan semua tak akan sama lagi.". 

Saat dia lontarkan perkataan itu di whatsapp group kantor, ada yang tanya, tak akan sama lagi bagaimana?

Di saat-saat ini kita mungkin telah tersadarkan, bahwa wabah ini mungkin belum akan selesai, masih lama. Di negara lain, sudah tampak hal-hal baru yang membuat "Semua tak akan sama lagi.". Di tempat-tempat umum sudah banyak sekat transparan yang memisahkan orang. Lapangan rumput dilingkari supaya orang-orang berjarak.

Sejarah sedang ditulis, dan ternyata saya dan suami jadi bagian dari sejarah itu di usia menjelang 40 tahun. Anak sulung saya di usia 9 tahun. Si bungsu di usia 3 tahun. Sejarah sedang ditulis, karena, tidak seperti biasanya, ketidaktahuan dan ketidakpastian begitu besar kadarnya, lebih besar daripada biasanya.

Bagaimana kami nanti akan hidup?
Alhamdulillah pertanyaan keluarga kami hanya seputar hal-hal yang terkait kenyamanan saja, sampai saat ini.
Padahal banyak yang pasti khawatir dengan pemenuhan kebutuhan dasar karena pekerjaan atau usahanya babak belur.

Lebih jauh lagi, apakah memang kami bisa hidup, maksudnya, lolos dari maut, mengingat penyakit yang mudah menular ini juga mudah menggeret orang kepada maut?

Wednesday, 13 May 2020

Dua penolakan di bulan puasa #inthetimeofcorona (5)

Hampir dua bulan menjalani masa isolasi di rumah, ternyata serial ini baru masuk nomor lima ya... :D

Walaupun ini judulnya mengandung frasa "dua penolakan", tentu saja saya tergoda untuk menulis bagaimana wabah Covid 19 telah mengubah bagaimana orang-orang menjalani Ramadhan kali ini.

Mungkin sebenarnya tak perlu ditulis lagi di sini bagaimana Ramadhan yang biasanya adalah gabungan hiruk pikuk berbagai aktivitas:


catatan: post ini ternyata terputus, dan baru bisa dilanjutkan lagi di 1/3 terakhir bulan Ramadhan (!)

lanjutan....

Dalam rangka melanjutkan penjelasan tentang dua penolakan di judul: penolakan pertama  berhubungan dengan satu konferens di USA, dan penolakan kedua berhubungan dengan dana penelitian di tempat kerja. 

Tapi karena postnya terlanjut terputus, ya sekarang keinginannya bukan cerita tentang itu lagi, hehe.

Ini lho, sejak beberapa hari pertama Ramadhan, saya sudah ingin mendokumentasikan seperti apa Ramadhan di masa corona ini.

Kami tidak tarawih ke masjid. Setiap hari sholat berjamaah di rumah. Kadang Subuh kadang Maghrib. Seringnya Isya dan tarawih. Bapak-bapak "dipaksa" jadi imam terus menerus karena corona. Paling tidak saya sudah lihat tiga meme tentang ini :D.

Tuesday, 7 April 2020

At-home online learning #inthetimeofcorona (4)

Di masa wabah Corona ini semuanya dipaksa berubah. Tidak bisa tidak. Dalam tulisan kali ini, tentang kegiatan belajar mengajar. Saya mengalami pemaksaan perubahan ini dari dua sisi: sebagai pengajarnya, dan sebagai wali murid yang diajar.

Yang berbeda, yang saya ajari telah berusia dewasa (rata-rata 18 - 25 tahun) yang mustinya telah dapat membuat rencana dan keputusan sendiri. Perubahan dari kuliah konvensial ke pembelajaran di rumah masing-masing menurut saya tidak terlalu berbeda:
*Ya tetap harus belajar mandiri di luar kegiatan belajar mengajar dengan dosen.

Yang berbeda dan mungkin dapat mempengaruhi keberhasilan pembelajaran:
*Sekarang jadi nggak bisa diskusi/belajar langsung dengan teman.
*Ada kendala koneksi internet, mungkin nggak punya anggaran untuk beli kuota internet atau koneksi internet tidak mendukung. Mustinya kampus memberi kompensasi berupa kuota internet ini atas perubahan pembelajaran menjadi online.

Nah, yang repot kegiatan pembelajaran untuk anak-anak yang usianya masih kecil-kecil. Belum bisa diharapkan nyadar sendiri kalau ini tuh sekolah di rumah, bukan libur. Nah karena saya juga guru, saya bisa membayangkan, bahwa mungkin pihak sekolah pun merasakan kewajiban menyelesaikan materi yang seharusnya dikuasai murid. 

Sekarang ini memasuki minggu keempat "sekolah di rumah". Pihak sekolah juga masih meraba-raba, metode apa yang paling baik dan nyaman bagi pihak sekolah dan keluarga murid. Dua minggu pertama, setiap hari ada tugas / materi yang harus dikuasai. Saya baru buat jadwal kegiatan untuk si sulung di minggu kedua: dalam sehari harus ada 3 kali kegiatan belajar, bisa bikin PR atau belajar mandiri. 

Masuk minggu ketiga, mungkin banyak orang tua yang protes. Saya yakin pasti masih ada yang ayah ibunya kerja di luar rumah. Sehingga di minggu tersebut materi dikurangi sama sekali, diganti the so-called life skill. Saya sendiri yang menambahi materi, tapi sekali saja dalam sehari, bukan tiga kali lagi.

Di minggu keempat ini penyesuaian lagi, ada tugas lagi harian. Di hari ini juga ada perdana sekolah online dengan Zoom. Si sulung saya semangati untuk ikut, walaupun bener-bener dia nggak mau nyalakan video atau audionya. 

Btw, post ini kok alurnya nggak mengerucut ke bagian akhir ya, haha.. Saya sebenarnya cuma mau ngeshare ini, bikin ngakak abis, wkwk.

Dapet dari Facebook.







Wednesday, 1 April 2020

In the time of Corona (3)

Di tengah minggu ketiga karantina.
Ini ketiga kalinya pula saya memberi judul blog post "In the time of Corona". Selain rasa penasaran - rasa penasaran yang muncul lalu, kesadaran saya mulai bertambah bahwa wabah ini adalah sesuatu yang bisa jadi sejarah besar. Hampir semua negara terpengaruh. Sekitar sekian juta orang terpaksa dikarantina di rumah. 

Saya baru sadar selama dua minggu ini hampir tidak pernah menyisir rambut :D. Lha wong saya sisiran biasanya di mobil saat berangkat ke kantor kok. Selama karantina ini sesekali keluar untuk ke toko tetangga dan ke rumah orang tua, naik sepeda, ya nggak sisiran. Kemarin juga sempat ada ide, ingin potong rambut pendek banget, biar irit shampoo dan terasa praktis, karena rambut saya yang cepat panjang ini sekarang sudah mulai mengganggu saat saya beraktivias.

Lalu jadi nyadar: iya ya, ini berarti memasuki minggu ketiga saya dan suami serta si sulung nggak berinteraksi dengan sekitar seperti biasanya. 

Tuesday, 24 March 2020

In the time of Corona (2)

Hari kesembilan karantina...

Karantina akibat wabah ini masih terasa "nyaman" dan "homey" bagiku. Di minggu kedua ini aku mulai menggunakan jadwal untuk si sulung. Pagi olahraga, lalu mandi, lalu aktivitas seputar sekolah, lalu main game, aktivitas sekolah lagi, makan istirahat, selepas mandi sore aktivitas sekolah lagi. Banyak orang merasakan perubahan karena wabah ini.



Sebuah perspektif yang mengharukan. Mungkin itu yang dirasakan si sulung. Mendapatkan "liburan" yang sepantasnya dia dapatkan. Mendapatkan waktu bebas yang sepantasnya dia dapatkan. Semoga engkau terpuaskan nak. Aku jadi ingat, dan sekalian memberitahu yang belum tahu, selama kami di Sydney dulu, salam setahun pelajaran di SD, ada 3x libur sekolah 2 minggu dan 1x libur 1.5 bulan.

Ada satu lagi gambar di Facebook yang belum bisa kutemukan lagi untuk kutaruh di sini. Gambar bumi yang kelelahan dengan polusi, global warming, dll, dan tulisan: "Maybe we are the virus, and covid 19 is the earth's immune system?"

Saturday, 21 March 2020

In the time of Corona

Post ini ditulis di hari Sabtu, hari keenam mengikuti anjuran karantina mandiri. Masa-masa ini bagiku terasa sangat tak pasti. Apa yang terjadi di hari berikut tidak bisa dengan mudah diprediksi. Kapan bisa kembali ke sekolah dan ke kantor lagi? Tidak tahu. IPB konon sudah menyatakan tidak ada aktivitas di kampus sampai Mei (kudengar dari wa grup). Mahasiwa bimbingan bertanya, kapan bisa ke lab lagi? Kujawab tidak tahu. Pasti banyak juga pekerjaan dan penelitian di lab yang tak bisa dengan mudah dipindahkan aktivitasnya ke rumah.

Minggu ini berjalan tanpa strategi tertentu terkait belajar mengajar si anak besar. Jadwal kasaran sudah ada dan berjalan alami. Pagi saatnya olahraga. Setelah itu mandi dan mengerjakan 1 tugas. Baru main game jatahnya yang masih 1 jam 10 menit di hari kerja. Setelah itu mengerjakan 1 tugas lagi. Lalu makan dan istirahat siang. Sejak dirumahkan ini dia sering tidur siang. Sore bangun, mandi, dan mengerjakan tugas lagi. Hari ini perlu membuat jadwal tertulis bersama-sama si anak. Supaya kelihatan alokasi waktu untuk kegiatan belajar mengajar sebenarnya berapa lama.

Jumat kemarin ujicoba kuliah online jam 9 pagi. Yang direncanakan sebentar saja ternyata molor menjadi 1.5 jam. Selesai jam 10.30, sudah menjelang siang. Itu pun sekitar jam 10 lebih terpaksa sambil ditingkahi kedua anak karena Bapaknya ada urusan ke kantor sebentar. Kelar kuliah online ternyata capek juga, mungkin posisi duduk yang kurang ergonomis. Walhasil rencana uji coba kuliah online berikutnya jam 13.30 ditunda dulu. Selain capek, otak masih belum siap bekerja terus menerus memikirkan beberapa hal bersamaan, seperti apa menu masakan siang itu.

Rutinitas naik ke lantai 2 untuk mencuci di mesin cuci yang sudah berjalan seminggu ini pun stop dulu hari ini. Walaupun hanya begitu kok capek juga ya. Pagi ini biarlah ART cuci manual seperti biasa, toh dia tidak masak, karena aku sudah kehabisan ide masak apa lagi untuk sarapan dan makan siang hari ini.

Sampai kapan masih bisa pesan makanan delivery? Entah sampai kapan, mudah-mudahan masih bisa terus. 

Sampai kapan kuat mengasuh 2 anak sendiri tanpa titip Eyang, padahal beban kerja masih tetap dan ditambah beban kegiatan belajar dari sekolah? Entah juga, mungkin sampai Eyang kung sembuh dari batuknya. 

Apakah bisa puasa dan Lebaran seperti biasa? Entah juga. Aku sudah kepikiran memberitahu ke mahasiswa bimbingan (yang dulu rencana mudik) dan juga ART: siapkan diri saja untuk tidak bisa mudik. Siapa yang tahu.

Monday, 16 December 2019

Screen Time Hanif

Ternyata post sebelumnya juga "mustinya masuk di gratitude blog" tapi lagi-lagi dirasa bakal panjang jadilah ada di sini hehe. 

Terakhir kali membahas screen time Hanif adalah saat ke dokter tumbuh kembang Agustus lalu. Waktu itu kami tanya, bagaimana sebaiknya, screen time masih diberi atau distop sama sekali? Saat itu Hanifnya masih main game (tapi aku lupa berapa lama per hari). Dokternya bilang, pasti ada pengaruh screen time terhadap perilakunya. Tapi karena sudah terlanjur, ya jangan stop total. Sesuai rekomendasi asosiasi pediatri (??? aku lupa dan males ngecek :p), maksimal screen time 2 jam per hari. Jadilah sejak saat itu ya begitu itu, sehari 2 jam. 

Dengan screen time selama itu, waktu luang Hanif selain ngegame ya jadi terasa sangat singkat. Akhirnya sebulanan ini aku coba rayu-rayu dia. Awalnya screen time dikurangi dikit-dikit. Aku lupa waktu itu dikurang jadi berapa... jadi 1 jam 45 menit kali ya?

Setelah seminggu, dirayo-rayu lagi untuk dikurangi. Kayaknya jadi 1 jam 30 menit. Oya, weekend tetep maksimal 2 jam ya.. Seminggu lewat, dirayu-rayu lagi. Aku sudah lupa xD kayaknya jadi 1 jam 15 menit. Trus mentok di 1 jam 10 menit. Aku sebetulnya request kalau weekdays 1 jam aja screen time nya. Dan alhamdulillah sekarang ini sudah di angka 1 jam kalo weekdays. Kadang kalo dia nanggung dia nagih "lho screentime ku kan 1 jam 10 menit bukan 1 jam" yaaah diizinkan.. tapi ini jarang. Seringnya ya 1 jam saja.

Etapi sekarang gara-gara adiknya sering disetelin tv kalo makan (karena dengan cara itu dia mau makan, -__-) si Hanifnya juga jadi ikutan liat. -___-

Tapi pokoknya screentime yang tinggal 1 jam saat weekdays ini sangat bermakna lho. Kegiatan Hanif jadi macem-macem sekarang. Apalagi ini kan barengan dengan dia ujian / evaluasi, jadi pulangnya juga lebih awal. Sekarang dia ya gambar, main sendiri atau sama adiknya, main board game. Sementara ini aku biarkan dulu 1 jam ini, soalnya ga yakin apakah bisa dikurangi lagi hahaha... 

Wednesday, 27 November 2019

Laporan hari ini

Mustinya masuk gratitude blog, tapi kok agak panjang ya haha..

Alhamdulillah, hari ini berjalan cukup lancar dan produktif:

*Pagi berangkat yang sudah pasti lebih ribet daripada biasanya, karena hari ini Fikri dititipkan ke tempat penitipan anak. Jadi harus nyiapkan makanan Fikri juga. Diperparah mereka berdua yang bangun agak siang, jadi musti sarapan di mobil yang berarti bawa2 sarapan n tetek bengeknya juga.
*Etapi hari ini bikin ayam goreng tepung yang resepnya beda lagi dengan yang sudah-sudah.. Pengennya bikin kayak chicken tempuranya Steggles. Akhirnya pake resep tepung all purpose, susu, baking soda, bumbu2 bubuk2an itu lah. Sukses. Yang dibawakan ke Hanif, habis (sarapan di mobil dan makan siang di sekolah. Fikri juga idem. Makanan nasi, bobor bayam, dan ayam tepung Fikri malah habis tandas di TPA). 
*Tujuan menitipkan Fikri di TPA, yaitu menyiapkan materi kuliah besok, tercapai. Beruntung juga Bapak R ada di kampus jadi at least tiga kali aku tanya2 ke dia, hehe..
*Gara2 ibu T posting foto makan di Yoshinoya, aku jadi ngidam makan di Kimchi Go, hehe.. Kelar Irfan ngajar jam 1, langsung meluncur ke sana. Niat awal sekalian ke Alang2 zero waste, ngga jadi. Kapan2 saja.
*Eh iya sampai lupa cerita, Fikri ga mau ditinggal di childcare, haha.. Begitu masuk parkiran mobil dia langsung bilang "mau pulang...". Untunggggg sudah pengalaman anak pertama ditinggal di childcare, hahaha. Tapi tadi agak lama di situ, 20 menitan kali ya? Akhirnya ditinggal dalam keadaan nangis kejer. Pas dijemput tapi ya oke2 aja, makanan yg nasi habis, yg roti hbs 1. 
*Oya pas makan di Kimchi Go tadi nyempetin beli Curly Fries nya A&W, beli 2. Trus pulang beli 2 croissant dan Garlic Naan di toko roti yang skr lagi heboh itu (TLJ, wkwk). Begitu jemput Hanif, dua anak ini langsung ngunyah curly fries sendiri2, rebutan, dll. Sudah kuduga Hanifnya minta lagi, untung mau makan croissant dan habis loh.
*Sampai rumah ga masak karena Ipan mau pergi. Akhirnya Hanif disuapi bobor bayam (yaaaaa masih disuapin ya kalo sayur2 yg dia ga suka gitu). Etapi makannya banyak banget, 3 piring, alhamdulillah... Mau tidur masih ngeluh lapar, akhirnya mau dikupasin apel 1/2.

*Apa lagi ya???? 

Thursday, 21 November 2019

Ibu Keluar Kota

Hahaha setelah beberapa episode Bapak Keluar Kota, kali ini episode Ibu Keluar Kota.

Setelah coba meninggalkan zona nyaman berupa pergi keluar kota meninggalkan bapak. Hanif, dan Fikri, tapi tanpa menginap, sekarang saatnya latihan pergi agak lama. Menginap dua malam. 

Aku naik pesawat yang mendarat di Halim, karena berdasarkan google maps, jarak Halim ke lokasi sekitar 12 km, sedangkan dari Cengkareng 29 km :D. Apalagi setelah googling-googling sejenak, sudah ada counter Grab resmi di situ. Woke. Sempat woro-woro di grup wa, siapa tahu ada yang bareng. Ada Ibu L dari K yang mendarat di jam persis sama. Lalu ada lagi yang kasih tau, Bapak J juga mendarat jam segitu. Lha Bapak J ini dari satu kota alias satu kantor sama aku, ya kemungkinan besar pesawatnya sama lah, wkwk. Menjelang berangkat kontak-kontakan singkat, oke nanti janjian ketemu di bandara.

Di bandara keberangkatan, ngga ketemu sama Bapak J. Naik pesawat. Pesawat nyampe lebih cepat 10 menit, wkwk. Setelah datang barulah Bapak J telpon. "Jadi bareng ya bu?" "Iya pak." "Ibu yang mana ya?" "Saya di... ehm... saya di...." *sambil tolah toleh mencari spot yang eye catching.
"Saya di deket ondel-ondel pak..." 
-_-
xD bahaha... mungkin begitu ya rasanya orang2 yang mau kopi darat sama orang yg ketemuan di tinder dunia online? Celingak celinguk? xD

Pesawat ibu L tampaknya sudah mendarat juga. Kami ke counter Grab mau tanya-tanya. Sampai sana disambut petugas yang bilang kalo lagi rame, jadi dari tadi orang-orang belum dapet Grabcarnya. Woke, gantian Pak Jay, eh, pak J, yang ke counter taksi pake karcis. Eh kok katanya harganya 250 ribu?! Lha kok mahal banget. Mulai galau antara naik taksi argo (keliatan antrenya panjang banget, udah gitu, kadang kalo di Jkt sering agak2 berprasangka gimana naik taksi argo) atau mbuh piye. Akhirya telpon sepupu2 penghuni Jakarta: Arum dan Nanda (lho kok ditulis lengkap bu? ga pake inisial, wkwkwk). Arum mulai ngechat, pake Go Bluebird aja. Oke. Mau tanya Arum lebih lanjut. Telpon aja. Tuuuuut..... Tuuuuut... Pas telepon tersambung, tampaklah di beberapa meter di depan sosok teman jaman SMA.

Eeeh, itu kok kayak Fitria ya?
Tapi kok punya anak perempuan? Anaknya kan dua cowo semua?! 
Mereka lagi nunggu bagasi.
Pas keliatan anak sulungnya sama Bapaknya, 90% yakin itu Fitria. Waaaaah tapi mereka dengan cepat melaju ke pintu keluar @_@

Di tengah-tengah telpon Arum, akhirnya manggil-manggil Fitria, dan bener, hahaha! Langsung peluk-pelukan, wkwk. Maaf ya rum, telponnya jadi ga karu2an. Akhirnya aku tutup. Heboh ya. Tukar kabar sebentar. Ternyata kami satu pesawat, walah cuman takdirnya tadi nggak ketemu di bandara keberangkatan. Fitria bilang, lho aku biasa naik Grab, udah nge-Grab aja, dengan logatnya yang sekarang logat Jakarta abis xD. Woke. 

Singkat cerita, 30 menit lebih akhirnya koper ibu L keluar juga dan kami langsung gercep manggil Go Bluebird atau Grab. Ga ada yang bisa. Yang Go Bluebird dapat 2 kali tapi dua-duanya minta dicancel. Hmm... Ya sudah, naik taksi argo saja, toh bertiga ini. Naik taksi, duduk manis, sopir tanya, "Kemana pak?" "Ke XXX pak." (daerah Sudirman) "Waaaah, saya tadi habis dari sana, 2 jam baru nyampe sini, sampe terpaksa lewat jalan tikus tadi."
-_-
Hadeh.

Etapi ternyata, cepet kok, 30 menitan kurang malahan kali ya. Rasa-rasanya itu karena arus balik ya. Teori bu Tanjung (xD), kalo pagi dari Hotel XXX di Sudirman ke Halim itu ngelawan arus. Berarti kemarin kami sore-sore ya sama, lawan arus juga. Syukurlah. Total habis 70 apa 60 ya, tambah tol 11 ribu, orangnya minta nambah lagi mbuh apa 10 ribu. Lumayan bagi bertiga. 

Pas di acara ketemu-ketemu temen, ternyata yang pada mendarat di Cengkareng tuh karena mereka kapok turun Halim, hahaha... Tapi aku tanya, pagi atau sore mendaratnya? Dia bilang pagi. Oke, berarti ga lawan arus ya kalau pagi. 

Nah besok mari disambung ceritanya. Wkwkwk.